Dunia Film Dunia Perfilman Harus Mengenal “Evolusi Cepat”.

BJ Habibie (Foto: HW)
_

Siapa yang bisa memastikan bioskop akan dibutuhkan oleh masyarakat pada sepuluh tahun mendatang? Apakah mungkin orang akan menonton bioskop di masa mendatang? Jangan-jangan orang hanya akan menonton melalui telepon pintar yang semakin canggih, semakin jernih layarnya.

Demikian dikatakan oleh Presiden ketiga Republik Indonesia BJ Habibie dalam “Dialog Perfilman Indonesia” di Museum Nasional Jakarta, Sabtu (25/3), dengan tema “Layarkan Indonesia”

“Sekarang orang bikin film. Siapa bisa bilang sepuluh tahun lagi orang akan nonton film. Kalau saya mending nonton youtube saja. Anda harus memikirkan bahwa layar lebar pada suatu ketika hilang, diganti oleh smartphone yang kualilitasnya tinggi. Tetapi tidak berarti kualitas cerita Anda akan menurun. Bukan tidak menguntungkan, akan banyak menguntungkan. Jadi orang meningkatkan kualitasnya, mendafapatkan informasi yang tepat pada waktunya,” papar Habibie.

Presiden yang kisah hidupnya diangkat ke dalam film berjudul Habibie dan Ainun dan Rudy Habibie ini menyarankan kepada masyarakat film agar melakukan evolusi yang cepat, untuk mengantisipasi perubahan di masa depan.

“Dunia perfilman cerita harus mengenal accelerated evolusion. Evolusi yang cepat. Bangsa yang besar ini manusianya sangat-sangat kere berkualitas. Anda itu sebaiknya mendapatkan pusat keungguan budaya. Melalui pusat keunggulan budaya, dalam arti yang luas, itu perlu kita perjuangkan bersama,” tambahnya.

Ada tiga hal, menurut Habibie, yang membuat seorang manusia lebih unggul dari manusia lainnya, yakni agama, budaya dan ilmu pengetahuan. Dari ketikga hal itu akan menghasilkan kualitas. Tetapi kualitas yang baik adalah jika produk itu datang tepat pada waktunya.

Kualitas itu menyangkut biaya dan ketiga produk yang dihasilkan itu harus datang pada waktunya. Tidak terlalu pagi tidak terlambat.

“Roh saya bekerja waktu itu ada di telepon. Waktu itu bentuknya besar tetapi kualtiasnya jelek. Sekarang kecil lebih hebat dan lebih murah. Tetapi dengan peralatan yang jelek itu saya tetap harus bekerja dengan berkualitas dan menghasilkan sesuatu yang berkualitas,” kata Habibie.

Yang tak kalah pentingnya bagi manusia adalah memiliki tanggungjawab sekaligus hak. Manusia itu makin banyak, tiap manusia mempunyai hak dan kewajiban. Tetapi kebanyakan orang hanya berbicara tentang hak, dengan melupakan kewajiban.

“Kita selalu bicara hak-hak azasi manusia tanpa bicara kewajiban azasi manusia. Hak itu harus diimbangi dengan kewajiban,” tandasnya.

Yang mengajukan hak azasi manusia itu, menurutnya adalah pihak yang menang perang. Dia lalu memikirkan bagaimana dia masuk ke suatu daerah yang kaya sumberdaya alamnya yang dia butuhkan, dan kaya budayanya.

“Dia (negera yang menang perang itu) lalu mempromosikan hak, tapi tidak bicara kewajiban. Kaerna kalau bicara kewajiban dia harus membagikan hak. Itu fakta!”

Hak itu Itu harus diberikan sedini mungkin kepada manusia yang akan datang. Manusia itu lahirnya telanjang, meninggalnya telanjang. Yang dia letakkan hanya jejak-jejaknya. Tetapi manusia itu mengalami proses pembudayaan dalam kandungan.

Sangat penting percaya kepada Tuhan, karena dengan demikian seseorang akan mampu mengontrol dirinya, dan tidak berbuat serampangan dalam hidup. Tetapi tidak boleh seseorang dipaksa untuk mempercayai Tuhan, yang harus dipaksa adalah mentaati peraturan.

“Anda boleh saja jadi orang paling kaya, tidak percaya pada Tuhan, silahkan saja. Tapi Anda harus patut pada undang-udang dan peraturan yang dibaut berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa”.

Manusia dan bukan manusia sama -sama diciptakan oleh Allah. Bedanya, lanjut Habibie, antara manusia dengan monyet atau gorila, manusia bisa mengembangkan ilmunya dan mampu mewariskan ilmunya kepada anaknya. Dan akibatnya menyebabkan akumulasi peningkatan kualitas.

Share This: