Dengan Tangan Diborgol, Artis Sisca Dewi Hadiri Persidangan di PN Jaksel

_

Mengenakan kerudung putih, baju gamis putih dengan rompi tahanan nomor 07, Sisca Dewi berjalan meninggalkan ruang sidang dikawal petugas kejaksaan. Matanya merah menahan tangis. Tangannya diborgol, persis tersangka terorisme.

Tidak banyak yang bisa disampaikan Sisca Dewi. Ia seperti sangat tertekan, gerak-geriknya kini diawasi. 

“Tapi sampai kapanpun saya akan tetap berjuang menegakan kebenaran,meski sekarang hanya mendapat dukungan dari ayah dan ibu saya,”kata Sisca Dewi sambil menahan tangis.

Selasa (12/12/2018) artis berusia 40 tahun pada 12 Maret 2019 ini baru saja mengikuti persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sebagai terdakwa kasus pencemaran nama baik dan pemerasan terhadap perwira tinggi kepolisian Irjen Bambang Sunarwibowo.

Sejak Agustus 2018 Sisca Dewi mendekam di Rutan Pondok Bambu,Jakarta Timur. Semua berawal dari laporan Irjen Bambang Sunarwibowo, yang diakui oleh Sisca sebagai suami sirinya.

Status pernikahan dengan perwira tinggi kepolisian itu muncul tersebar ke publik, setelah Sisca mengunggah foto-fotonya berdua dengan Irjen Bambang Sunarwibowo di akun media sosialnya. Sisca Dewi mengaku sudah menikah siri dengan Irjen Bambang pada 17 Mei 2017 di Putri Duyung Ancol, Jakarta Utara. Sebagai mahar, Sisca diberi rumah di di Jalan Pinguin, Bintaro, Jakarta Selatan.

Namun Irjen Bambang membantah pernyataan itu. Irjen Bambang mengaku jadi korban. Ia diancam agar mau menikahi Sisca. Karena ulah Sisca, Bambang  mengaku digeser jabatannya dari Asrena Polri ke BIN, keluarganya berantakan. Bahkan anaknya hampir bunuh diri, serta istrinya mengajukan cerai.

Tapi Sisca berkelit,bagaimana bisa seorang perwira tinggi diancam seorang perempuan? Apalagi hubungannya dengan Irjen Bambang berjalan alamiah. Menikah karena sama-sama cinta. Sebelum menikah, Irjen Bambang bahkan sudah pernah bertandang ke rumah orang tua Sisca di Madiun, Jawa Timur. 

Sisca Dewi meyakini sudah menikah siri dengan Irjen Bambang pada 17 Mei 2017 di Putri Duyung Ancol, Jakarta Utara. Sebagai mahar, Sisca diberi rumah di di Jalan Pinguin, Bintaro, Jakarta Selatan. Setelah ia ditahan dan kasusnya bergulir ke pengadilan rumah itu disita sebagai barang bukti.

Sisca Dewi merasa pernikahannya sah secara hukum agama. Namun yang membuatnya kecewa,saksi-saksi pernikahan itu kini berbalik menyerangnya. Mereka tidak mengakui telah menjadi saksi.

Begitu juga saksi-saksi yang meringankan di persidangan. Mereka mendadak tidak mau jadi saksi dan diduga karena intimidasi dari pihak-pihak tertentu. Akibatnya,posisi Sisca Dewi kini terpojok.

Akibat dibui, tak hanya tersiksa secara batin, kesempatan untuk menduduki kursi di DPR kini sirna. Hal ini lantaran haknya untuk mendapat kursi lewat Pergantian Antar Waktu (PAW) tidak kunjung terlaksana. Sisca merasa menjadi korban dari kesewenang-wenangan suaminya,termasuk pihak-pihak di DPP Hanura,partai yang selama ini menjadi tempatnya bernaung.

“Saya berharap ada keadilan. Sebagai perempuan,saya tidak memiliki kekuatan. Tidak layak saya harus meringkuk di tahanan. Ke persidangan dengan borgol di tangan,seperti teroris. Tolonglah saya,”pungkas Sisca Dewi. Sidang kasus dugaan pencemaran nama baik dan pemerasan terhadap Irjen BSW dengan terdakwa Sisca Dewi kembali dilanjutkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (11/12/2018).

Sisca Dewi di depan majelis hakim diketuai Hakim Riyadi Sunindyo Florentinus, menceritakan awal pertemuan dengan Irjen BSW. Sisca menyebut saat itu ia dikenalkan seorang temannya dari Partai Hanura yang bernama Ami pada bulan Januari tahun 2016.

“Saat itu dia menawarkan saya mau join enggak. Dia bilang ada kerjaan di Mabes. Terus saya tanya,’Mbak kalau di sana perputaran uang cepet enggak?’ Saya kan juga bisnis mobil butuh perputaran cepat,” kata Sisca Dewi.

Ia menilai, saat itu pertemuan tersebut pertemuan yang biasa karena ada urusan pekerjaan dan diajak oleh temannya.

Pada bulan Febuari kembali bertemu dengan Irjen BSW bersama Ami serta lima orang lainnya dari Partai Hanura.

“Perkenalan itu biasa saja. Lalu ada pertemuan kedua Febuari saya lupa tanggalnya. Itu dalam rangka silaturahmi saja ke ruangannya,” katanya.

Pertemuan tersebut kembali berlanjut. Sisca menyebut pada tanggal 16 April 2016, BSW mengundangnya ke salah satu restoran. Sejak saat itu komunikasinya dengan Bambang semakin intens.

“Itu tanggal 16 April beliau mengundang saya mengajak saya makan malam di hotel dan di situ ada restoran Jepang. Setelah pertemuan itu komunikasi kami semakin intens,” kisahnya.

Ketika jaksa penuntut umum menanyakan terhadap terdakwa hubungan dengan korban kurang harmonis pada bulan Desember 2017, Sisca bercerita pada bulan Desember 2017 mulai cekcok gara-gara masalah email akun Instagram saya diretas.

“Lalu bulan Januari, Februari, Maret 2018 saya mulai loss contact,” paparnya.

Sisca mengaku ia memang mencintai BSW sehingga ia mau menjalani hubungan.

Dalam percakapan WA yang dibuktikan Jaksa, Jaksa bertanya siapakah Gentolet?

“Itu panggilan ketika saya lagi kesal kepadanya,” ucapnya.

Sisca Dewi pernah menghadiahkan sebuah mobil Range Rover Bernopol B 24 BSW seharga Rp 3,9 miliar secara kredit.

“Waktu itu ia sempat ingin punya mobil Range Rover lalu saya inisiaitif membelikan mobil Range Rover seharga Rp 3,9 miliar dan saya buat plat nomor B 24 BSW angka 24 itu tanggal kelahirannya, saya pesan tahun 2017 pakai uang saya nyicilnya,” ucapnya.

Sidang ditunda hingga Kamis (13/12/2018) untuk agenda tuntutan dari JPU.

 

 

Menanggapi hal ini, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menilai kasus Sisca Dewi versus Irjen Bambang Sunarwibowo tak seharusnya berakhir di meja hijau. Seharusnya, ujar dia, cukup berakhir di perbincangan keluarga. Perkara tersebut dapat kelar dengan musyawarah.

Adapun kasus yang kadung terbuka untuk publik, menurut Neta, selain dapat memunculkan stigma, juga memancing Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bertindak.

 

 

 

 

 

 

 

Share This: