Choel Mallarangeng akan Hadapi Persidangan atas Kasusnya

_

Perjalanan Choel Malarangeng menuju titik nadir kehidupan mulai mendekati kenyataan. Setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dan menjalani pemeriksaan-pemeriksaan, ia segera akan duduk sebagai pesakitan di pengadilan, berhadapan dengan majelis hakim yang akan menyidangkannya, dan pertanyaan para jaksa yang bisa membuat dada sesak.

Hari ini, usai diperiksa oleh Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tersangka Kasus Proyek Hambalang bernama asli  Andi Zulkarnaen Mallaranggeng menyatakan dirinya akan segera mengikuti  persidangan atas kasusnya.

“Tidak terasa kasus sudah berjalan, hari ini adalah pelimpahan. Artinya bahwa dalam waktu kurang lebih 4 minggu, barang kali, sidang sudah dimulai dan waktu itulah yang ditunggu sekian lama selama 6 tahun,” ungkapnya saat meninggalkan Gedung KPK, Jakarta, Jumat (17/3/2017).

Dia mengungkapkan bahwa waktu yang dinantikannya yakni persidangan merupakan waktu yang tepat untuk dirinya dalam membela diri untuk mendapatkan keadilan. “Di pengadilan akan terlibat jelas,” tandasnya.

Penyidik KPK menetapkan Choel sebagai tersangka pada 16 Desember 2015, karena diduga melakukan perbuatan melawan hukum dan menyalahgunakan wewenang untuk memperkaya diri sendiri, atau orang lain, atau korporasi, terkait pembangunan atau pengadaan atau peningkatan sarana prasarana pusat pendidikan dan sekolah olahraga di Hambalang tahun anggaran 2010-2012.

Dalam dakwaan KPK Choel disebut sebagai perantara pemberian uang 550 ribu dolar AS kepada Andi Mallarangeng (kakaknya yang Menpora waktu itu), dari mantan Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Kemenpora sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen Kemenpora, Deddy Kusdinar.

Uang itu diberikan secara bertahap. Yaitu Rp2 miliar diterima oleh Choel Mallarangeng di kantornya dari PT Global Daya Manunggal, Rp1,5 miliar diterima oleh Choel dari PT Global Daya Manunggal melalui Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam dan Rp 500 juta diterima Choel dari PT Global Daya Manunggal melalui Mohammad Fakhruddin.

PT Global Daya Manunggal adalah salah satu perusahaan sub kontraktor yang mengerjakan proyek di Hambalang, Sedangkan M Fakhruddin merupakan staf khusus Andi Mallarangeng.

Uang tersebut disebut-sebut digunakan untuk keperluan operasional Menpora, pembayaran tunjangan Hari Raya untuk protokoler Menpora, pembantu dan pengawal di rumah dinas Menpora dan rumah kediaman Andi Mallarangeng. Uang juga digunakan untuk akomodasi dan pembelian tiket pertandingan sepak bola piala AFF di Senayan dan Malaysia, serta pertandingan tim Manchester United untuk rombongan Menpora serta anggota Komisi X DPR

Kemudian tahun 2017, tepatnya 6 Februari lalu,  KPK secara resmi menahan Choel Mallaranggeng atas kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang pada tahun 2010-2012.

Anehnya, Choel merasa bersyukur saat  KPK menahan dirinya.  Saat itu, menurunya, merupakan hari yang ditunggu-tunggu olehnya, mengingat kasusnya sudah selama 5 tahun terkatung-kantung, hingga dirinya sudah 4×6 bulan dicekal ke luar negeri.

“Setahun ini sudah menjadi tersangka, saya sudah lama menunggu sejak Januari tahun lalu. Saya minta ditahan agar argo jalan, agar saya dapat segera mendapat kesempatan untuk mendapatkan keadilan,” bebernya kala itu.

Pasca, ditetapkan sebagai tersangka pada 16 Desember 2015 lalu Choel juga telah mengajukan diri untuk menjadi Justice Collaborator (JC) kasus Mega Proyek Hambalang. Hal tersebut pun diungkapkan oleh Juru Bicara KPK Febri Diansyah, pada 20 Februari lalu.

“Dirinya sudah ajukan JC sejak Desember lalu,” kata Febri.

Atar permohonan itu, KPK masih mempertimbangkan. Ada syarat mengakui perbuatan, memberikan keterangan seluas-luasnya terkait indikasi keterlibatan pihak lain, atau aktor yang lebih besar atau kasus lain.

Febri menambahkan, seorang JC harus mengungkapkan fakta-fakta baru. Dalam kasus proyek Hambalang, sebagian faktan sudah terungkap pada persidangan Andi Mallarangeng.

“Ada di fakta persidangan di putusan Andi Mallarangeng, kalo ada tersangka yang ajukan JC tentu kita lihat apakah ada info baru yang signifikan untuk diungkap karena sebagian sudah muncul di fakta persidangan sebelumnya. Penanganan ini kan sudah 2012-2013,” papar Febri.

Choel sendiri meminta banyak pihak bersabar karena pasti dia akan membongkar semuanya. Hal itu diungkapan setelah pengajuan dirinya sebagai Justice Collabolator (JC) pada KPK, .

“Nanti dilihat dan diikuti saja. Saya kira kalian sudah tahu semua, sudah mengikuti Hambalang sejak lima tahun lalu,” katanya pada wartawan pada 24 Februari lalu.

Andi Zulkarnaen Mallarangeng atau yang lebih akrab dipanggil Choel Mallarangeng adalah adik dari Menteri Pemuda dan Olahraga periode 2009-2014, Andi Mallarangeng. Seperti dua saudaranya yang lain, Andi dan Rizal Mallarangeng, Choel juga terjun di ranah politik. Ia dikenal sebagai konsultan politik pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Budiono dalam Pemilu tahun 2009 lalu.

Choel, yang juga putra mantan Walikota Pare-Pare menjadi salah satu pemegang peranan penting sebagai trisula sekaligus tameng bagi pasangan SBY-Budiono melaju di pemilihan pemimpin negara. Mallarangeng termuda ini menggawangi Fox Indonesia yakni konsultan politik untuk korporasi, pemilihan kepala daerah dan pemilihan presiden, yang berdiri sejak 14 Februari 2008. Jasanya meliputi pembiayaan, perencanaan strategis, relasi, dan peliputan media. Dan di sini Fox bertugas membangun pencitraan SBY-Budiono.

Awalnya, Fox mulai naik daun ketika membawa Alex Noerdin menjadi Gubernur Sumatera Selatan tahun 2008. Kesuksesan itu lantas menjaring klien lain seperti Sutrisno Bachir dengan nilai kontrak Rp120 miliar. Sayangnya, saat baru menerima Rp40 miliar, Sutrisno merasa ditipu karena iklan Rizal Mallarangeng – yang saat itu menyatakan akan maju sebagai kandidat Presiden dari calon independent pada Juli 2008 dengan motto ‘If There is a Will, There is a Way’, yang artinya kira-kira “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan”. Semboyan itu  bertolak belakang dengan  semboyan Sutrisno yang mengangungkan ‘Hidup adalah Perbuatan’.

Terlepas dari masalah itu, Fox malah dilirik pasangan SBY-Budiono dari Partai Demokrat. 13 Februari 2009, Choel selaku direktur eksekutif lantas membangun pusat komando pencitraan Partai Demokrat dan SBY di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Selatan, dengan nama Bravo Media Center.

Selain itu juga, Fox dipercaya menjadi konsultan politik putra bungsu SBY, Edhie Baskoro, yang terpilih menjadi anggota DPR RI dari partai yang sama. Biaya untuk Edhie sendiri disebut-sebut tidak begitu mahal, yakni Rp10 miliar saja.

Tapi masa bulan madu itu sudah berlalu. Yang dihadapi Choel, juga kakaknya Andi Mallarangeng, adalah kenyatan hidup. Andi saat ini mendekam di penjara Sukamiskin Bandung, dan Choel akan menghadapi dakwaan Jaksa atas kasusnya.

Apa yang akan terjadi pada Choel kelak, pengadilanlah yang akan memutuskan nasibnya.

 

Share This: