“D’Sixty Nine” Juara Festival Keroncong “Jangan Korupsi”

Musikus Iwan Fals menyerahkan Piala kepada Pemenang I Festival Musik Keroncong "Jangan Korupsi" di Sekolah Pilar Indonesia Ciangsana Bogor, Sabtu (9/9/2017) - Foto: Pilar Indonesia.
_

Orkes Keroncong D’Sixty Nine asal Cilacap, Jawa Tengah akhirnya ke luar sebagai pemenang pertama dalam festival musik keroncong “Jangan Korupsi” yang diadakan oleh Sekolah Pilar Indonesia Desa Ciangsana, Gunung Puteri Bogor, 9 September 2017.

Lagu Keroncong Wahai Pemimpin Bangsaku karya Andriyono yang dinyanyikan oleh Orkes Keroncong Marlubu RRI Malang, terpilih sebagai Lagu Terbaik dalam festival ini.

Dewan Juri yang terdiri dari Pengamat musik Bens Leo, pemusik Koko Thole dan Didik SSS memutuskan D’Sixty Nine menjadi yang terbaik dari 12 peserta lainnya. Pemenang Kedua diraih oleh Orkes Keroncong Marlubu dari Malang, Jawa TimurPemenang Ketiga diraih oleh Komunitas Keroncong Anak Jombang, Jombang, Jawa Timur, dengan Pemenang Harapan I dan II masing-masing Sekar Puteri SMPN I Limbangan, Kendal, Jawa Tengah dan Otasa Kids, Madiun, Jawa Timur.

Festival musik keroncong yang diadakan untuk ketiga kalinya oleh Sekolah Pilar Indonesia ini diikuti oleh 13 peserta dari berbagai kota di Jawa. 10 peserta yang sedianya menyatakan ikut, pada hari terakhir membatalkan keikutsertaan karena tidak memiliki biaya untuk berangkat ke Jakarta.

Peserta festival keroncong ini antara lain D’Sixty Nine Cilacap, Marsudi Luhuring Budoyo (Marlubu) RRI Malang, Komunitas Keroncong Anak Jombang, Sekar Putri Aditama SMPN I Limbangan Kendal, Obahe Tangan Agawe Senenge Ati (Otasa Kids) Madiun, dan SMA BPK Penabur Dharmawangsa Jakarta.

Peserta lainnya adalah OK Harmoni Remaja (Bandung), Orkes Pelita Remaja (Bandung), Komunitas Keroncong Asli Pacitan (KAKAP), Kromansa Joe (SMAN I Jombang), Regu Keroncong SMA 2 (RECORDA – Jombang), Orker SMAGA Joe (SMA 3 Jombang), dan Cressendo (SMPN 3 Jombang).

Menurut Ketua Dewan Pembina Sekolah Pilar Indonesia Iwan Kresna Setiadi yang menjadi penggagas festival keroncong ini, tema “Jangan Korupsi” sengaja dipilih untuk menanamkan sikap anti korupsi di kalangan anak-anak muda, karena korupsi di Indonesia saat ini yang sudah sangat mengkhawatirkan.

Dalam lomba ini para peserta wajib menyanyikan dua buah lagu bertema anti korupsi, masing-masing satu lagu karya sendiri dan satu lagu lagi lagu wajib yang daftarnya disediakan oleh panitia. Maka terdengarlah lagu Seperti Para Koruptor karya Slank atau lagu Wakil Rakyat-nya Iwan Fals. Baik penyanyi maupun pemain yang umumnya anak-anak muda, enjoy memainkan musik mereka.

“Kami harapkan setelah ini anak-anak muda, minimal dari komunitas keroncong itu dululah, makin menjauhi sikap korupsi. Kalau tadi kita dengar lirik lagu yang mereka ciptakan mengerikan, itu membuktikan bahwa anak-anak muda juga sudah muak dengan korupsi,” kata Iwan.

Menurut Ketua Panitia Festival, Zahra Asyifa Ananda Wibowo, dipilihnya musik keroncong dalam lomba karena keroncong sebuah musik yang bisa diperdengarkan.

“Jaman sekarang anak-anak mendengarkan musik setiap harinya. Musik lebih mudah diserah dibandingkan pidato atau bicara. Melalui musik ini bisa dimasukan pesan yangmendorong orang untuk berubah. Sesuai tema kita anti korupsi, melalui musik ini kita berharap anak-anak menjauhi sikap anti korupsi,” kata Zahra yang juga pelajar di Sekolah Pilar Indonesia.

Festival atau lomba musik keroncong ini sendiri murni diadakan atas biaya sekolah. Meski pun para peserta diwajibkan menyetor uang komitmen sebesar Rp.1 juta, uang itu dikembalikan setelah peserta datang mengikuti lomba.

Sejauh ini belum ada perhatian dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Ketika lomba pertama kali diadakan, tiga tahun lalu, pihak sekolah mendapat bantuan Piala Bergilir dari Menkopolhukam ketika itu, Tedjo Edhy Purjianto. Tetapi setelah yang bersangkutan lengser, pihak sekolah mengadakan secara mandiri.

Atas bantuan Tedjo Edhy pernah pihak sekolah berusaha menghubungi Kemendikbud Anies Baswedan, tapi tidak pernah terlaksana karena kesibukan Mendikbud waktu itu. Sejak itu pihak sekolah tidak pernah meminta bantuan kepada pemerintah. Keberadaan sponsor pun karena kedekatan pihak sekolah dengan para sponsor.

 

 

Share This: