Dampak Dibukanya DNI, Investasi Asing di Perfilman Mulai Masuk.

Ketua BKPM Thomas Lembong, saat menghadiri syukuran film "Wiro Sableng 212" di Jakarta, Rabu (9/2) - Foto: HW
_

Dampak dibukanya Daftar Negatif Investasi (DNI) bagi industri perfilman mulai membuahkan hasil. Perusahaan film raksasa asal Amerika, investasi asing di bidang perfilman telah masuk. Salah satunya adalah dengan masuknya perusahaan film asal Amerika, Fox Internasional Production, yang merupakan divisi dari 20th Century Fox Film Corporation, yang melakukan kerjasama produksi film dengan Lifelike Pictures dari Indonesia. Selain itu, pemerintah Singapura juga sudah berkomitmen untuk menginvestasikan dananya sebedsar 230 juta dolar AS, untuk membangun bioskop.

“Ini merupakan sektor yang paling shock therapy ya. Yang tadinya (investasi asing di perfilman) nol persen, langsung 100 persen untuk  asing. Ini tentunya diperbolehkan. Menjurut filsafat Pak Presiden, ada dua prinsip reformasi perekonomian, yaitu keterbukaan dan kompetisi. dengan kita membuka perfilman tidak hanya modal yang masuk, tapi juga keahlian dan jaringan internsional. Itu yang mendorong produksi domestik,” kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Limbong, ketika memberi sambutan dalam selamatan produksi film Wiro Sableng 212 (212 Warrior) di Jakarta, Kamis (9/2).

Menurut Lembong, dalam bebapa bulan ini banyak sekali masuk investasi di sektor perbioskopan. Pemerintah Singapura bahkan menginvestasikan modal sebanyak 230 juta US dollar. Itu, kata Lembong merupakan  bukti kongkrit dibukanya deregulasi sektor perfilman.

Dengan dibukanya investasi asing dalam industri perfilman, bukan hanya modal yang masuk ke Indonesia, melainkan transfer keahlian dan dibukanya jaringan pemasaran internasional, karena film kita bisa mendapai standar kualitas yang bisa diputar bukan saja di Asia tapi juga berpotensi global.

Lembong menambahkan, awal tahun kita akan berorientasi pada ekspor dan padat karya. Perfilman merupakan sektor padat karya, karena melibatkan banyak orang di semua bagiannya, mulai dari kostum, set disain, make-up dan sebagianya.

“Ekonomi kreatif merupakan sektor yang sangat penting di abad 21. Tidak ada yang lebih pentinglah dari ekonomi kreatif. Mudah-mudahan ini menjadi awal untuk perkembangan investasi selanjutnya. BKPM sepenuhnya akan mendukung dan membantu dengan apapun caranya juga untuk menggalang investasi di sektor ekonomi kreatif,” tandas Lembong.***

 

 

Share This: