D’Juntos, Bukan Sebuah Kafe Biasa

_

Setiap minggu kalau tidak ada acara penting, saya kerap menghabiskan waktu dengan berkendaraan sepeda motor. Saya selalu mencari tempat baru yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, terutama yang memiliki lingkungan asri dan menarik.

Dengan sepeda motor saya bisa “blusukan” ke mana saja, sambil membawa kamera dan perlengkapannya atau telepon genggam untuk memotret atau membuat video. 

Pekan lalu, ketika sedang berjalan menggunakan sepeda motor di kawasan Grand Depok City, Depok, saya melihat sebuah bangunan dua lantai yang unik dan menarik. Di pojok kanan bangunan itu ada sebuah badan bagian belakang mobil sedan berwarna hijau tergantung di dinding.

Saya menghentikan sepeda motor, lalu masuk ke area bangunan itu. Kepada seorang petugas keamanan yang berada di pojok bangunan, saya bertanya:

“Ini bangunan apa Pak? Kok bentuknya unik banget?”

“Ini kafe Pak, D’Juntos!”

“Kafe? Sudah buka?”

“Sudah, masuk aja Pak!”

“Boleh ngambil gambar-gambar Pak?”

“Sebentar Pak, saya tanya Pak Direktur dulu,” kata petugas keamanan tersebut, lalu masuk ke dalam restoran.

Tidak lama kemudian ia kembali bersama seorang lelaki berusia sekitar 60-an yang mengenakan peci putih. Badannya terlihat tegap. 

“Saya Ary Sanjaya,” katanya sambil menyodorkan tangan dan tersenyum ramah. Kami berbincang-bincang sebentar dan meminta ijin kepadanya untuk mengambil gambar restoran dengan disain unik yang dikelolanya. Dengan senang hati dia mempersilahkan. Saya lalu mengeluarkan telepon genggam yang biasa saya gunakan merekam video. Sang Direktur bahkan menemani saya memasuki bangunan yang dinding luarnya didominasi oleh kaca itu, sambil memberi penjelasan yang sangat detail.

Di dalam sudah ada beberapa pengunjung yang sedang makan atau ngopi sambil ngobrol-ngobrol dengan keluarga mereka. Ruangan utama di lantai dasar ini terlihat luas, ada beberapa buah meja dan kursi kayu yang bisa memuat puluhan orang sekaligus.

Di ruangan ini terdapat sebuah motor vespa antik berwarna orange yang menggantung dekat tempat barista meracik kopi dan kasir. Selain itu ada sepeda Onthel Jogya dan becak mini gandeng, dan perlengkapan makan dan minum antic di lantai dua. Ruangannya sejuk karena ada beberapa buah AC cukup besar yang terus menyala.

Pagi itu barista nampak sibuk membuat kopi pesanan pengunjung. Saya memesan secangkir kopi, dan minta kepada pelayan agar diletakan di sebuah meja agak di pojokan. Saya meneruskan “pekerjaan” merekam seluruh bagian ruangan dan pernak-perniknya yang ada dengan HP. Di sudut ruangan dekat tangga menuju lantai dua, potongan bagian depan mobil sedan berwarna hijau menempel di dinding. 

Saya naik ke lantai dua. Di sana juga terdapat sebuah ruangan utama berukuran kira-kira 10 X 15 meter, lengkap dengan meja dan kursi kayu yang sudah ditata seperti di dalam sebuah restoran. Di bagian kanannya ada dua buah ruangan yang masing-masing diberinama dengan bahasa Spanyol: Exito Room dan Experio Room. Iseng saya buka pintu ruangan itu, ternyata sebuah ruangan ber-AC yang sangat nyaman, ada meja dan kursi kayu yang disususu saling berhadapan, sebagaimana layaknya ruang rapat.

Seluruh meja, kursi kayu dan ornament kayu lainnya didatangkan khusus dari Jepara. Di sayap bagian kanan terdapat sebuah ruangan tanpa AC. Ruangan ini disediakan untuk pengunjung yang merokok. Pengunjung bisa menikmati makanan, merokok sambil melihat kendaraan yang lalu lalang di bagian depan bangunan. Oh ya, D’Juntos memiliki dua pintu masuk karena diapit oleh dua buah jalan raya, yakni antara Jalan Grand Depok City Boulevard dan Jl. Kalimulya. Sulit dibedakan mana bagian depan dan mana yang belakang.

“Kami memang menggunakan kata-kata bahasa Spanyol yang gampang diucapkan dan lebih mudah diingat. Nama restoran ini sendiri, D’Juntos berasal dari bahasa Spanyol. Juntos artisnya bersama,” kata Ary Sanjaya.

Setelah melihat-lihat seluruh isi ruangan dan ornamen yang ada, saya lalu kembali ke meja tempat kopi saya diletakan ditemani oleh Ary Sanjaya. Di tempat itu saya menerima penjelasannya lebih banyak tentang D’Juntos yang baru dibuka pada tanggal 25 Juli 2020 itu.

“Kafe ini memang usaha bersama,” kata Ary membuka pembicaraan. “Ada 140 orang pemegang sahamnya. Dulu kami adalah teman-teman dalam satu komunitas. Karena sering bertemu, maka kami berpikir untuk memiliki usaha bersama yang bisa mempererat hubungan kami dan siapa tahu ini juga akan men jadi lahan yang bisa memberi kami rejeki, walau pun tujuan utamanya adalah bagaimana agar kami juga bisa berbagi dengan orang-orang lain yang membutuhkan,” para Ary.

Seluruh pemegang saham itu lalu mendirikan sebuah badan usaha berbentuk PT yang diberinama PT. Daffa Dini Madani (DDM). Dengan modal yang ada, perusahaan lalu membeli tanah seluas 435m2 di kawasan GDC, lalu dibuat bangunan dengan arsitektur bercita rasa tinggi di atasnya. Pada 24 Juli 2020 seluruh pembangunan rampung, dan sehari kemudian diadakan peresmian pembukaan kafe. Nilai bangunannya sendiri mencapai Rp.3 milyar!

GDC dipilih karena kawasan ini terus berkembang sebagai hunian kalangan menengah ke atas, selain terdapat kantor-kantor pemerintahan Kotamadya Depok, Gedung Pengadilan, Kantor DPRD, imigrasi dan lain sebagainya.

“Kami menyediakan tempat senyaman mungkin untuk tamu. Kami sediakan ruang-ruang pertemuan mulai dari kapasitas 20 hingga 75 orang kepada komunitas-kominitas, kantor-kantor pemerintahan daerah, BUMN, kantor-kantor Partai Politik, organisasi-organisasi pengusaha, dan sebagainya. Mereka yang baru berolahraga ingin menikmati kopi dengan suasana santai, seperti komunitas anak-anak motor atau pesepeda, bisa bersantai di sini. Mereka bisa pilih apakah duduk di bagian luar atau di dalam,” tutur Ary.

Tidak hanya itu, D’Juntos juga akan membuat program-program yang dapat meningkatkan penjualan sekaligus beramal soleh, semisal mengadakan kegiatan makan bersama anak-anak yatim dan dhuafa; membuat kegiatan keagamaan bagi ibu-ibu majelis taklim; membuat program pelatihan fotografi; membuka pelatihan membuat makanan-makanan khas atau kegiatan apapun yang bisa menarik pengunjung.

Di kafe ini pengunjung bisa menikmati berbagai sajian mulai dari makanan dan minuman ringan sampai yang berat. Seperti ngopi hasil racikan barista berpengalaman ditemani oleh ubi rebus, pisang rebus, singkong rebus, kacang rebus, dan lain-lain.

Menu makanan yang disediakan umumnya masakan khas Nusantara. Masakan berbahan utama nasi saja ada Nasi Kebuli, Nasi Kuning Ambon, Nasi Liwet, Nasi Goreng Merah, Nasi Goreng Ijo, Nasi Goreng Hitam , Nasi Goreng Kampung dan Nasi Pecel Madiun. Dari jenis sayuran ada Tumis Kangkung, Tumis Tauge* dan Karedok.

Sedangkan makanan berkuah lainnya terdapat beberapa jenis sop dan soto seperti Sop Buntut, Sop Iga, Sop Iga Bakar, Sop Merah D’Juntos, Soto Betawi, Gurame dan Ikan Mas Mangut, Gulai Ayam dan Gulai Ikan serta tongseng. Makanan yang digoreng meliputi Bebek goreng khas D’ Juntos, Ayam Goreng dan Gurame Goreng. Yang menarik, menu makanan yang disediakan selain produk olahan chef sendiri juga ada produk kemitraan dengan pemegang saham, melalui sistem konsinyasi.

“Kami memilih makanan yang sudah terkenal di masyarakat, seperti tongseng yang sudah sangat terkenal di Jakarta, bebek goreng dari Surabaya. Semua melalui test food oleh chef kami yang sudah berpengalaman bekerja di kafe-kafe hotel di luar negeri,” ungkap Ary.

Melihat keunikan dan kemegahannya, D’Juntons bisa dikatakan menjadi salah satu  tempat makan yang bisa menjadi ikon Grand Depok City. Bila melihat luas bangunan dan ruangan-ruangan yang ada, kafe yang berada persis di sebelah kantor DPC Golkar Kodya Depok ini, cocok untuk tempat resepsi pernikahan dan acara-acara penting lainnya. Ini sesuai dengan mottonya, “Meeting Well, Eat Well”.

Obrolan saya dengan Pak Ary Sanjaya berlangsung cukup lama. Lelaki yang telah lama bertubuh tegap ini di masa mudahnya pernah menjadi wartawan, lalu beralih menjadi pengusaha. D’Juntos adalah salah satu jenis usaha baru.

Share This: