Dato Sri Tahir: Karena Hidup Bergelimang Kemewahan, Saya Harus Diingatkan!

Dato Sri Tahir (Foto: HW)
_

“Karena saya hidup di Jakarta, saya dikelilingi oleh uang, dikelilingi oleh kesempatan, dan bergelimpang kemewahan. Kalau saya tidak diingatkan, saya akan menjadi orang yang hilang. Dan itu berbahaya berbahaya bagi saya sebagai orang beriman dan beragama. Saya berterima kasih kalau saya datang ke tempat bencana, saya diingatkan bahwa tidak terlalu jauh dari kita, mungkin seratus atau dua ratus meter dari rumah saya ada saya orang beruntung….”

Kalimat menggugah itu disampaikan oleh Dato Sri Tahir, pengusaha Indonesia yang dikenal pula sebagai filantropis, usai pemutaran film Mooncake Story yang dibuat oleh yayasan miliknya, Tahir Foundation bersama Multivision Pictures, di Jakarta, Senin (13/2).

Menurut Tahir, dia membuat film itu untuk memberikan pesan kepada masyarakat, bahwa kita tidak boleh tenggelam dalam kemiskinan. Kemiskinan itu suatu musibah, tetapi harus ada jalan keluar untuk mengatasinya, supaya setiap orang bisa memperoleh hidup yang lebih baik. Tetapi yang lebih penting untuk diamati dari film ini adalah bila kita kerja keras, jujur, kerja tulus, hati kita bersih suatu saat kita akan dapat hidup layak.

“Karena saya percaya gusti Allah itu adil. Jadi pasti saya memberikan suatu inspirasi kepada saduara-saudara kurang beruntung bahwa yang diperlukan manusia itu adalah tidak malas, kerja keras, tulus, jujur, dan saya yakin untuk merubah nasib selalu ada dan bisa. Itu yang kita yakinin,” kata Tahir.

Hasil penjualan film itu menurutnya tidak diambil. Separuh akan diberikan ke Universitas Gajah Mada (UGM) – dia juga Wali Amanah di sana – dan separuhnya akan ke daerah-daerah atau yayasan yang membutuhkan.

Dato’ Sri Tahir terlahir dengan nama Ang Tjoen Ming, lahir di Surabaya, 26 Maret 1952, adalah seorang pengusaha di Indonesia, investor, filantropis, sekaligus pendiri Mayapada Group, sebuah holding company yang memiliki beberapa unit usaha di Indonesia. Unit usahanya meliputi perbankan, media cetak dan TV berbayar, properti, rumah sakit dan rantai toko bebas pajak/duty free shopping (DFS). Ia menjadi dikenal karena mampu menjadi orang terkaya keduabelas di Indonesia. Dia merupakan seorang filantropis yang mampu menyumbangkan US$ 75 Juta untuk kesehatan.

Dia sudah berkeliling mendatangi lokasi-lokasi bencana di Indonesia seperti ke sinabung Jawa Tengah, gempa di Padang, gempa di Yogya dan bahkan ke berbagai belahan dunia lain untuk menolong orang-orang yang menderita.

“Saya ini keliling di mana ada gempa saya datang. Selalu saya beritahu kepada yang menderita itu. Bahwa saya datang ke sini bukan membantu kalian. Tapi kalian yang membantu saya. Dengan mendatangi tempat ini saya diingatkan bahwa banyak orang-orang yang tidak beruntung dalam hidup ini. Mungkin jaraknya hanya seratus atau duaratus meter dari tempat tinggal kita,” katanya.

Menurut Tahir, dirinya mungkin orang Indonesia pertama yang datang ke perbatasn Irak. Di sana ia memberikan bantuan 3,2 juta dolar Amerika. 200 ribu dolar diberikan kepada Kedubes kita untuk mengatasi TKW dan boring-boring yang yang mendapat kesulitan di Jordan; 2 juta untuk bikin shelter bagi pengungsi dan 1 juta dolar untuk makanan. Dan sekarang ia telah mengumpulkan lagi 10 juta dollar, untuk membangun sekolah untuk anak-anak pengungsi di Jordania, yang akan diberikan pada saat ulangtahunnya nanti.

“Saya ketemu dengan anak kecil Syria di sana, umur 10 tahun, saya minta bantuan UNHCR, saya ingin mengadopsi menjadi cucu saya, meski pun kita beda agama. Saya berikan dia 200 ribus US dollar sampai dia lulus universitas. Kalau ini kita lakukan sebagai suatu kewajiban, suatu keharusan manusia, saya beruntung. Saya lebih beruntung dari jutaan manusia, jadi wajar saya terjun ke sana,” paparnya.

Bantuan-bantuan yang diberikan menurut Tahir adalah sebagai bentuk terima kasih atas apa yang diberikan Tuhan kepada dirinya selama ini. Dan sebagai orang yang hidup di Indonesia, dan telah mendapat makan di Indonesia, tentu saja dia juga harus memiliki keperdulian terhadap apa yang dialami bangsa Indonesia.

Tujuannya membuat film juga untuk memberi pesan kepada masyarakat untuk bisa hidup saling berbagi, dan yang mengalami kemiskinan agar bangkit mengatasi persoalan hidupnya.

“Saya sudah diperingatkan oleh teman-teman, kalau kamu pake Garin, filmnya bagus tapi rugi. Saya tidak kenal Mas Garin, tapi saya justru mencarinya, kita tukar pikiran dengan Mas Garin. Saya lihat film ini dua kali, dan ini really look good, saya juga merasa touching film ini. Saya akan bicara dengan agensi saya, supaya film ini bisa ditonton oleh grassroot, memberikan harapan bahwa jangan kita tenggelam dalam kemiskinan. Kemiskinan itu suatu musibah. Tetapi paling tidak memberikan satu solution, masing-masing kita berjuang untuk mendapatkan nasib yang lebih baik.”

 

 

 

Share This: