“Damai Dalam Kardus” Juara I Eagle Award 2018.

Komjen Pol. Suhardi Alius memberikan hadiah kepada Pemenang I Kompetisi Eagle Award 2018 (Foto: HW)
_

Film dokumenter berjudul Damai Dalam Kardus karya sutradara Andi Ilmi Utami Irwan dan Sulaeman Nur, keluar sebagai Pemenang I kompetisi film dokumenter Eagle Award 2018.

Dewan Juri, Panitia dan Kepala BNPT bersama seluruh pemenang Kompetisi Film Dokumenter Eagle Award 2018. (Foto: HW)

Untuk itu sutradara film tersebut berhasil membawa pulang hadiah sebesar Rp.100 juta dan beasiswa S2.

Damai Dalam Kardus mengisahkan tentang kerinduan seorang lelaki bernama Sulaeman (30 tahun) untuk bertemu dengan bapaknya, seorang tentara beragama Kristen. Ibu kandung Sulaeman sendiri beragama Islam, dan Sulaeman ikut agama ibunya.

Kedua orangtua Sulaeman berpisah setelah terjadi konflik agama di Poso. Sampai saat ini sentimen agama itu masih terasa di tengah sebagian masyarakat.

Pemenang kedua diraih oleh film dokumenter berjudul
Menabur Benih di Lumpur Asmat karya sutradara Yosef Levi dan Bernad Boki Koten.

Film yang mengisahkan tentang perjuangan seorang guru di Yufri, Asmat, Papua, yang berjuang untuk memperbaiki gizi anak-anak di sana dengan bertani. Sutradara film ini berhak atas hadiah sebesar Rp. 60 juta.

Sedangkan pemenang ketiga diraih oleh film berjudul Pusenai The Last Dayak Basap (PTLDB) karya sutradara Fajaria Menur Widowati. Pemenang berhak atas hadiah sebesar Rp.40 juta.

PTLDB mengisahkan tentang perempuan tua suku Dayak Basap bernama Pusenai (87 tahun), pencari dan pembuat tas rotan yang harus pindah dari tanah leluhurnya di Desa Teluk Sumbang, Berau, Kalimantan Timur.

Dia bersama warga lainnya direlokasi ke tempat baru, karena tempat kelahirannya dijadikan perkebunan sawit sehingga ia makin sukit mencari rotan.

Nama-nama pemenang diumumkan oleh Dewan Juri yang terdiri dari Garin Nugroho (Ketua), Nia Dinata dan Supriyo Sen (anggota) di bioskop CGV Blitz Grand Indonesia, Rabu (31/10/2018) malam.

“Film-film dokumenter peserta Eagle Award ini tidak bicara sesuatu yang besar, misalnya tentang politik, tetapi bicara dengan narasi kecil. Namun kami melihat karya-karya mereka telah menunjukkan kecintaan terhadap Indonesia yang begitu besar,” kata Garin.

Tahun ini Eagle Award membuka peluang kepada semua pembuat film dokumenter — pemula atau ahli — untuk berpartisipasi dalam lomba. Karena itu konsep yang diusung diberninama Master Class.

Eagle Award juga bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dengan membawa tema besar Menjadi Indonesia.

Kepala BNPT Komjen Pol. Suhardi Alius menjelaskan, keputusan BNPT untuk merangkul Eagle Award adalah agar pesan-pesan tentang kebangsaan dalam film-film peserta dapat dilihat lebih luas oleh masyarakat, terutama generasi muda.

“Ini jaman digital. Kalau kita tidak mempunyai sesuatu yang baik, kita akan tergilas oleh hal-hal yang membuat keindonesiaan kita terkoyak. Melalui kompetisi Eagle Award ini kami berharap kesadaran bernegara dan nasionalisme anak-anak muda akan tumbuh,” kata Suhardi Alius.

 

 

 

Share This: