Disainer Tenun dan Songket Anna Mariana Akan Didik Warga Binaan Menenun

_

Seperti tak ada habis-habisnya enerji yang dimiliki oleh disainer tenun dan songket Anna Mariana. Setelah membina para penenun dan songket di berbagai daerah, khususnya Pulau Bali; memberi kesempatan kepada anak-anak yatim piatu dari beberapa pondok pesantren, pemilik rumah tenun dan songket “Marsya” ini juga akan mendidik warga binaan (penghuni lapas wanita) untuk belajar menenun.

Anna Mariana (kiri) dan Tri Palupi . (HW)

Janji itu disampaikan Anna Mariana ketika menjadi pembicara dalam talkshow bertajuk “Kemandirian Perempuan Yang Berhadapan Dengan Hukum” yang berlangsung di kantor Dirjen Pemasyarakatan Jakarta, Kamis (24/4/2019).

Talkshow yang diadakan dalam rangka Bakti Pemasyarakat ke-55 dan Hari Kartini 2019 itu juga menghadirkan pembicara Bupati Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany, Mantan Deputy Gubernur BI Miranda Gultom, aktivis dari Rumah Berbagi Dra. Tri Palupi, dengan moderator Anie Rachmi dari Metro TV.

Dalam pemaparannya Anna Mariana mengatakan, wanita yang terjerat hukum dan harus mendekam di dalam penjara, banyak yang menjadi korban dari keadaan. Pada dasarnya mereka bisa menjadi baik dan bermanfaat dalam hidupnya, asal mereka diberi kesempatan dan diarahkan dengan benar. Salah satunya adalah dengan mendidik mereka di bidang ketrampilan, sehingga mereka bisa menguasai ketranpilan tertentu, yang akan berguna bila kelak mereka kembali ke masyarakat.

“Tadi saya sudah bilang sama Bu Dirjen, bahwa saya bersedia untuk mendidik mereka dalam menenun. Bu Dirjen setuju. Tapi tidak semua lapas dalam menyediakan tempat pelatihan, karena alat-alat menenun itu cukup besar, sehingga memerlukan ruangan yang cukup,” kata Anna Mariana.

Tidak hanya mendidik warga binaan menenun, Anna juga akan memberi mereka kesempatan untuk bekerja atau menjalankan bisnis di bidang tenun, jika kelak mereka ke luar dan sudah memiliki ketrampilan.

“Mengajar mereka menenun ketika mereka berada di lapas, memang mudah. Tapi bagaimana setelah itu. Karena bisa membuat saja tanpa tahu bagaimana memasarkannya, akan sia-sia. Nah itu juga yang akan saya bantu. Kalau mereka mau bekerja saja juga boleh. Yang penting setelah keluar dari lapas, mereka jadi orang berguna,” tandas Anna.

Mantan Deputi Gubernur BI Miranda Gultom yang pernah menjadi penghuni lapas selama 3 tahun memaparkan, pendidikan ketrampilan di dalam lapas seringkali sia-sia karena warga binaan yang telah bebas tidak tahu akan berbuat apa setelah ke luar.

“Mereka diajarkan membuat tas, tetapi ketika keluar mode tas yang dibuatnya sudah ketinggalan, tidak ada yang mau beli. Akhirnya sia-sia kan pelajaran yang dia dapat? Yang penting adalah, bagaimana mengarahkan mereka setelah ke luar. Itu sudah dilakukan di Amerika sana. Sementara kita, setelah penghuni lapas ke luar, didiamkan saja. Tidak heran kalau mereka berbuat kriminal lagi, nipu lagi,” tandas Miranda.

Walikota Tangsel Airin Diani mengungkapkan, yang membuat penghuni lapas dan keluarganya terpuruk adalah stigma masyarakat. Seolah-olah orang yang sudah pernah masuk ke penjara tidak bisa diperbaiki lagi.

“Stigma itu juga saya rasakan. Tetapi saya tidak memperdulikan semua itu. Saya mencoba melawan dengan bekerja sebaik-baiknya untuk kepentingan masyarakat,” kata Airin.

Tri Palupi dari Rumah Berbagi mengungkapkan, apa yang dilakukan selama ini adalah karena empati terhadap penghuni lapas. Semua dilakukan bersama teman-temannya tanpa bantuan dari pemerintah. Tri dan kawan-kawannya mengunjungi lapas demi lapas untuk berbagi, terutama makanan.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia, Sri Puguh Budi Utami mengungkapkan, penghuni lembaga pemasyarakatan (Lapas) dan rumah tahanan (Rutan) indonesia, saat ini mencapai 265.308 orang penghuni Lapas dan Rutan. Wanita berjumlah 14.538 orang, ada juga bayi yang menyertai ibunya di dalam lapas dan rutan dengan jumlah 50 orang.

 

Share This: