Cinta Ferry Yang Tak Pernah Lekang Untuk Chrisye

Ferry Mursyidan Baldan (kanan) dan aktor pemeran Chrisye, Vino G Bastian. (Foto: Dudut Suhendra Putra)
_

Setiap orang besar – entah politisi, tokoh agama atau bahkan artis — pasti memiliki penggemar. Banyak penggemar yang begitu tergila-gila bahkan cinta mati dengan idolanya, bahkan sampai sang idola pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Penggemar Bruce Lee, Elvis Presley, John Lennon dan banyak lagi, sampai saat ini masih kerap mendatangi makam sang idola di hari-hari tertentu.

Di Indonesia pun demikian, meski kadar “kegilaannya” mungkin tidak seperti para penggemar artis di negara lain. Para artis peran senior di Indonesia dalam waktu-waktu tertentu datang berziarah ke makam Bapak Perfilman Indonesia H. Usmar Ismail atau pendiri Parfi Surjo Sumanto. 22 tahun kematian Nike Ardilla diperingati oleh penggemarnya pada 19 Maret 2017 lalu.

Politisi partai Nasdem yang pernah menjabat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang – Kepala Badan Pertanahan dalam Kabinet Kerja pimpinan Presiden Jokowi, adalah seorang penggemar fanatik penyanyi legendaris Chrisye.

Fanatisme itu boleh dibilang sudah berkembang menjadi cinta kepada artis yang diidolakannya. Saking cintanya, Ferry selalu membuat kegiatan untuk memperingati hari kematian Chrisye. Dia juga membentuk Komunitas Kangen Chrisye (K2C).

Untuk memperingati sepuluh tahun kematian penyanyi bernama asli Chrismansyah Hadi itu misalnya, pada 30 Maret 2017 lalu, Ferry meluncurkan buku berjudul “10 Tahun Setelah Chrisye Pergi: Ekspresi Seorang Penggemar”. Pada tahun sebelumnya ia mengadakan lomba menyanyikan lagu-lagu Chrisye untuk wartawan. Selama sepuluh tahun sejak kematian Chrisye, ia selalu mengadakan kegiatan berbeda-beda untuk memperingati hari kematian sang idola.

Masih ada satu keinginannya yang belum terwujud, yakni membuat Chrisye’s Corner atau Rumah Chrisye, sebuah tempat yang akan menampung segala sesuatu tentang Chrisye. Kini ia sedang mengumpulkan memorabilia Chrisye, mulai dari CD, piringan hitam, kostum, benda-benda lain yang terkait dengan kehidupan almarhum, termasuk film-filmnya jika nanti jadi, akan dikumpulkan di situ.

Di tempat itu, katanya, orang-orang, terutama generasi muda yang belum pernah melihat Chrisye bisa melihat, mempelajari, mendengar lagu-lagu Chrisye atau menonton filmnya. Mereka juga bisa memperoleh merchandise Chrisye.

“Nanti di tempat itu kita bisa nonton bareng film Chrisye, mendengarkan lagu-lagu Chrisye. Dan saya harap tidak hanya Chrisye, harus ada juga tempat untuk Utha Likumahua, Franky Sahilatua, atau legendaris lainnya,” papar Ferry ketika bertemu balaikita beberapa waktu lalu.

Pembuatan Chrisye’s Corner itu terinpsirasi dari “Beatles Corner” di Liverpool Inggris. Tempat kitu dikunjungi orang dari berbagai belahan dunia. Orang membeli merchandisenya dan jadi cinta dengan Beatles.

“Kan banyak orang sekarang yang jauh hubungannya dengan Beatles. Tapi mereka beli. Dan itu mengingatkan orang akan musisi-musisi legendaris. Nah sekarang kan kita mengingatkan orang bahwa kita punya Chrisye. Siapa sih Chrisye itu. Orang bisa datang ke situ. Dia bisa dapat merchandisenya, lagu-lagunya.”

Kegilaannya terhadap Chrisye sudah muncul sejak ia kuliah. Lagu-lagu yang dinyanyikan Chrisye, menurutnya, membuat hatinya gembira dan merasa terbawa ke dunia lain. Ia tak pernah bisa pindah ke lain hati dalam mencintai penyanyi. Chrisye mendapat tempat utama di hatinya, bahkan hingga sang idola meninggal dunia.

“Dulu saya pernah ditawari nonton konser Fariz RM, saya bilang saya mau nonton kalau bisa duduk di sebelah Chrisye. Kalau enggak, enggak mau nonton. Waktu itu kan tahun 2010  anggota DPR, uang reses aja cukup.  Kemudian saya kaget juga waktu Chrisye nelepon saya, dia bilang apa kabar. Bayangkan orang yang kita kagumi nelepon kita. Kita salah tingkah. Waktu ayahnya meninggal di Cikini saya datang. Dia bilang jangan pulang dulu temanin gua di sini. Padahal banyak tamu kan…,” tuturnya.

Pengalaman lain, ia pernah minta diundang ikut diskusi di Padang. Di sana ada Chrisye, Fariz RM dan Keenan Nasution. Sebelum berangkat dia pergi ke Blok M dan Jalan Sabang untuk membeli semua CD Chrisye, dan dibawa ke Padang untik minta ditandatangan oleh Chrisye.

Chrisye, menurutnya adalah pribadi yang introvert, tertutup. Dia tidak ada publisitas tentang dirinya. Publisitas lebih kepada karya-karya dia.

“Kehidupan pribadi dia kan sederhana banget. Setelah menyanyi dia sederhana, tidak mengglamorkan kehidupannya. Terlihat glamor itu kan persepsi kita aja,” katanya.

Kini apa pun yang berkaitan dengan Chrisye pasti menarik perhatiannya, dan sedapat mungkin ia hadir bila ada acara yang berhubungan dengan sang idola alamarhum. Sabtu (16/9/2017) di Jakarta kemarin misalnya, ia hadir dalam acara pemutaran trailer film Chrisye yang dibintangi oleh aktor berbakat Vino G. Bastian. Oleh panitia ia bahkan didaulat menjadi bagian dari acara itu.

“Kalau mendengar penjelasan tadi, ya mungkin ini satu sisi dari hidup seorang Chrisye. Artinya dari sisinya Mbak Yanti (isteri Chrisye). Tentu dia tetap terkoneksi dengan kehidupan pribadinya, yang mendorong karier dia sebagai musisi. Itu yang jadi penting dan film ini jadi menarik karena menjelaskan sisi humanisnya dari seorang Chrisye,” kata Ferry.

Ferry menilai, sebagai sebuah karya ia yakin film tentang Chrisye akan menarik, karena di sana ada Rizal Manthovani (sutradra) ada Vino G Bastian (pemeritan Chrisy).

“Yang menarik, Vino sebagai peran Chrisye tak salahlah, dari pandangan saya jadi fans Chrisye, kalau dia ditampilkan di layar lebar. Ini kan yang selalu saya pikirkan bagaimana kita memberi penghargaan keapda seorang musisi yangmelegenda. Jangan sampai dia dilupakan begitu aja,” katanya.

Di mata Ferry, Vino merupakan sosok aktor yang cerdas dan mau kerja keras secara detail. “Ia mau melakukan riset dan mendalami karakter Chrisye. Vino bilang ke saya. Dia membaca buku yang saya terbitkan ‘Chrisye di Mata Media, Sahabat dan Fans” untuk menangkap lebih detil sosok Chrisye.”

Bagi Ferry, dalam film Chrisye yang mengangkat kisah tersembunyi dari kehidupan seorang Chrisye ini, bukan soal kemiripan wajah yang dipentingkan, tapi lebih ke soal penjiwaan. “Sebagai penggemar, buat saya siapapun yang main tidak masalah. Yang penting filmnya sudah jadi dan siap beredar!” ungkap pria kelahiran 16 Juni 1961 ini.

Ferry berharap film Chrisye akan diputar pada tahun 2017 ini, karena masih bisa disebut dengan peringatan 10 tahun kematian Chrisye. Dan produser menjanjikan Desember 2017 ini sudah main di bioskop. Film itu merupakan obat rindu bagi penggemar Chrisye.

“Menurut saya tahun 2017 sangat penting karena ini 10 tahun Chrisye. Kalau sudah tahun 2018 kan bisa berbeda lagi,” jelasnya.

Share This: