Cinta Tak Pernah Pudar Ferry Mursyidan Baldan Untuk Chrisye…

Ferry Mursyidan Baldan (Foto: HW)
_

Setiap pesohor (selebritis), dalam bidang apapun pasti memiliki penggemar. Banyak penggemar yang tidak hanya sekedar menggemari karyanya, tetapi juga penampilan, perilaku hingga gaya hidup sang pesohor. Bagi yang fanatik, mereka akan melakukan apa saja demi sang idola.

Ferry Mursyidan Baldan ziarah ke makam Chrisye, Jum’at (30/3/2018) pagi. – Foto: Edo Musiclife

Ada dua kategori penggemar untuk para pesohor, yakni Groupie dan fans. Kata groupie mengacu pada kata “group” (kelompok/ grup musikKata groupie di Amerika Serikat biasa digunakan sebagai istilah ejekan untuk menggambarkan jenis penggemar wanita tertentu yang dianggap lebih tertarik pada menjalin hubungan intim dengan para bintang rock daripada musik mereka. Groupie  adalah seseorang yang mencari keintiman emosional dan fisik dengan musisi atau selebriti lainnya

Penyanyi Led Zappelin, Robert Plant pernah membedakan antara fans yang hanya ingin hubungan seks singkat, dan para groupie yang bepergian dengan para musisi untuk waktu yang lama, yang bertindak sebagai pacar atau ibu pengganti, dan sering kali turut menjaga barang berharga, obat-obatan, kostum panggung, serta kehidupan sosial para musisi.

Kategori kedua adalah Penggemar (bahasa Inggris: fan(s)), atau disebut supporter atau pendukung untuk tim olahraga, adalah seseorang yang menggemari sesuatu dengan antusias, seperti grup musik, tim olahraga, buku atau selebriti. Secara kolektif, kumpulan pengemar akan membentuk basis penggemar (fanbase) atau fandom.

Kategori ini menunjukkan antusiasme mereka dengan bergabung menjadi anggota klub penggemar, menyelenggarakan atau ikut serta dalam diskusi dan pertemuan penggemar, menerbitkan majalah penggemar (fanzine), menulis surat penggemar, mengumpulkan benda-benda yang berhubungan dengan sang idola, mempromosikan benda-benda untuk mendukung idola mereka, dan membuat seni penggemar (fan art).

Entah masuk ke dalam kategori mana seorang Ferry Mursyidan Baldan, politikus yang pernah menjabat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang – Kepala Badan Pertanahan Nasional di Kabinet Kerja pimpinan Presiden Joko Widodo. Ferry adalah seorang penggemar fanatik penyanyi lagu-lagu pop Chrisye (almarhum).

Rasa suka Ferry terhadap Chrisye sangat luar biasa, meski pun dia tidak menunjukkan tingkah berlebihan, seperti penggemar Nicolas Cage yang mengikuti sang idola sampai ke kamar tidurnya; atau Pria bernama Joshua Corbett — penderita skizofrenia — yang mengaku sebagai ayah rahasia dari anak artis Sandra Bullock dan mengklaim ikatan cinta mereka sudah dikehendaki Tuhan.

Ferry mengekspresikan kecintaannya kepada Chrisye dengan smooth, tidak berkobar-kobar, walau pun dalam ukuran seorang penggemar, apa yang dilakukannya sangat luar biasa. Cara Ferry mengekspresikan diri seolah sejalan dengan karakter, perilaku dan gaya hidup sang idola.

Chrisye yang kemudian mengganti namanya menjadi Chrismansyah Rahadi setelah menikah dan menjadi mualaf, memang dikenal sebagai seorang pesohor yang tidak neko-neko. Jalan hidupnya lurus, tidak pernah terdengar dia terlibat dengan minuman keras atau napza hingga meninggal dunia. Meski pun namanya sangat terkenal, Chrisye adalah seorang yang pemalu dan cenderung introvert.

Untuk mengetahui latar belakang kecintaan Ferry Musyidan Baldan terhadap Chrisye, balaikita mencoba mencari jalan untuk mewawancarai politikus yang pernah bernaung di Partai Golkar dan Partai Nasdem itu. Atas bantuan seorang teman wartawan, akhirnya balaikita diberi kesempatan untuk mewawancarainya, di kantor Kementerian Agraria dan Tata Ruang – Badan Pertanahan Nasional di kawasan Kebayoran Baru Jakarta Selatan, pertengahan September 2016 lalu. Ketika itu Ferry Mursyidan Baldan masih menjabat sebagai Menteri. Dia menerima balaikita dengan akrab, tanpa aturan birokrasi yang berbelit-belit.

Pengakuan Ferry, seperti para penggemar musik lainnya, awalnya dia adalah penggemar biasa. Orang yang menggemari lagu-lagu Chrisye. Menurutnya, lagu-lagu Chrisye memberikan rasa yang berbeda ketika ia mendengarnya. Ada kelembutan, keindahan pada lirik, memiliki makna yang dalam, dan suara Chrisye yang membuat hatinya bahagia.

“Pokoknya kalau mendengar lagu Chrisye rasanya asyik aja ya, liriknya sangat menyentuh dan pas dengan karakter suara Chrisye,” kata Ferry ketika itu.

Kesukaan terhadap lagu-lagu Chrisye lalu berkembang menjadi kekaguman terhadap sang idola. Ferry ingin mewujudkan melalui perkenalan secara personal, dan menjadi lebih dekat secara emosional. Kesempatan itu akhirnya datang ketika ia ditawari untuk membeli tiket konser Fariz RM, tahun 2003.

“Saya bilang saya mau nonton kalau bisa duduk di sebelah Chrisye. Kalau enggak bisa, enggak mau nonton!” tuturnya.

Ternyata menjelang konser, Chrisye menelepon, walau hanya sekedar basa-basi menanyakan kabar. Bagi Ferry itu adalah kejutan yang luar biasa.

“Bayangkan orang yang kita kagumin nelepon kita. Kita salah tingkah,” kata Ferry.

Tidak sampai di situ, hubungannya dengan Chrisye terus berlanjut. Ketika ayah Chrisye meninggal dunia di rumahnya di kawasan Cikini, Ferry datang. Ketika itu Chrisye malah memintanya agar jangan buru-buru pulang. Chrisye minta ditemani. Padahal ketika itu banyak tamu.

Pengalaman lain, ia pernah minta diundang ikut diskusi musik di Jl. Padang, Jakarta Selatan; di sana ada Chrisye, Fariz RM dan Keenan Nasution. Sebelum berangkat Ferry pergi ke Blok M dan Jalan Sabang untuk membeli semua CD Chrisye. Tidak tanggung-tanggung, dia membawa satu tas penuh berisi CD lagu-lagu Chrisye minta ditandatangan oleh sang idola.

Masih banyak waktu yang ingin dilaluinya bersama Chrisye. Namun suratan takdir berkata lain. Pada Jum’at, 30 Maret 2007 Chrisye meninggal dunia di rumahnya di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Sebelumnya hampir dua tahun Chrisye menderita kanker paru dan tulang.

Tentu saja Ferry merasa kehilangan. Namun kepergian Chrisye tak memupus rasa cintanya kepada sang idola. Bagi Ferry, Chrisye tetap hidup abadi, meski pun ia sadar Chrisye telah kembali ke pangkuanNya.

Sebagai manivestasi cintanya kepada sang idola, Ferry membentuk K2C (Komunitas Kangen Chrisye), sebuah kelompok penggemar yang mengidolakan dan menggemari lagu-lagu Chrisye.

Setiap hari wafatnya Chrisye, tanggal 30 Maret, ia datang ke makam almarhum untuk sekedar berdoa, dan setiap hari lahir Chrisye selalu membuat acara khusus untuk mengenang kiprah Chrisye selama di dunia musik.

Pada tahun kelima peringatan wafat Chrisye, Ferry merilis buku khusus tentang Chrisye berjudul  Chrisye: Kesan di Mata Media, Sahabat dan Fans. Buku ini ikut dipamerkan di Jakarta Convention Center, bertepatan dengan pentas Kidung Abadi_ Chrisye yang digagas Erwin Gutawa dan Jay Subijakto.

Tidak semua acara yang dibuat harus mewah dan meriah. Kadang hanya sebuah acara sederhana. Tahun 2016 lalu misalnya, ia mengadakan acara lomba menyanyikan lagu-lagu Chrisye di sebuah kafe, dengan peserta dari kalangan wartawan.

“Pernah saya membuat acara Chrisye’s Night di Bandung. Saya beli semua CD Chrisye di Bandung, lalu saya kasih itu untuk teman-teman yang datang. Home bandnya pun kita tambahin sedikit aja untuk menyanyikan lagu-lagu Chrisye,” kata Ferry.

Tahun 2017, tahun kesepuluh kepergian Chrisye,  dibuat sebuah buku tentang Chrisye berjudul ‘10 Tahun Setelah Chrisye Pergi; Ekspresi Kangen Penggemar’. Buku ini terhitung unik dan sangat personal dari seorang penggemar. Karena, Ferry mengumpulkan catatan yang terserak di berbagai media tentang Chrisye sepanjang 10 tahun setelah ia wafat, kemudian menjadikannya bagian dari isi buku.

Buku kedua itu rencananya akan disebar di semua toko buku terkemuka, melalui situs-situs online, bahkan di barbershop-barbershop, supaya orang lebih mengenal siapa sebenarnya Chrisye. Meski pun telah mengeluarkan biaya yang cukup banyak untuk pembuatan buku itu, ia tidak akan mengambil keuntungan apapun. Jika dari sana menghasilkan uang, semua akan diberikan kepada keluarga almarhum.

Keluarga almarhum memang lebih membutuhkan biaya hidup dibandingkan dirinya. Ia tahu seniman tidak mendapatkan pensiun dari jerih payahnya. Menurut Ferry, dari dulu dirinya perduli dengan royalti untuk seniman. Dan hari ini keadaannya sangat menyedihkan karena musisi merasa tidak dihargai.

“Dulu saya ngomong sama Chandra Darusman (Ketua YKCI sebelum menetap di Swiss-Red.) Royalti ini harus didedikasikan ikatan kepada keluarganya supaya ada sumber. Kan enggak ada pensiunnya seniman itu,” katanya.

Rasa prihatinnya itu merupakan bagian dari keperdulian yang tinggi terhadap Chrisye dan nasib keluarga yang ditinggalkan. Yang jelas apa pun tentang Chrisye, tak ada yang bisa dilewatkan bagi Ferry Mursyidan Baldan.

Ketika film “Chrisye” dibuat, Ferry banyak memberi dukungan secara moril maupun materil. Ia membeli ratusan tiket bioskop yang memutar film “Chrisye” untuk diberikan cuma-cuma kepada yang berminat, agar kisah idolanya diketahui banyak orang. Ferry senang jika ada orang lain yang juga menyenangi Chrisye seperti dirinya. Ia ingin menularkan kesenangan itu kepada orang yang belum mengenal Chrisye.

“Saya enggak ngerti film sebetulnya. Cuma menjadi menarik karena film itu tentang Chrisye. Pembuatan film tentang Chrisye kan sama seperti apa yang saya ingini. Bangsa ini kan harus bisa memberi apresiasi kepada tokoh yang setia pada profesinya. Kalau seorang musisi legendaris seperti Chrisye kemudian lewat begitu saja karena kematian, kemudian tidak ada pelajaran yang kemudian dia harus dikenang. Itu yang menyedihkan bagi bangsa ini,” katanya. “Jadi orang tidak mau berpikir, mari kita menjadi tokoh, menjadi sesuatu yang melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.”

Ia juga ingin mencekekoki orang lain agar hapal lagu-lagu Chrisye. Itu dilakukannya di mana-mana. Bahkan di kementerian tempatnya bertugas selama dua tahun, semua pegawai tahu, jika ada acara harus menyanyikan lagu-lagu Chrisye. Jika ia datang ke sebuah hotel tempatnya biasa menginap di Surabaya, home bandnya langsung menyanyikan lagu-lagu Chrisye.

“Begitu anak-anak muda tahu tentang Chrisye, tukang ngamen di warung sate tahu lagu Chrisye aja saya udah senang. Ada seorang pemain band, yang biasanya main lagu-lagu balada seperti lagu Ebiet, Iwan Adurahman, Bimbo, dia bisa. Begitu saya undang untuk sarapan, dia belajar 10 lagu Chrisye,” tuturnya.

Kini masih ada satu keinginannya yang belum terwujud, tetapi sudah mulai dirintis jalannya: yakni membuat sebuah tempat untuk menampung segala sesuatu tentang Chrisye. Di tempat yang disebutnya dengan nama “Chrisye’s Corner” atau Rumah Chrisye, Untuk keperluan itu memorabilia Chrisye dikumpulkan. Mulai dari CD, piringan hitam, kostum, benda-benda lain yang terkait dengan kehidupan almarhum, termasuk film-filmnya jika nanti jadi, akan dikumpulkan di situ.

Pembuatan Chrisye’s Corner menurutnya terinpsirasi dari “Beatles’s Corner” di Liverpool Inggris. Tempat itu kerap dikunjungi orang dari berbagai belahan dunia. Orang membeli merchandisenya dan jadi cinta dengan Beatles.

“Sekarang barang-barang sudah banyak yang dikumpulin. Kalau ada yang bisa kita beli, kita beli, ada yang bisa kita pinjam, akan kita pinjam. Kalau ada yang ori dan takut rusak, kita bikin duplikatnya. CD sudah ada. Mudah-mudahan masih ada piringan hitamnya,” tutur Ferry.

Ferry menegaskan, tidak ada sedikit pun keinginan untuk menarik keuntungan dari sekian kegiatan maupun pembuatan Chrisye’s Corner itu. Semua sudah dijelaskan kepada keluarga, bahwa itu adalah bentuk apresiasi masyarakat terhadap almarhum Chrisye, terutama dari penggemar.

Masih banyak tindakan dan sumbangan Ferry untuk mengenang Chrisye. Hari ini di tahun kesebelas kepergian Chrisye, tentu ada acara yang dibuat untuk mengenang sang idola.

Bagi banyak orang, apa yang dilakukan Ferry Mursyidan Baldan sangat aneh. Apa untungnya ekspresi yang mengorbankan pikiran, tenaga dan biaya demikian banyak itu? Dalam ungkapan orang Betawi, “Saudara bukan, apa bukan, kok mau-maunya ngelakuin begitu!”

Bagi Ferry, semua yang dilakukan adalah bentuk rasa cinta kepada sang idola. Mengutip sedikit lirik lagu Ebiet G. Ade, kata orang cinta musti berkorban….

Itulah cinta. Dan sampai saat ini cinta Ferry kepada Chrisye yang telah sebelas tahun meninggalkan kita semua, tak pernah pudar…

 

 

Share This: