Edy Triyono Sumartadi, SH, MH : Hanya Ingin Mengabdi dan Membantu PARFI Jika Keberadaannya Diterima

_

Ketua Umum PB PARFI Periode 2020 – 2025 Alicia Djohar belum lama ini mengumumkan susunan Pengurus PARFI yang dipilihnya.

Di WA Grup Parfi sendiri sempat ramai, banyak yang mengkritisi nama-nama pengurus yang diangkat oleh Alicia Djohar. Ada yang mempertanyakan latar belakang nama yang diangkat, ada pula yang mempertanyakan status keanggotaan.

Nama Edy Triyono Sumartadi, SH, MH,  bersama Moh. Tahir Danreng dan Firdaus Mahidin Putra, tercantum dalam jajaran pengurus PB PARFI Periode 2020 – 2025 pimpinan Alicia Djohar di jajaran Divisi Hukum.  Edy Triyono sendiri merupakan suami dari artis film dan sinetron Yanti Yaseer, anggota PARFI.

Sepanjang kariernya, Yanti telah membintangi 100 judul lebih sinetron dan FTV, serta 6 judul film bioskop. Edy Triyono juga anggota PARFI, tetapi masih berstatus Anggota Muda.

Edy Triyono dan isterinya, Yanti Yaseer (Foto: Dok. Pribadi)

Pergunjingan yang hebat di grup WA PARFI sempat membuat sang isteri terusik, sehingga ia meminta agar Edy Triyono mengundurkan diri saja, meski belum dilantik. Apalagi menjadi pengurus di PARFI hanyalah sebatas pengabdian yang justru akan menambah kesibukan sang suami yang sudah demikian sibuk selama ini.  Karena selain sebagai pengacara, Edy mempunyai banyak kesibukan lain di daerah kelahirannya, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Meski pun gunjingan begitu hebat – itu belum tentu ditujukan untuk dirinya – Edy Triyono menanggapinya dengan kepala dingin.

Edi Triyono bermain dalam salah satu FTV bersama isterinya, Yanti Yaseer. (Foto: Dok. Pribadi)

“Pertama-tama saya berterima kasih diberi kepercayaan dan amanah oleh PARFI di bidang hukum. Kebetulan bidang saya memang hukum dan saya pribadi adalah seorang advocat. Tentu saya akan menjalankan amanah ini sesuai dengan bidang dan kemampuan yang saya miliki. Mengenai adanya pergunjingan, ketidaksukaan, menurut saya biasa dalam hidup. Apalagi di organisasi,” kata Edy Triyono ketika ditemui di rumahnya, di kawasan Cimanggu, Bogor, baru-baru ini.

“Saya pribadi,” ia menambahkan, “Kalau memang aturannya seperti itu ya dimundurkan saja. Kalau saya mundur, kan lucu, karena saya belum berbuat. Kalau saya disuruh mundur mungkin karena tidak memenuhi ketentuan, sangat secara administrasi dianggap tidak layak, ya sudah jangan dipilih. Saya kan enggak minta-minta juga jabatan ini.”

Menurut lelaki kelahiran Berau, Kalimantan Timur 48 tahun yang lalu itu, biasa saja jika  di dalam organisasi banyak yang setuju, banyak yang kontra. Yang penting,  pengurus diberi kesempatan dulu untuk bekerja kalau, secara hukum, secara UU, atau legitimasinya benar.

“Sah-sah saja berkomentar, mengkritik atau memberi masukan, tapi tujuannya dalam konteks membangun. Di dalam keluarga aja ada beberapa orang belum tentu semuanya punya pola pikir yang sama,” tandasnya.

Edi Triyono bersama salah satu lawan mainnya di sinetron. (Foto: Dok. Pribadi)

Edy juga berharap pengurus menurut bisa legowo untuk menerima masukan atau kritikan, karena setuju tidak setuju, yang berbicara adalah anggota komunitas, keluarga besar, sehingga semua masukan pasti  tujuan baik.

“Jadi kita ambil baiknya dulu, jangan ambil negatifnya, jangan kita lihat siapa yang berbicara, tetapi apa yang dibicarakan. Pengurus dalam organisasi sama perannya dengan orangtua dalam keluarga. Namanya ada perbedaan pendapat, ya wajar, orangtua yang harus bijaksana. Kita jangan terjebak kepada siapa yang berbicara. Kalau menurut saya, kita emonglah, kita rangkul. Saya malah mengusulkan nanti kalau ada rapat di Parfi ada urun rembuk nasional tentang insan film. Kita ini maunya apa sih?” papar Edy.

Jiak tetap dipercaya masuk ke dalam jajaran pengurus PB PARFI Periode 2020 – 2025, jika  sudah dilantik, dia menyarankan diadakan urun rembuk antaranggota maupun antar insan film, untuk mengetahui apa sih keinginan yang utama.

Yang kedua, ia akan menyarankan kepada pengurus, paling tidak sebulan sekali mengadakan coffee morning, pertemuan untuk merespon yang ada, kegelisahan, atau fenomena yang ada di kalangan insan film.

“Jadi jangan kita menunggu ada permasalah baru berbuat. Lebih baik kita antisipasi dulu kita bentengi dulu, sehingga kalau masalah-masalah muncul, sudah ada payung hukumnya,” katanya.

Yang ketiga, menurut Edy, bagaimana mungkin kita bisa dikatakan pengurus bagus tidaknya kalau tidak diberi kesempatan. Kalau menurut saya beri kesempatan dulu. Nanti ada proses waktu, proses alam, kalau memang pengurus ini tidakamanah sesuai amanah kongres, baru dipersoalkan.

Ia berharap kubu-kubu PARFI yang ada bisa melakukan rekonsiliasi.

“Perbedaannya di mana sih? Hal prinsipnya apa? Makanya saya bilang, ayolah kita buka baju masing-masing untuk tujuan bersama. Kalau memang ada yang fundamental, yang sangat prinsipil, tidak bisa disatukan juga, ya kita lakum dinukm waliadin. Tapi saya berharap ini masih bisa disatukan. Mungkin saat ini tidak belum bisa disatukan karena memang persoalan dari sudut pandang berbeda. Mungkin suatu saat bisa disatukan, artinya Parfi di sini mengalah di sini, Parfi di sana mengalah di bagian lain. Jadi memang harus ada take and give.”

“Kita bisa egois harus begini, begitu. Kita kembali ke aturannya dulu kembali ke AD / ART, kembali ke aturan mainnya. Jadi di mana letak perbedaannya itu yang kita stressing dulu. Jadi kita enggak ke mana-mana. Ini yang kita belai-belai sampai semuanya ketemu. Karena itu mari kita singkirkan ego kita bersama. Bukan di sana benar, di sini salah, atau sebaliknya. Enggak,mari kita kembali ke khitah, Parfi yang bersatu,” tambahnya.

Menurut Edy, yang penting sekarang adalah status hukum bagi Parfi. Harus jelas mana yang diakui oleh pemerintah. Kalau memang tetap berbeda, harus dihormati perbedaan itu. Dirikan saja organisasi dengan badan hukum berbeda.

“Tetapi saya masih berharap status hukum kita di PARFI satu!” tegasnya.

Jika kelak dipercaya menangani bidang hukum di PARFI, ia akan mengusahakan
payung hukum bagi anggota, dalam membuat perikatan-perikatan dengan PH, atua pihak lainnya. Ia juga ingin agar diadakan workoshop-workshop hukum bagi anggota, agar anggota tidak hanya mengutamakan ortientasi bisnis, tetapi tahu hak dan kewajibannya.  Jika ada masalah, tahu penyelesaiannya ke mana.

Harus ada regulasi dari Parfi untuk mengatut hak-hak anggota yang terlibat dalam produksi film atau sinetron. Jika dalam perjalanan ada keterlambatan dalam pembayaran, kalau organisasi ada kas bisa saja ditalangin dulu, atau kerjasama dengan rumah-rumah produksi, sehingga mereka tidak menunggu lagi sekian bulan.

“Jangan setelah ada kasus, diblow-up dulu di media, yang dampaknya macam-macam. Namanya kita punya wadah, ayo kita selesaikan di rumah kita dulu. Parfi ini adalah rumah bagi kita semua. Setiap orang yang mau memakai jasa anak kita, kita sebagai orangtua tahu. Jadi tidak jalan sendiri-sendiri,” kata lelaki kelahiran Berau, 2 Februari 1972 ini.

Meskipun profesinya sebagai pengacara, berkecimpung di bidang seni merupakan hobinya sejak muda. Pernah terlibat dalam grup teater di Berau, dan bermain teater dengan mementaskan naskah teater karya Putu Wijaya: “Tolong”, “Setan Dalam Bahaya” dan “Sang Pejuang”. Ia menjadi aktor utama dalam pementasan itu.

Pengabdiannya di bidang seni dilanjutkan dengan bergabung dalam Tim Kesenian Kabupaten Berau yang ikut pementasan di Taman Mini Indonesia Indah, kemudian menjadi Sekretaris Dewan Kesenian Berau.
Setelah menikah dengan Yanti Yaseer, ia mulai mengenal dunia sinetron. Sambil mengantar syuting isterinya, ia akhirnya terlibat main dalam beberapa judul FTV, antara lain dalam “Bersekutu Dengan Mahluk Gaib” produksi PH Ferona. Uniknya di situ ia bermain bersama Yanti Yaseer, isterinya.

“Bagi saya seni adalah hobi. Jadi tidak bisa dinilai dengan waktu dan uang. Sama seperti orang hobi pelihara burung atau ikan arwana. Harganya bisa puluhan atau ratusan juga, tetapi dibeli juga kan? Ha.ha…” kata Edy mengakhiri bincang-bincang.

Share This: