Dengan Dua Kodi Kain, TIka Kartika Memulai Bisnisnya 

Tika Kartika (tengah) diapil oleh artis film Acha Septriasa dan Inggrid Widjanarko dalam selamatan film "Cinta Dua Kodi" yang mengangkat kisah hidupnya, di Jakarta, Sabtu (4/2). - Foto: HW)
_

Di kalangan ibu-ibu rumahtangga kebanyakan – terutama kalangan menengah ke atas — nama Keke Busana mungkin sudah tidak asing lagi. Keke Busana adalah sebuah merek cukup terkenal untuk busana muslim dan baju anak-anak, yang pemasarannya sudah merata di berbagai daerah di Indonesia. Ratusan ribu potong busana ke luar dari pabriknya di kawasan Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, untuk didistribusikan ke seluruh Indonesia, setiap tahunnya. Banyak tenaga kerja yang terlibat di sana.

Namun sukses tidak datang begitu saja. Tidak seperti hujan yang turun dari langit, dengan prosesnya yang begitu cepat. Tika Kartika (kini 50 tahun), wanita beradarah Sunda- Jawa, sang pemilik Keke Busana, merintis usahanya dengan susah payah, melalui perjuangan berat bersama suaminya, Fahrul Hamid yang berdarah Minang.

Tika memulai bisnis di tahun 2006, disaat krisis moneter tengah melanda Indonesia. Tika memutuskan berhenti bekerja untuk memulai bisnisnya. Meskipun pada awalnya sang ayah kurang menyetujui pilihan bunda Ika dalam berbisnis pakaian, namun ketika melihat kegigihan sang puteri dalam menjalankan bisnisnya yang pantang menyerah pada akhirnya keluarga memberikan support.

Awalnya dia harus jatuh bangun untuk memulai bisnis. Membeli bahan pakaian di Pasar Tanah Abang dari tempat tinggalnya di Bojong Gede, Bogor, menggunakan sepeda motor bersama suaminya. Rasa lelah dan ngantuk harus dilawan demi mendapatkan kain yang lebih murah dan sesuai jenisnya. Bahkan pernah kainnya yang ditaruh di dalam karung, jatuh dari motor tanpa diketahui oleh suaminya.

Dengan 2 kodi pakaian, atau 40 potong baju yang dihasilkannya, ia jajakan dari pintu ke pintu. Ternyata kerja kerasnya membuahkan hasil. Busana buatannya diminati oleh konsumen, sehingga Tika dan suaminya terpacu untuk memproduksi lebih banyak dan lebih baik lagi. Keberhasilan itu juga tidak lepas dari bantuan Ibu Rus, seorang wanita yang setia bekerja dengannya. Tika menamakan merek busananya, Keke Busana. Keke diambil dari kata bahasa Sunda kekeuh, yang artinya gigih, keras hati.

Namun melihat perkembangan bisnis yang begitu cepat, Tika berpikir untuk mencari orang yang cakap, memiliki wawasan luas dan mampu mengembangkan usahanya. Maka direkrutlah Rendy Saputra, anak muda kelahiran Balikpapan, 1 Juli 1986 yang gagal meneruskan studynya di Jurusan Teknik Perminyakan ITB.

Rendy merupakan anak muda yang cakap, memiliki wawasan dan visi bisnis yang luas. Dia mampu meningkatkan produksi Keke Busana dalam waktu yang cepat. Namun dengan kehadiran Rendy, peran Bu Rus yang awalnya cukup penting, mulai tergeser. Bu Rus lalu mengundurkan diri. The Show must Go On. Di tangah Rendy, kemajuan perusahaan meningkat pesat.

Dari dua kodi itulah, delapan tahun kemudian, Keke berhasil memproduksi busana Muslim khusus anak-anak sebanyak 300 ribu potong dengan area distribusi seluruh Indonesia. KeKe Busana mengakui bisnis busana Muslim pangsa pasarnya terus meningkat.

Keke Busana juga tidak ingin menikmati sukses sendirian. Tika dan Rendy ingin menularkan keberhasilan mereka kepada orang lain. Untuk itu didirikanlah Sekolah Bisnis “Dua Kodi Kartika”, sekolah bisnis berbasis online dengan media video sebagai konten pembelajaran utama.

Kini Tika Kartika telah menikmati jerih payah perjuangannya. Hidupnya sejahtera, bisa menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri, dan tentu saja berbagi dengan orang lain yang membutuhkan. Nama Tika Kartika dikenal sebagai tokoh wanita entrepreneur sukses di Indonesia.

Namun demikian ia tidak lupa diri. Ia tetap menyadari kodratnya sebagai wanita. “Kita sebagai perempuan diberi kebebasan untuk mengekspresikan diri tanpa kita melupakan siapa peran kita sebenarnya. Kita sebagai isteri, sebagai ibu, pengatur rumah tangga,” katanya kepada Balaikita ketika bertemu di Jakarta, Sabtu (4/3) siang.

Tika Kartika juga sangat menghormati suaminya, belahan jiwa yang juga sangat berjasa dalam perjalanan hidupnya. Menurutnya, sehebat apa pun seorang perempuan, tidak boleh melupakan kodratnya sebagai isteri, sebagai ibu.

“Bagaimana pun suksesnya seorang perempuan di baliknya karena bimbingan suami. Saya tetap memposisikan suami sebagai imam,” katanya.

“Soal bisnis, sah-sah saja, sepanjang tidak melanggar syariat islam. Yang penting dapat restu suami. Saya bisa seperti ini karena mendapat restu suami.”

Menurut Tika, dulu sering dikatakan tempatnya perempuan itu ada di dapur, harus nurut apa kata orang. Sekarang perempuan berperan dalam membantu perekonomian keluarga.

“Saya kepinginnya ke depan tidak ada lagi pengkotak-kotakan gender, karena di pemerintahan pun sekarang masih ada diskriminasi gender,” Tika mengakhiri bicang-bincang, karena acara di mana ia harus tampil akan dimulai.

Acara yang dimaksud adalah penjelasan tentang rencana pembuatan film Cinta Dua Kodi yang mengangkat kisah perjalanan hidupnya. Film ini dibuat berdasar novel karya penulis Asma Nadia, dan akan dibintangi oleh, antara lain Acha Septriasa.

“Basicnya cerita film ini adalah bisnis keluarga. Tapi namanya film, ada kepentingan bisnis, dibuat juga seperti fiksi. Fifti fifty antara kisah hidup yang sebenarnya dengan fiksi,” tutur Tika.

 

Share This: