Cinta, Karir dan Ego Si Jenius Freddie Mercuri Dalam “Bohemian Rhapsody”

_

The Queen adalah grup band beraliran rock paling fenomenal di Inggris Raya. Grup musik beranggotakan Brian May, Roger Taylor, John Deacon dan Freddie Mercuri itu bukan hanya sekedar pengusung aliran rock, tetapi menciptakan identitas sendiri.

Sekelumit kisah The Queen diangkat ke dalam film berjudul Bohemian Rhapsodi yang digarap oleh sutradara Dexter Fletcher, menggantikan Bryan Singer, dan naskahnya ditulis oleh penulis berbeda berdasarkan cerita yang dikembangkan Peter Morgan. Penulis terakhir adalah Anthony McCarten.

Bohemian Rhapsody sendiri adalah biopic tentang Freddie Mercuri sang vokalis, sekaligus pencipta beberapa lagu hit The Queen. Film ini mengangkat perjalanan hidup Freddie, anak seorang imigran Persia keturunan India di Inggris, yang lebih tertarik dengan dunia musik, ketimbang mengurus pekerjaannya sebagai porter di bandara.

Setiap hari sepulang kerja, Farrokh Bulsara , nama aslinya, ngelayap ke kafe untuk menyaksikan pertunjukkan musik. Salah satunya grup musik mahasiswa The Smile, yang kadang terlihat payah. Vokalisnya yang jenuh karena merasa tidak ada kemajuan.

Di tengah kekosongan itulah Freddie menawarkan diri sebagai vokalis. Freddie sempat ditolak karena giginya yang tonggos. Untuk meyakinkan personil Smile, ia memamerkan kemampuan vokalnya, dengan menyanyikan sepotong bait lagu grup musik yang tengah diincarnya.

Begitulah, Freddie akhirnya diterima. Bukan saja memiliki kemampuan vokal yang hebat, dia juga merupakan pencipta lagu hebat. Bayangan tentang keanggunan dan pesona ratu mendorong para personil Smile mengganti nama grup menjadi Queen.

Single pertama yang dihasilkan, “Queen” (1973) langsung membetot perhatian masyarakat. Perlahan namun pasti, Queen mulai dikenal. Pada 8 September 1974 Queen merilis albumnya yg Ke-3 yaitu Sheer Heart Attack. Saat itu Queen meraih kesuksesan untuk pertama kalinya dan terkenal di tingkat Internasional lewat singel “Killer Queen”. Dalam lagu ini terdapat lagu pertama ciptaan John Deacon, Misfire.

Pada 1975 Queen meminta bantuan pada John Reid (Manager Elton John) untuk mengatur ekonomi band yg kacau balau. Reid berhasil menata keuangan Queen. Tetapi akibat salah omong, di diusir dari mobil yang dinaikinya bersama Freddie. Sejak itu dia dipecat.

Cinta, Sukses dan Ego

Bohemian Rhapsody adalah film tentang Freddie Mercuri, bukan tentang Queen. Porsi terbesar dalam film ini diberikan kepada kisah kehidupan sang bintang.

Dimulai dari informasi awal tentang pekerjaan, hubungan keluarga dalam rumah, kesukaannya menonton pertunjukkan musik, hingga ia bertemu dengan Mary seorang pelayan toko yang ikut menata kostumnya di awal karier.

Mary adalah cinta pertama Freddie sekaligus wanita yang tidak pernah bisa dilupakannya. Hanya saja hubungan mereka rusak ketika Freddi mengaku menjadi biseksual. Mary, yang juga sangat mencintai Freddie akhirnya memutuskan pergi. Dia tidak ikut merasakan kesuksesan Freddie, karena akhirnya sang vokalis jenius itu tenggelam dalam kehidupan hura-hura bersama pasangan gaynya.

Aktor Amerika – Mesir Rami Malek berhasil memerankan sosok Freddie dengan baik. Bukan saja secara anatomi memiliki kemiripan – gigi yang agak tonggos – Rami juga mampu menjiwai karakter Freddi yang jenius namun memiliki ego kesenimanan yang kuat.

Perubahan karakter dan bentuk fisik Freddie Mercuri terasa kuat. Akan tetapi untuk karakter anggota Queen lainnya, nyaris tidak terlihat perubahan berarti. Mungkin karena sutradara fokus pada karakter Freddie Mercuri sebagai tokoh sentral.

Perjalanan hidup Freddie, anak imigran Persia yang bernama Farokh Bulsara, digambarkan linier, dari seorang porter bandara yang tidak memiliki apa-apa sehingga sukses sebagai bintang dan memiliki segalanya.

Bagi penggemar Queen, film ini juga memberi informasi latar belakang lahirnya lahirnya beberapa lagu Queen, termasuk yang paling fenomenal “Bohemian Rhapsody”. Lagu terlama yang diciptakan itu beberapa kali mengalami perubahan, karena Freddie selalu menambahkan bagian-bagian yang muncul dalam inspirasinya, termasuk kata-kata aneh yang sulit dipahami oleh orang lain. Lagu itu pula yang membuat hubungan Queen dengan produsernya. Lagu itu terlalu panjang dan diprediksi tidak akan diputar di radio-radio.

Queen, khususnya Freedie Mercuri membuktikan bahwa pendapat sang produser salah, dan mereka memiliki untuk berpisah ketimbang menerima usul sang produser untuk memilih lagu lain.

Film ini tidak sekedar bicara musikalistas Queen, tetapi lebih menekankan kehidupan Freddie Mercuri yang penuh drama. Di tengah dorongan seksualnya yang tertarik pada kaum sejenis, Freddie masih memiliki cinta suci yang tak bisa ditanggalkan begitu saja kepada Mary. Momen-momen itu digambarkan dengan kuat, bagaimana Freddie berulangkali harus menahan gejolak cinta di hatinya, karena Mary harus memilih kehidupan yang normal.

Selain itu, Freddie juga sempat dijauhkan oleh rekan-rekannya Brian May (Gwilym Lee), Roger Taylor (Ben Hardy) dan John Deacon (Joseph Mazzello), karena mereka tidak bisa lagi memahami kehidupan yang dijalani oleh Freddie, sampai konser Live Aid di London mempersatukan mereka.

Sayang saat itu kondisi kesehatan Freddy terus menurun. Ia mulai sakit-sakitan akibat virus AIDS mulai menggerogotinya. Tetapi demi konser Live Aid, demi kemanusiaan, Freddie memaksakan tampil maksimal di panggung.

Di balik orientasi seksualnya yang menyimpang – di Indonesia ini termasuk mulai dilarang – film ini memberi gambaran betapa perjalanan hidup Freddie Mercuri sangat menggugah empati kemanusiaan kita. Manusia kadang tidak mampu menghindar dari jebakan-jebakan seksual yang menejerumuskan.

Share This: