CEO Keke Busana, Rendy Saputra: Gagal di ITB Sukses di Bisnis

Rendy Saputra, CEO Keke Busana dan produser film "Cinta Dua Kodi" (Foto: HW)
_

Gaya bicaranya meledak-ledak. Ia sangat yakin apa yang dikatakannya benar. Mereka yang mendengar karuan terpukau. Seolah dia sudah berhasil menaklukan Indonesia dengan bisnisnya, seperti seorang Liem Sioe Liong atau Chairul Tanjung yang lebih muda.

Gayanya yang “arogan” itu muncul ketika ia memperkenalkan perusahaan film yang baru didirikannya, Inspira Pictures, dan film yang akan tengah diproduksinya, Cinta Dua Kodi. Di depan seribu pasang mata lebih, di atas panggung yang cukup tinggi, dia berbicara dengan berapi-api.

“Inspira Picture adalah PH yang serius. Ini film pertama bagi saya tidak mau diremehkan! Saya anak muda yang ambisius, tidak mau diremehkan! Kita hadir syukuran film di sini, banyak yang bertanya Mas Rendy syukuran film di XXI seperti apa? Saya punya konsep di hari pertama tayang di XXI, kita akan freesale di 40 bioskop, kita akan penuhi bioskopnya dari pagi sampai malam. Kita akan pecahkan rekor MURI. 500 ribu penonton, 700 ribu penonton di hari pertama.!” Paparnya penuh semangat.

Anak muda gempal berkacamata itu kemudian melanjutkan lagi, sementara seribu lebih pasang mata terpukau dan tidak bisa berkata-kata.

“Di otak saya saya sudah tahu berapa layar di Jabodetabek. Di kota mana, ada berapa layar? Dan saya sangat grounded sekali! 10 juta penonton dari film Cinta Dua Kodi ini sudah ada di kepala saya. Dan itu film ini diluncurkan pagi-p;agi sudah ada di Indonesia Morning Show. Film Indonesia akan kedatangan produser gila namanya Rendy Saputra. Saya akan putar film ini di mana pun. Saya ikut festival di mana pun, dan saya akan injak red carpet!”

Siapa anak muda ini? Terkesan arogan, tetapi terkesan mampu mempertanggungjawabkan setiap kata yang ke luar dari mulutnya. 

Anak muda itu adalah Rendy Saputra, Chief Executive Officer CEO busana wanita dan anak-anak muslim dengan merek Keke Busana. Dari penelusuran data yang ada di internet, Rendy lahir di Banjarmasin, pada tanggal 1 Juli 1986. Setelah sukses “menggembalakan” Keke Busana itu Rendy kemudian memutuskan membuat perusahaan film yang diberinama Inspira Pictures. Sebelum membuat film cerita, dia mencoba membuat film dokumenter tentang pendiri Keke Busana, Tika Kartika, yang diberninama Dua Kodi Kartika.

“Menurut saya dan keputusan saya masuk ke dalam film Cinta Dua Kodi adalah keputusan yang sadar, keputusan yang bertenaga, dan keputusan untuk memberi nilai-nilai kehidupan yang lebih tinggi lagi. untuk film Indonesia,” kata Rendy yang bertekad untuk meraih Piala Citra melalui filmnya, serta awar-award dari festival film lainnya.

Seperti dikatakan diawal, bahwa dia adalah seorang yang ambisius, Rendy menargetkan filmnya ini akan disaksikan oleh 10 juta penonton – sebuah jumlah yang belum pernah dicapai oleh film apa pun yang pernah diproduksi di Indonesia. Film terlaris sepanjang masa sampai saat ini adalah Warkop Reborn, Jangkrik Boss Part2 produksi Falcon Pictures. Jadi kalau Rendy menargetkan filmnya meraih 10 juta penonton, boleh percaya boleh tidak.

“Satu hal saya meyakini prinsip bisnis, sebuah target yang tidak boleh diedit sama sekali. Saya berbisnis dan saya meyakini prinsip dan pikiran. 10 juta bukan angka kesombongan tapi angka harapan kebaikan,” kata Rendy seraya mengutip ayat suci yang artinya bila kita meminta, Allah akan memberikan.

“Kenapa enggak minta banyak. Waktu saya coaching di Malang, saya sudah mengatakan 4 juta penonton Laskar Pelangi, dan itu sudah dirasakan oleh produsernya. Lalau coach Fahmi bilang film apa yang paling laris. Saya bilang 4 juta Laskar Pelangi. Lalu berapa penonton film yang akan kamu buat, 1 juta aja udah bagus. Dia bilang nista kamu. Kalau kamu jadi murid saya nista 1 juta. Begitu saya balik ke Bogor Warkop sudah dapat 7 juta penonton!”

Rendy bukan asal njeplak. Dengan tegas dia mengatakan punya konsep dan strategi untuk memasarkan filmnya. Dia mengaku sudah memegang data biokop, data penduduk termasuk para pendatang sesuai data BPS. Untuk itu dia dan timnya telah membuat website khusus yang akan mendata dan berhubungan dengan calon penonton filmnya.

“Sehingga kawan-kawan sekalian tahu bagaimana promosinya, bahwa film ini harus ditonton. Saya harus menabung 1 juta eksemplar dari novelnya Asma Nadia dan kita harus tahu siap ayang tergarik namanya siapa, emailnya apa nomor hpnya berapa, dan di mana dia nonton bioskop. Saya sudah siapkan webnya,” kata Rendy sambil menyebut nama Asma Nadia, penulis yang membuat novel Cinta Dua Kodi

Menurutnya, jika orang tertarik untuk menonton, maka dia akan masuk ke Cintaduakodi .com. Mereka akan memasukan nama. Nama itu yang akan ditabung, untuk kemudian dihubungi.

“Saya serius untuk 10 juta penoton, saya serius untuk 1 juta novel Asma nadia, saya serius untuk mengadakan roadshow dan saya serius untuk kemudian menghadirkan mitra-mitra sponsor, dan saya serius untuk mengirimkan sinyal ke seluruh pihak-pihak, sineas di Indonesia bahwa Inspira Pictures serius untuk berbisnis film,” tandasnya.

Mengutip kata-kata orang terkaya di Cina, Jack Ma, Rendy mengatakan, “Kalau kamu punya 1 juta dolar, orang akan percaya sama kamu. Uang adalah bentuk kepercayaan masyarakat. Hari ini saya bertemu dengan 1000 orang peserta SBDKK dan saya tidak mungkin berdiri di sini kalau misalnya jutaan potong bajunya (Keke Busana) tidak diiyakan oleh market, dan saya tidak bikin film kalau kalau dokumenter (Dua Kodi Kartika) tidak direspon dengan baik. Jadi film ini punya siapa? Film ini punya Anda orang-orang baik.”

Terus terang Rendy mengatakan dirinya memilih provit, hasil dari benefit . Itu yang diyakininya.

“Pada saat kita meninggikan hidup manusia, melayani manusia, pasti profit hadir. Rumah sakit yang baik adalah yang melayani pasien dengan baik, restoran yang hebat adalah yang membahagiakan pengunjung, makanannya cepat datang. Itu konsep. Maka dari itu ketika saya masuk ke dunia film, hanya satu konsep dalam diri saya, filmnya harus memberikan sesuatu, menghibur iya, mentenagai iya. Dan setelah saya banyak berbicara dengan banyak orang, saut hal isyu perempaun ini luar biasa.”

Lantas siapakah sebenarnya pria ini? Seperti disebutkan di awal, dia adalah lelaki kelahiran Banjarmasin, 1 Juli 1986. Dia seorang pengusaha muda yang sukses menjadi Chef Executive Officer (CEO) di perusahaan busana muslim ternama yang bernama KeKe Busana dibawah bendera Kinaya Jaya yang sekarang memiliki omzet hampir Rp 24 milyar dan berhasil menerbitkan karangan buku setebal 282 halaman yang diberi judul “Dua Kodi Kartikaâ€.

Hal tersebut dijadikan salah satu strategi demi memperkenalkan produknya ke pasaran, ada juga strategi lain yang digunakan Rendy yaitu rajin mengadakan road show seminar di 40 kota untuk mengembangkan bisnis KeKe Busananya. Selain itu juga strategi marketing yang digunakan KeKe Busana yaitu menjadi sponsor di ajang Pesta Wirausaha Komunitas Tangan Di Atas pada 3-5 April 2015 di TMII.

Rendy pernah mengalami Drop Out (DO) di semester 3 Jurusan Perminyakan Institut Teknologi Bandung. Namun itu tidak membuatnya putus asa. Ia berusaha bangkit membangun bimbingan belajar dan merintis cita-citanya sebagai seorang pengusaha.

Ketika berumur 21 tahun, Rendy memutuskan untuk segera menikahi seorang wanita yang usianya terpaut empat tahun lebih tua. Dimulai dari situ Rendy memulai menakhodai dan membangun usahanya hingga besar dan berkembang seperti sekarang ini. Selain memiliki jiwa bisnis yang kuat pria yang sudah mempunyai tiga orang anak ini mempunyai keahlian public speaking yang tidak diragukan lagi kemampuannya.

Kembali ke dunia bisnis yang dijalaninya, KeKe Busana pintar menangkap prospek pasar yang sedang berkembang di Indonesia dengan awal produksi 2 kodi dan 2 model di tahun 1996. Kini usaha yang dilakukan dengan gigih terbayar sudah dengan produksinya yang mencapai hingga 300.000 potong busana muslim. Market utamanya adalah busana anak dan selebihnya dewasa.

Keberhasilan dalam membangun bisnisnya tersebut menurut owner KeKe Busana, Ika Kartika yang akrab dipanggil Bunda, tidak lepas dari peran semua pihak beserta stakeholders dan pemimpinnya, kunci dasarnya berasal dari sumber daya manusia handal, kekuatan jaringan dan kekuatan produksi dengan tagline “Beauty in Harmoniâ€.

Rendy lalu direkrut oleh Tika Kartika, pemilik Keke Busana untuk mengembangkan usahanya. Berawal dengan produksi 2 kodi baju dan 2 model, setelah 8 tahun dengan perjuangan yang gigih dan kerja yang sangat keras, KeKe Busana mampu memproduksi 300.000 busana muslim dengan jaringan distribusi yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan segmentasi 70% busana untuk anak-anak, 20% busana wanita dewasa dan 10% busana pria dewasa.

Salah satu strategi Kang Rendy memperkenalkan KeKe Busana adalah dengan menerbitkan buku “Dua Kodi Kartika”, yang berisi pengalaman sukses KeKe Busana memproduksi busana muslim dengan merek “KeKe”. Selain menerbitkan buku, KeKe Busana juga merupakan sponsor utama Islamic Book Fair ( IBF 2015) sebuah strategi marketing yang brilian.

Di tengah kesibukannya, Rendy juga mendirikan sekolah bisnis yang diberinama “Sekolah Bisnis Dua Kodi Kartika” (SBDKK), yang memberikan pengajaran melalui internet. Dia juga sering diundang untuk menjadi pembicara ke berbagai tempat.

“Saya diundang oleh Monash Scofield untuk berbicara di National Conference tentang pemberdayaan generasi muda. Bersama teman-teman RZ Overseas kita juga akan mencoba membuka pasar di Melbourne,” paparnya. Adapun beliau merupakan salah satu donatur RZ yang memiliki alasannya tersendiri mengapa ia memilih RZ, “RZ sebuah corporate yang punya budaya kuat, kedisiplinan, value, dan profesionalisme,” ucapnya. “Menurut saya RZ ini bukan sekedar institusi yang menghimpun zakat, tapi RZ juga membangun sebuah pendekatan zakat yang profesional melalui berbagai program-programnya, dan itu harus didukung,” lanjut kang Rendy.

Sebagai orang pertama di Keke Busana, Rendy tetap menghormati pendiri perusahaannya, Tika Kartika, yang kini selalu bersinergi dengan Rendy untuk terus memajukan perusahaan dan berbagi keberhasilan dengan banyak orang, terutama di Sekolah Bisnia Dua Kodi Kartika.

“Saya mengenal Bunda Tika sebagai wanita yang tidak banyak mengeluh dan sangat kokoh. Berkali-kali takdir ingin mematahkannya tetapi dia tidak memilih untuk patah,” kata Rendy tentang bossnya.

 

Share This: