Choel Didakwa Merugikan Negara Rp464,391 Miliar

_

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ungkapkan bahwa Terdakwa Andi Zulkarnaen Mallarangeng alias Choel, telah melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi.  Choel didakwa telah melanggar UU 71/1999 pasal 2 ayat 1 juncto pasal 18 tentang tindak pidana korupsi.

Jaksa membacakan dakwaan terhadap Choel, dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta Senin (10/4). Choel Mallarangeng adalah terdakwa dalam kasus korupsi pembangunan, pengadaan, peningkatan sarana dan prasarana Pusat Pendidikan dan Sekolah Olahraga (P3SON) Hambalang, Bogor, Jawa Barat,

 

“Terdakwa melakukan perbuatan melawan hukum, ikut mengarahkan pengadaan jasa meliputi pengadaan jasa perencana, pengadaan manajemen konstruksi, untuk memenangkan perusahaan tertentu yang bertentangan dengan Undang-Undang tentang keuangan negara,” kata JPU KPK Ali Fikri dalam persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (10/4/2017).

JPU  menguraikan kembali keterlibatan semua terdakwa kasus Hambalang seperti Wafid Muharam, Anas Urbaningrum, Mahfud Suroso. Choel, menurut JPU berperan sebagai pengendali proyek Hambalang. Hal ini terbukti dari kronologi keterlibatan kakak beradik Andi dan Choel dalam proyek Kemenpora tersebut.

Andi Mallarangeng selaku Menpora memperkenalkan adiknya Choel kepada Sesmenpora Wafid Muharram. Saat itu Andi mengatakan agar Wafid berkoordinasi dengan Choel untuk mengurusi semua proyek Kemenpora.

Choel  kemudian menyampaikan kepada Wafid Muharam selaku pemegang kuasa anggaran untuk melakukan lelang proyek P3SON Hambalang. Beberapa kali terjadi pertemuan antara Wafid Muharam, Choel dan Adhi Karya selaku kontraktor Hambalang. Choel sempat meminta uang operasional yang diperuntukkan untuk kakaknya.

“Terdakwa sempat meminta bantuan operasional untuk Andi Alfian Mallarangeng kepada Wafid Muharam, dengan mengatakan sudah setahun lebih jadi Menpora, tapi tidak mendapat apa-apa. Choel kemudian meminta dana 18 persen dari proyek P3SON untuk Andi Mallarangeng. Wafid Muharam menyanggupi dan memberikan dana tersebut yang diperoleh dari PT Adhi Karya,” ungkap JPU.

Dalam  dakwaan disebutkan,  terdakwa dan Andi Alfian Malaranggeng memperkaya diri sebesar Rp4 Miliar dan USD550.000.

Beberapa orang juga turut serta dalam kasus yang menyebabkan negara mengalami kerugian sebesar Rp464,391 Miliar, baik dari pihak Kemenpora selaku Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), hingga Anggota Dewan.

Nama-nama yang menerima aliran adalah Wahfid Muharam selaku Sekertaris Jendral Kemenpora sebesar Rp6.550.000.000, Deddy Kusnindar, Ketua Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sebesar Rp300.000.000, Anas Urbaningrum, Ketua Umum Fraksi Partai Demokrat sebesar, Rp2.210.000.000, Mahyuddin yang saat itu merupakan anggota DPR Fraksi Partai Demokrat sebesar Rp 600.000.000 dan Teuku Bagus Mokhamad, Kepala Divisi Konstruksi I PT Adhi Karya, sebesar Rp 4.532.923.350

Berikutnya Machfud Suroso, Direktur Utama PT Dutasari Citralaras sebesar Rp18.800.942.000, Olly Dondokambey, Pimpinan Banggar dari Fraksi PDI Perjuangan, sebesar Rp2,5 Miliar, Joyo Winoto, Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), sebesar Rp3.000.000.000, Lisa Lukitawati Isa, Direktur CV Rifa Medika, sebesar Rp5.000.000.000 dan Anggraheni Dewi Kusumastuti, PT Galeri Ide, Sebesar Rp400.000.000.

Nama lainnya Adirusman Dault, sebesar Rp500.000.000, Nanang Suhatmana dan sebesar Rp1.100.000.000.

Selain itu, dalam surat dakwaan juga disebutkan korporasi yang diperkaya dari proyek Hambalang, yakni: PT Ciriajasa Cipta Mandiri sebesar Rp 5,8 miliar, PT Global Daya Manunggal Rp 54,9 miliar, PT Aria Lingga Perkasa Rp 3,33 miliar, PT Dutasari Citra Laras Rp 170 juta 17. KSO PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya Rp 145 miliar serta 32 perusahaan/perorangan yang pemegang sub-kontrak KSO Adhi-Wika sebesar Rp 17,9 miliar.

Share This: