Tak Perlu Pendidikan Yang Tinggi Mendidik Anak Autis

Foto: viva.co.id
_

Anak-anak autis ini bagai hidup di lorong gelap, mereka sebetulnya adalah anak-anak yang memiliki kemampuan namun hidup dalam ‘kegelapan’. Disinilah peran dari orang tua sekaligus tantangan bagaimana mempersiapkan masa depan anak-anak tersebut mulai dari cara cara mendidik hingga cara menyiapkan masa depan mereka terutama untuk terjun ke dalam dunia kerja nantinya.

Demikian antara lain disampaikan oleh Pakar anak autis, Dr. Imaculata Umiyati, dalam Seminar tentang auitis di Aruba Room, The Kasablanka, Mall Kota Kasablanka, Minggu (10/12/17).

Pada kesempatan yang sama juga diadakan Pentas Seni dan Teater Kisah Nyata Keluarga Penyandang Autis dengan tema “Kirim aku malaikat-Mu Tuhan…”.

Acara ini menampilkan Musik Kolaborasi Orangtua dan Murid, Tarian Anak, Fashion Show Anak, Teatrikal oleh Para Orangtua Murid sekaligus Launching Buku 1001 “Cara Mengajarkan Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus.

Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk mendidik Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) supaya hidup mandiri di masa depan sesuai dengan kelebihan yang di milikinya dan mengajak para pendidik dan orang tua untuk menterapkan program tepat guna dan tepat sasaran bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

“Pendidikan utama bagi sebagian besar anak anak penyandang autis adalah untuk mencapai kemandirian dalam kehidupannya sehari hari dan kontrol diri dari sisi emosi sehingga pada saatnya nanti ketika orang tuanya di panggil oleh Tuhan, anak akan survive, tidak terlantar,” ujarnya.

Pendidikan bagi anak-anak autis, menurt Dr. Ima, berawal dari rumah dengan menanamkan perilaku dan mengenalkan kemandirian adalah hal yang sangat penting diterapkan.

Banyak anak-anak autis tidak memiliki emosi dan empati padahal sebetulnya mereka adalah orang yang mengerti, justru mereka memahami tetapi tidak bisa mengatakan kita bisa melihatnya emosi apa yang mereka rasakan, penting bagi bunda mempelajari hal tersebut.

“Mempunyai anak autis memang amat berat, yang dapat memahami mereka hanya seorang ibu yang melahirkannya, tidak perlu menangisi tetapi hal yang perlu dilakukan adalah mencari solusi apa yang harus kita kerjakan dan selebihnya biar Tuhan yang mengatur dan mengerjakan,” papar Ima.

Menurut Ima, perlu diperhatikan langkah-langkah apa saja yang harus ditempuh untuk mendidik dan memahami mereka.

Pada langkah awal diperlukan data secara objectif, dimana orang tua mempelajari ciri dan perilaku apa yang ada pada anak baik wicara, akademik, motorik dan kemapuan sosialisasi.

Setelah itu diperlukan juga data terapi yang dibutuhkan anak, karena kebutuhan tiap anak autis berbeda. Yang terpenting dan paling baik adalah keikhlasan untuk menerima dan mendidik mereka.

“Lihat minat mereka, ajari pekerjaan rumah tangga apa saja yang harus dibersihkan, karena apa yang disebut bakat bukan hanya menulis ataupun berhadapan dengan computer,” katanya.

Lakukan terapi di rumah, dimana seluruh keluarga turut berperan tanpa kehilangan waktu penting bagi setiap individu yang berada di rumah. Sehingga kita lebih efisien baik waktu dan juga biaya, karena saat ini biaya terapis anak-anak autis sangat mahal karena memang segala sesuatunya special, oleh karena itu anak-anak autis disebut juga anak special.

Cari tahu makanan apa yang membuat anak alergi dan yang membuat semakin ’menggila’. Stop makanan-makanan tersebut tanpa ampun, untuk anak autis makanan sangat penting karena yang dibutuhkan mereka adalah makanan organik.

Buat agenda supaya kedua belah pihak happy (tidak seluruh hidupmu utk satu anak itu).

“Undang Tuhan untuk hadir di depan kita lakukan apapun yg kita mampu. Selanjutnya Tuhan lah yang akan bekerja.”

Kemudian langkah selanjutnya, ‘rogoh’ jiwanya antar dia menjemput masa depannya. Bangkit dan keluar dari dunia autisnya supaya dia bisa meraih masa depannya.

Ima menganjurkan bagi para orang tua khususnya ibu agar tidak masuk ke dalam ‘kotak’ autis, lakukan apa yang memang mereka butuhkan.
Banyak orang tua hanya melakukan apa yang menjadi ketenangan jiwanya padahal anak tidak membutuhkan itu.

Ajari mereka akan disiplin (belajar, waktu dan aktifitas). Ajari perilaku yang baik dan buruk dengan bahasa dan kalimat pendidikan baik kemandirian, sosial, dan kontrol diri. Orang tua harus berani dalam bersikap. Konsisten baik terhadap lingkungannya, konsisten terhadap waktu dan juga norma kesepakatan. (Yulia Dewi)

 

Share This: