Di Kamboja Dolar Lebih Disukai Daripada Uang Negara

_
Tuk-tuk (becak bermotor) selalu memasang tarif dengan dolar (Foto: HW)

Semua negara pasti memiliki mata uang sendiri sebagai alat pembayaran di dalam negeri. Pembayaran dengan mata uang asing jarang dilakukan kecuali untuk kepentingan tertentu. Di Indonesia misalnya, masyarakat pada umumnya selalu menggunakan mata uang Rupiah dalam transaksi sehari-hari. Jangan coba-coba membayar makan di Warteg atau bayar mikrolet memakai mata uang asing seperti dolar Amerika yang sudah terkenal di seantero jagat, bakal diomelin.

Di Kamboja, salah satu negara ASEAN yang letanya bersebelahan dengan Thailand, Vietnam dan Laos, justru uang dolar sangat disukai oleh masyarakatnya. Transaksi apapun bisa dilakukan dengan dolar. Mulai hotel bintang lima, departemen store besar, restoran cepat saji hingga ke pedagang tradisional terbiasa dengan alat pembayaran dolar. Angkutan umum seperti taksi, bus antarkota hingga tuk-tuk, selalu memasang harga dengan dolar.

Kamboja sebenarnya punya mata uang sendiri, Riel namanya. Satu Riel setara dengan Rp.3,3. Entah kenapa nilai Rupiah lebih rendah dibandingkan mata uang negara yang lebih kecil dan lama dikoyak perang ini. Baik perang saudara maupun ketika sebagian masyarakatnya mengangkat senjata melawan Amerika.

Kembali ke soal pembayaran, semua orang Kamboja lebih suka barang dan jasanya dibayar dengan dolar Amerika. Mereka akan memasang harga barang atau tarif jasa dengan dolar. Mereka juga mau dibayar dengan riel, tetapi patokannya terlebih dahulu dolar. Sebagai contoh jika kita makan di warung, harga yang tercantum adalah dolar. Jika kita ingin membayar dengan riel, maka harganya dikonversi dari nilai dolar yang ditawarkan.

Bagi kita orang asing di Kamboja, jangan tertipu dengan jumlah angka yang ditawarkan dengan dolar. Kita harus cepat membayangkan jika itu membayar dengan rupiah.

Contohnya jika kita ingin naik tuk-tuk jarak pendek, pengemudinya akan memasang tarif 5 dolar. Jangan terpaku dengan angka limanya yang terkesan kecil, tapi pikirkanlah berapa kalau dikonversi dengan rupiah. Jika kurs 1 dolar saat ini Rp,1.300, maka untuk jarak pendek sekitar 4 kilometer kita harus bayar Rp. 65.000. Kalau kita naik taksi online di Jakarta, uang sebesar itu sudah sampai ke Bekasi. Makanya harus berani nawar serendah mungkin.

Begitu pula dengan harga yang ditawarkan. Selain harga makanan yang sudah tercantum dalam menu, harga barang di pasar bisa ditawar. Oleh karena itu tawarlah serendah mungkin. Ingat kita akan membayar dengan dolar.

Central Market, pusat penjualan batu mulia di Pnom Penh, Kamboja, transaksi umumnya menggunakan dolar (Foto: HW)

Salah satu kegemaran orang Indonesia ketika berada di luar negeri adalah shoping (berbelanja). Barang yang dicari umumnya untuk oleh-oleh (souvenir) bagi diri sendiri, keluarga, kerabat atau sahabat.
Di Pnom Penh ada dua tempat belanja souvenir yang terkenal, yakni Central Market dan Toung Tom Puong Market atau Russian Market. Di Central Market terdapat pusat penjualan batu-batu mulia – entah asli atau palsu – yang indah-indah. Di Russian Market juga ada toko permata, tetapi sedikit. Di sini lebih banyak tekstil.

Barang-barang di kedua tempat ini tidak diberi label harga, Para pedaganglah yang memberikan harga. Misalnya sebuah batu oval kecil dengan ikatan perak dibanderol seharga 30 dolar, lalu yang lebih besar 100 dolar. Jika kita pandai menawar, barang yang kecil bisa diperoleh dengan harga 10 dolar, dan yang besar bisa separuhnya. Bayangkan berapa nilai uang yang harus kita bayar jika tidak menawar. Kuncinya kalau mau berhemat adalah menawar.

Kamboja bukan satu-satunya negara yang menerima dolar sebagai alat pembayaran sehari-hari. Tetapi kegilaan terhadap uang dolar sampai merasuk ke akar rumput terjadi di Kamboja. Apakah bangsa Khmer (Kamboja) tidak memiliki rasa nasionalisme? Tentu saja punya. Rasa nasionalisme Bangsa Khmer sangat tinggi. Mereka menggunakan bahasa dan huruf sendiri di berbagai tempat. Soal kecintaan terhadap dolar, mungkin karena berpikir keuntungan saja. Di Kamboja, dolar lecek pun diterima.

Share This: