Demi Sekolah, Pelajar di Lebak Harus Bertaruh Nyawa Lewati Jembatan Reyot

Jembatan reyot di Lebak (Foto dan video oleh Jumri)
_

Kondisi jembatan gantung yang menjadi penghubung antara dua Kecamatan yaitu Banjarsari dan Kecamatan Gunungkencana, Lebak Banten kondisinya sangat memperihatinkan. Saat siswa pergi ke sekolah harus bertaruh nyawa untuk melintasi jembatan reyot tersebut.

Jembatan panjang 70 meter dengan kedalaman 10 meter terletak di Desa Lewi Ipuh menjadi satu-satunya akses utama untuk siswa yang akan berangkat menuju Sekolah. Saat ini kondisi jembatan gantung yang terbuat dari batang bambu dengan diikat oleh sambungan kawat kecil sudah tidak layak untuk dilewati. Beberapa bagian jembatan untuk pegangan keselamatan terlihat sudah mulai berjatuhan. Hal itu tentu membuat pengguna yang akan melintasi harus ekstra berhati-hati.

Untuk diketahui jembatan yang biasa dilewati oleh ratusan warga di Desa Lewi Ipuh tersebut. Tak hanya digunakan untuk keperluan akses pendidikan, warga yang mayoritas bekerja menjadi buruh dan petani di perkebunan kelapa sawit juga setiap hari kerap menggunakan jembatan reyot tersebut. Menurut mereka jembatan yang ada di sana sebagai alat pemopang utama untuk perekonomian. Sementara untuk perawatan dan perbaikan mereka hanya mengandalkan hasil swadaya dan gotong royong. Pasalnya bantuan perbaikan dari pemerintah pusat sendiri maupun daerah tidak pernah ada dan tak pernah terealisasikan.

Pantauan di lokasi Kamis (31 / 10 /2019), puluhan siswa sedang ekstra berhati-hati untuk menyebrangi jembatan reyot tersebut. Mereka meniti dua bambu menempel dikawat terbentang diatas sungai. Satu-per satu mereka yang akan menyebrang memanfaatkan kedua tangan untuk memegang pegangan bambu dengan kuat, selanjutnya kedua kaki berpijak diatas batang bambu reyot yang sudah diikat untuk tiba disebrang sungai.

Aktifitas seperti itu kerap kali dilakukan oleh puluhan siswa di SDN 2 Desa Lewi Ipuh, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, Banten. Hal itu mereka lakukan setiap kali saat akan berangkat dan pulang sekolah.

Jika tak berani melintasi jembatan bambu yang reyot dan sudah keropos tersebut, para siswa harus memutar berjalan kaki dengan jarak sekitar lima kilometer untuk sampai ke sekolah mereka.

Selanjutnya, pada saat musim hujan tiba, kondisi air akan meluap dan terkadang banjir sehingga jembatan menjadi licin tertutup oleh air.Sementara itu pada saat musim kemarau kondisi dibawah jembatan terlihat batu-batu besar yang memang sangat menakutkan seandainya terjatuh.

Neneng (11) tahun pelajar dari Kampung Cigedang, Desa Lewi Ipuh, Kecamatan Banjarsari mengatakan dirinya setiap hari bersama puluhan teman-temanya sering melewati jembatan gantung untuk pergi ke sekolah yang kondisinya reyot. Ia mengaku  deg-degan dan takut ketika sudah berada di pertengahan jembatan, karena kondisi bambu untuk pegangan sudah berjatuhan dan kawat untuk pengikat bambu sudah banyak yang putus.

“Jarak dari rumah sangat jauh kalau tak memutar dan harus melewati jembatan kalau seandainya ingin dekat. Bisa sampai satu jam kalau gak muter, sementara kalau melintas ke sini, paling 30 menit,”terangnya.

Hal yang sama diungkapkan Jeri 10 tahun siswa SDN 2 Lewi Ipuh mengaku terpaksa melewati jembatan reyot itu, karena seandainya kalau tak lewat jembatan tersebut kondisi waktu juga lebih lama. Tapi seandainya kondisi banjir atau musim hujan, Jeri sendiri tak berani melintasi jembatan sendirian karena kondisi jalanan dan jembatan yang licin.

“Semoga jembatan di sini menjadi perhatian buat pemerintah pusat dan daerah, karena kami sangat membutuhkanya.”harapanya.

Di tempat yang bersamaan Dede 38 tahun warga Kampung Cigedang, Desa Lewi Ipuh, Kecamatan Banjarsari mengaku bahwa jembatan penghubung di tiga desa itu sudah puluhan tahun tak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Menurutnya kalau seandainya cuaca sedang hujan kondisi sangat menakutkan dan berbahaya untuk dilalui. Lebih lanjut kata Dede jika jembatan rusak perbaikan hanya dilakukan oleh warga.

“Padahal kami yang tinggal di Cigedang kalau seandainya ada keluarga meninggal sering kali membawa jenazah dan dikuburkan di sebrang sana. Artinya kita gunakan jembatan ini untuk dilewati bersama jenzah yang telah meninggal. Tempat makamnya berana di sebrang,”ungap Dede sambil menjuk ke arah tanah pemakaman umum warga Cigedang, Rabu 30 Oktober 2019.

Uum 34 tahun salah satu orang tua siswa di Desa Cigendang, Desa Lewi Ipuh, Kecamatan Banjarsari membenarkan tentang kondisi jembatan reyot yang terjadi di Desanya. Bahkan Uum mengatakan bahwa dulu pada tahun 2000 dirinya pernah tergelincir karena kondisi cuaca yang licin dan hampir jatuh. Beruntung sampai saat ini, dirinya masih diberikan keselamatan.

“Pernah dulu, hampir saya jatuh ke bawah, waktu akan pindahan dari kampung sebelah. Yang jatuh hanya barang-barang perabotan.”tutunya.

Dijelaskan Uum kejadian itu membuat dirinya terauma untuk melwati jembatan itu, tapi anak-anak masih melintasi jembatan, Sebelum perisntiwa yang saya alami, sempat juga ada yang jatuh ke bawah bahkan kondisi punggungnya patah dan sekarang bungkuk.

“Orangnya ada sekarang, masih hidup, Cuma agak kurang dengar mengingat usianya sudah memasuki 70 tahun. Waktu ia jatuh sekitar tahun 1996.”bebernya.

Ketua RT/RW 016/03 Sidan tidak memungkiri bahwa sudah pernah ada warganya yang melintasi jembatan reyot meninggal dunia di Kampung Bedeng. Warga yang meninggal itu bernama Herman, ia meninggal karena jatuh kebawah, karena memang ketinggian jembatan kebawah juga lumayan tinggi. Seharunya dengan kejadian meninggalnya Herman itu bisa menjadi perhatian serius oleh pemerintah daerah maupun pusat.

“Warga di sini sangat beharap bisa dibangun jembatan karena memang satu-satunya akses utama untuk memasarkan hasil bumi, kami sangat kesulitan untuk memasarkan hasil bumi luar daerah,”terangnya.

Menurut Sidan selama ini, dirinya sering mengajukan untuk perbaikan jembatan reot ini kepada pihak desa. Menurutnya selama lima kali pergantian kepala desa tak ada satu pun yang merealisasikannya. Dirinya berharap ke pemerintah bisa turun dan meninjau lokasi jembatan itu. Dijelaskan Sidan bahwa jembatan itu ada sudah puluhan tahun bahkan ratusan pada saat dirinya belum lahir dan belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Masih kata Sidan bahwa setiap kali jembatan itu rusak, dirinya sering meminta kawat ke perushaan sawit dan dikerjakan bersama dengan masyarakat. Selama ini dirinya hanya memanfaatkan kawat pemberian dari perusahaan. Lebih lanjut Sidan menuturkan bahwa pihaknya sudah beberapa kali mengajukan ke desa atau kecamatan. Tapi sampai saat ini belum ada tanggapan dan perbaikan.

“Sebenarnya jembatan gantung ini sudah tak layak untuk digunakan, hal ini tentu untuk menghindari korban kecelakaan. Kita berharap dalam waktu dekat bisa dibangun jembatan.”ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Lewi Ipuh Ade Yusuf 45 tahun mengakui bahwa sudah puluhan tahun jembatan di Desanya belum pernah ada perbaikan baik itu dari pemerintah maupun pihak swasta,”Selama ini perbaikan dari pemerintah daerah atau pun pusat. Kalau rusak perbaikan hanya melalui swadaya masyarakat,”tutup Ade. (Jumri)

 

Share This: