DR Anna Mariana, SH, MBA: Kolektor, Disainer dan Pebisnis Kain Tenun Tradisional.

Dr. Anna Mariana, SH, MBA dengan koleksi kain tenun tradisonalnya. (Foto M Ihsan).
_

Kebaya dan kain tenun tradisional nampaknya telah lama tersisih dari persaingan mode di dunia modern. Saat ini sulit sekali menemukan wanita yang memakai kebaya berbahan tenunan tradisional, karena berbagai alasan.

Indonesia beruntung memiliki wanita seperti Dr Anna Mariana, SH, MBA, seorang wanita pengacara yang secara total menggeluti kain-kain tenun tradisonal, seperti songket dan tenunan tradisional Bali.Anna Mariana yang berprofesi sebagai pengacara ini, rela membagi waktunya untuk mengoleksi, mendisain dan bahkan membina para penenun kain tradisional di berbagai daerah. Dia membina mereka agar kain tenun tradisional tetap bertahan di tengah gempuran tekstil buatan pabrik yang halus dan indah.

Pertama kali saya suka dengan kain songket, tenun, khususnya dari Bali dan daerah-daerah lain, berawal dari sejak saya di SMA. Waktu itu saya sudah senang sekali kalau melihat orang memakai kain. Saya dulu sangat senang sekali dengan Ibu Tien Soeharto. Dia begitu anggun kalau memakai kebaya. Ibu Kartini selalu menggunakan kain. Ibu saya dulu juga sejak saya kecil selalu menggunakan kain,” tutur isteri seorang Pejabat Tinggi di Kejaksaan Agung RI ini.

Menurut Anna, dia menekuni tenun tradisional sejak kira-kira sejak 25 tahun lalu, ketika ia menjadi notaris dan sudah berwiraswasta. “Dari situ saya bisa mulai menekuni kain. Karena sudah mulai berpikir bisnis, walau pun basic saya hukum, saya mulai belajar bisnis di Boston University, Amerika, saya mengambil manajemen bisnis. Supaya suatu saat kalau saya menangani bisnis, saya sudah memiliki ilmunya,” kata wanita kelahiran Solo, 1 Januari tahun 1960 ini.

Meski pun masih menggeluti profesinya sebagai pengacara, konsentrasi Anna Mariana terhadap kain tenun dan songket tidak luntur. Dia memiliki sebuah galeri di kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan yang diberinama House of MarsyaDi tempat itu berbagai koleksi kain tenun dari berbagai daerah disimpan. Banyak kain-kain yang sudah tua dan berharga puluhan juta rupiah per lembar. Salah satu koleksinya pernah ingin ditukar dengan mobil mewah, tetapi tidak diberikan. Anna bahkan bercita-cita suatu saat akan membuat museum kain tenun tradisional, untuk menyimpan koleksinya. (*)

 

 

Share This: