DR Anna Mariana, SH, MBA Berjuang Memperkenalkan Kain Tenun dan Songket ke Dunia

Dr. Anna Mariana bersama penenun songket Bali ketika tampil di sebuah stasiun televisi, Minggu (11/3). Foto: Dudut Suhendra Putra.
_

Dua orang penenun nampak asyik mendemonstrasikan keahliannya menenun dengan alat yang sederhana di studio Kompas TV Jakarta, Minggu pagi (11/3). Kedua penenun itu, Ketut  Puriani dan Wayan Ceprit memang sengaja dibawa dari Bali oleh Dr. Anna Mariana, MBA, disainer kain tenun dan songket untuk menunjukkan keahlian mereka kepada masyarakat, khususnya yang menonton Kompas TV pagi itu.

“Ini untuk memperlihatkan kepada penonton,  proses menenun tidak mudah. Harus bisa membuat singkronisasi gerakan kaki dan kedua tangan yang memegang alat tenun.  Butuh kemauan, kerja keras juga keahlian khusus,” ungkap Anna Mariana yang pagi itu didampingi nara sumber lain dari Bali yakni Nyoman Sudire (pengusaha dan pembina) dan Agung Tirta Rai (designer tenun) kepada pembawa acara.

Mereka lalu menjelaskan bagaimana proses pembuatan kain tenun, yang memakan waktu dan membutuhkan ketelitian. Selembar kain Tenun dan Songket yang cantik, diolah dengan durasi kerja yang panjang, bahkan sampai berbulan-bulan. “Paling cepat satu bulan, paling lama enam bulan atau bahkan bisa sampai setahun. Di hasil kerja itu terdapat identitas bangsa yang perlu terus menerus  dilestarikan,” ujar Anna Mariana, kelahiran 1 Januari 1960.

Dalam kesempatan itu Anna Mariana menjelaskan adanya perbedaan mendasar dari kain songket jaman dulu dengan hari ini. Di jaman dulu,  kain songket terasa tebal dan berat dan hanya bisa digunakan untuk acara-acara pernikahan maupun adat. Kini, kain songket terasa lebih ringan dan mudah untuk digunakan, karena  kualitas benang yang digunakan memang berbeda. Kebanyakan kain tenun sekarang dibuat dari benang katun dan sutera.

Kebaya dan kain tenun tradisional nampaknya telah lama tersisih dari persaingan mode di dunia modern. Saat ini sulit sekali menemukan wanita yang memakai kebaya berbahan tenunan tradisional, karena berbagai alasan.

Indonesia beruntung memiliki wanita seperti Dr Anna Mariana, SH, MBA, yang secara total menggeluti kain-kain tenun tradisonal, seperti songket dan tenunan tradisional Bali. Padahal latar belakangnya adalah seorang pengacara.

Anna Mariana yang berprofesi sebagai pengacara ini, rela membagi waktunya untuk mengoleksi, mendisain dan bahkan membina para penenun kain tradisional di berbagai daerah. Dia membina mereka agar kain tenun tradisional tetap bertahan di tengah gempuran tekstil buatan pabrik yang halus dan indah.

Pertama kali saya suka dengan kain songket, tenun, khususnya dari Bali dan daerah-daerah lain, berawal dari sejak saya di SMA. Waktu itu saya sudah senang sekali kalau melihat orang memakai kain. Saya dulu sangat senang sekali dengan Ibu Tien Soeharto. Dia begitu anggun kalau memakai kebaya. Ibu Kartini selalu menggunakan kain. Ibu saya dulu juga sejak saya kecil selalu menggunakan kain,” tutur isteri seorang Pejabat Tinggi di Kejaksaan Agung RI ini.

Menurut Anna, dia menekuni tenun tradisional sejak kira-kira sejak 25 tahun lalu, ketika ia menjadi notaris dan sudah berwiraswasta. “Dari situ saya bisa mulai menekuni kain. Karena sudah mulai berpikir bisnis, walau pun basic saya hukum, saya mulai belajar bisnis di Boston University, Amerika, saya mengambil manajemen bisnis. Supaya suatu saat kalau saya menangani bisnis, saya sudah memiliki ilmunya,” kata wanita kelahiran Solo, 1 Januari tahun 1960 ini.

Meski pun masih menggeluti profesinya sebagai pengacara, konsentrasi Anna Mariana terhadap kain tenun dan songket tidak luntur. Dia memiliki sebuah galeri di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan yang diberinama House of Marsya.

 Di tempat itu berbagai koleksi kain tenun dari berbagai daerah disimpan. Banyak kain-kain yang sudah tua dan berharga puluhan juta rupiah per lembar. Salah satu koleksinya pernah ingin ditukar dengan mobil mewah, tetapi tidak diberikan. Anna bahkan bercita-cita suatu saat akan membuat museum kain tenun tradisional, untuk menyimpan koleksinya.

Kain tenun kreasinya sudah diekspor ke  manca negara. Malah khusus untuk Dubai dan  Jeddah  baju – baju bermodel Gamis di sana biasanya cuma berwarna hitam, kini pakai tenun kreasi kain buatannya yang berwarna terang. Raja Salman dari Saudi Arabia  ketika  beliau berkunjung ke Bali, ia sempat memberikan kain tenun khusus untuk.

Persoalan yang dihadapi kain tenun dan songket adalah, sulitnya melakukan regenerasi di kalangan penenun. Anak-anak muda lebih memilih pekerjaan yang cepat menghasilkan uang. Sedangkan menenun pekerjaan yang banyak menghabiskan waktu, meski pun jika sudah jadi, harga kain tenun sangat tinggi nilai seni dan harganya.

Dr. Anna Mariana sendiri memilik koleksi yang berharga puluhan juta rupiah per lembar kain. Pernah salah satu kain koleksinya ingin ditukar dengan mobil oleh seseorang. Tetapi mengingat kelangkaan kain yang dimiliki, ia menolak permintaan itu.

Selain fokus memproduksi tenun dan melakukan pengembangan motif  baru seperti mengeluarkan seri baru untuk Tenun Betawi yang dilaunching Januari lalu, Anna mengaku juga menaruh kepedulian penuh terhadap  pengembangan regenerasi penenun. Ia mengajari anak-anak pesantren untuk membuat tenunan, dan setelah bisa diberdayakan.

“Regenerasi penenun itu penting. Jangan sampai produk tradisonal ini  punah hanya gara-gara tidak ada regenerasi. Saya ikut mengembangkan dan lahirnya generassi baru, mereka ini adalah anak-anak pesantren, anak putus sekolah. Kita memberdayakan tenaga dan kreativitas mereka, sambil juga memberikan mata pencaharian buat mereka!”

Dr. Anna Mariana terus berusaha memperkenalkan kain tenun dan songket karyanya serta berusaha memasyaraktkan kembali pemakaian kain-kain tradisional. Berbagai kegiatan di dalam dan di luar negeri diikuti, mulai dari fashion show, seminar-seminar atau berbagai kegiatan lain yang ada kaitannya dengan kain tradisional.

Isteri dari Jaksa Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, SH., MS., M ini sudah 33 tahun berkarya. Tapi ia tak pernah lelah untuk terus bergerak. Saat ini ia tengah memperjuangkan Tenun dan Songket untuk bisa diterima UNESCO sama seperti posisi kain Batik,  yang dimasukan dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity).  

“Kami sedang memperjuangkan itu. Kami juga memperjuangkan agar ada hari pemakaian Tenun di instansi pemerintah maupun swasta. Semoga Pemerintah Indonesia melihat  dan membantu, karena upaya  kami  ini adalah dalam rangka pelestarian budaya bangsa,” ujar wanita yang juga menjadi pengajar public speaking ini.

 

 

Share This: