Direktorat Film, Musik dan Media Baru Akan Fokus Tingkatkan Kemampuan SDM

_

Untuk menangani perfilman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) membentuk sebuah direktorat baru bernama Direktorat Film, Musik dan Media Baru.

Namun demikian fungsi yang dijalankan oleh Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film) tidak berubah.

Direktur Film, Musik dan Media Baru Ahmad Mahendra menyampaikan hal itu dalam diskusi digital Senin (25//2020) yang diikuti oleh sejumlah wartawan dan narasumber lain.

Selain Ahmad Mahendra, narasumber lainnya adalah Ketua GPBSI Djonny Syafruddin, Ketua DPO PPFI Firman Bintang, Anggota LSF Noorca M. Massardi, sutradara Anggi Umbara dan aktris film Putri Ayudhia.

Menurut Mahendra, sejak dilantik Januari 2020 ini direktorat yang dipimpinnya belum dapat menjalankan program. Akan tetapi banyak program yang sudah disiapkan.

“Janji presiden adalah melakukan film dan musik. Fokua kita adalah meningkatkan SDM.
Kita perbanyak SDM film, memperkuat sekokah film yang kadang tidak terkait kebijakan film. Apakah kurikulumnya atau prakteknya,” kata Mahendra.

Direktorat juga akan menoerkuat vokasi dan distribusi. Jika selama ini bioskkp hanya ada di kota besar, direktorat akan bkerjasama dengan pemda dan komunitas.

“Kita sampai ke kabuoaten untuk membangun bioskop baru. Kita akan membuat platform berbayar, sehingga menpercepat distribusi. Demgan teknologi akan kita bantu sehingga memperceoat apresiasinya,” tambah Mahendra.

Untuk memperkuat konten film Indonesia, direktorat bekerja sama dengan Pemda, mengadakan pelatihan pembuatan skenario.

Menanggapi pernyataan Mahendra, Ketua GPBSI  Djonny Sjafruddin memperbaiki pajak hiburan. Saat ini pajak bioskop masuk kategori pajak hiburan yang mencapai 30 persen.

“Pemerintah pusat, apakah melalui revisi dari kemendagri dan kemenkeu pajak itu cukup 10 persen. Tarif itu harus sama di semua daerah.
Cari yang mudah dulu. Tentang nobar itu kita kan pernah beli mobilnya. Di mana itu sekarang?” kata Djonny.

Selama pandemi Covid-19 bioskop di seluruh Indonesia tutup.  Sampai saat ini bioskop masih menunggu situasi kondusif.

“Kita wait and see (unruk buka) di Jakarta. Daerah tergantung jakarta juga,” tambah Djonny.

Kalangan produser, juga termasuk yang terkena pukulan dengan adanya pandemi covid-19 ini. Namun menurut Firman Bintang, produser Indonesia sudah berpengalaman menghadapi hal itu.

“Produser yang ada sekarang umumnya lulusan PPFI, umumnya sudah terbiasa menghadapi pasang surut. Saya kira kalau keadaan normal, produser kita akan segera bangkit,” kata Firman, seraya meminta agar anggara dari pemerintah digunakan untuk membantu masyarakat film.

Sutradara Anggi Umbara mengungkapkan banyak pekerja film yang kondisinya sangat memprihatinkan karena Terdampak Pandemi Covid-19. Dia berharap ada bantuan dari pemerintah untuk menyelamatkan pekerja film.

“Kita harus tetap menggaji karyawan kita. PH-Ph besar sudah mulai merumahkan karyawan. Kalau tiga bulan begini terus, mungkin kita mulai jual-jual barang,” kata Anggi.

Amggota LSF Noorca Massardi menjelaskan,
film yang tayang di televisi tidak hanya melalui sensor, tapi ada KPI. Noorca menjelaskan hal itu menanggapi pertanyaan audiens mengenai peranan LSF terhadap film yang tayang di televisi.

Noorca juga menjelaskan pentingnya sosialisasi mandiri untuk mendidik masyarakat, dalam memilih film yang akan ditonton.

Sebagai pekerja seni aktris Putri Ayudhia berharap ada aturan yang jelas bagi pekerja film yang akan melakukan syuting. Apakah setiap syuting perlu melakukan rapid tes atau tidak.

“Dulu BPI pernah mengeluarkan panduan itu, tapi sampai sekarang belum disahkan,” kata Putri.

Share This: