Pemuda Betawi Nobatkan DR Anna Mariana Sebagai Tokoh dan Pelopor Perempuan

DR. Ann Mariana dan suaminya, Tjokorda Ngurah Agung Karmayudha mengapit Pelaksana Tugas Gubernur DKI Soemarsono, usai penobatan DR Anna Mariana sebagai Tokoh dan Pelopor Perempuan, di Jakarta, Kamis (9/2) - Foto: Dudut Suhendra Putra
_

Bamus Betawi dan Forum Pemuda Betawi 2000 menobatkan Hj Anna Mariana S.H, M.H, M.B.A, sebagai Tokoh dan Pelopor Perempuan yang memberi inspirasi dan inovasi baru terhadap budaya Betawi. Hal itu diputuskan setelah melihat gagasan dan karya ciptanya dalam dunia tenun dan songket, terutama lagi dari kreasinya menciptakan kain songket dan tenun Betawi.

Selain itu, dalam acara yang berlangsung di Hotel Sahid Jaya Jakarta, Kamis siang (9/2) Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha KSH., MS., MSC, suami Anna Mariana diangkat sebagai Penasihat Bamus Betawi. Acara juga dihadiri oleh Pelaksana Tugas Gubernur DKI, Soemarsono. Dalam acara ini, Anna Mariana akan memberikan Orasi Budaya, Tentang Tenun Songket sebagai Warisan Budaya Nusantara.

 Ketua Dewan Pembina Forum Pemuda Betawi 2000 Rachmat HS mengatakan, penobatan itu merupakan bentuk penghargaan Pemuda Betawi kepada orang yang berjasa mengangkat nama Betawi melalui karyanya.

Anna yang berprofesi sebagai Konsultan Hukum dan membuka Law Firm Mariana & Partners ini pantas menjadi tokoh di bidang Tenun dan Songket. Ia sudah menekuni bidang ini lebih dari 33 tahun. Dengan awalnya hanya mengkhususkan diri di bidang Tenun dan Songket Bali, ia menciptakan motif-motif tenun dan songket baru,   yang memiliki ciri khas dan corak tersendiri.

Kain kain karyanya ditenun dari beragam jenis benang. Mulai dari benang emas, benang perak, benang katun, benang sutera dan benang kombinasi. “Saya sudah mendesian lebih dari 3000 motif, dan sebagian besar sudah saya patenkan!” ujar Pemilik butik Marsya House of Batik Kebaya, Tenun, Songket & Acessories  yang terletak di Pondok Indah ini.

Dalam mewujudkan karyanya, Anna membina dan mempekerjakan lebih dari sejuta pengrajin di seluruh wilayah Indonesia. Mereka mempunyai keahlian dengan hasil karya bercita seni tinggi. Mereka sudah puluhan tahun berkarir dengan tenun, sehingga sangat piawai. Rata-rata mereka tinggal dan menetap di Bali,” kata Anna yang lahir 1 Januaari 1960. “Dan dengan dana pribadi tanpa bantuan pemerintah, saya mengikat mereka, dengan menyediakan modal kerja. Agar ada kepastian penghasilan bagi mereka. Dan saya pun punya kepastian, bahwa hasil karya mereka saya dapatkan tepat waktu,” ujar Anna.

Akhir tahun 2016 lalu, bersama Badan Musyawarah Betawi Anna mempelopori hadirnya tenun dan songket Betawi. Menurut Anna, dalam budaya masyarakat Betawi, belum pernah ada tenun dan songket. “Yang ada hanya kain batik dengan motif kembang-kembang dengan selalu ada motif Ondel-Ondel ataupun gambar Monas. Produksi ini kemudian hanya kita kenal sebagai kain dari Batik Cap, Batik Tulis, Batik Printing dan bukan tenun yang terbuat handmade!”

Karena itu, Anna Mariana yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Sejarah Kain Tenun Nusantara bersemangat mempelopori kelahiran tenun dan songket khas milik Betawi.   Dalam soal disain, misalnya, ia tetap mengangkat motif asli dan tidak menghilangkan ciri khas Betawi.

“Seperti kain yang saya dan suami pakai untuk acara Bamus hari ini terdapat motif Ondel-ondel dengan warna kuning sirih,” ungkap Anna yang meraih gelar Doktornya pada Januari 2017. “Sementara kain untuk para Abang dan None terdapat beragam motif, ada Bunga-bungaan, Penari Cokek, Monas dan Kembang api!”

Menurut Anna proses pengerjaan kain songket dan tenun sangat khas dan memerlukan waktu lama. Terlebih untuk menghasilkan tenun kelas premium dengan menggunakan benang sutera. “Proses pengerjaannya memakan waktu enam bulan bahkan sampai setahun. Diperlukan ketrampilan, keuletan, ketekunan dan kesabaran khusus. Karena menenun dengan menggunakan benang sutra itu rumit, oleh sebab itu pula harga songket menjadi mahal bahkan cenderung fantastis.”

Anna menyebut, untuk mewujudkan idenya dalam memelopori lahirnya tenun dan songket khas Betawi, ada tantangan yang harus dihadapinya. Yakni mengembangkan apa yang sudah direncanakan, membina para penenun. ”Dan yang lebih penting lagi membawa kain tenun khas Betawi lebih berkembang lagi,” ungkap Anna kelahiran 1 Januari 1960.

Menurut Anna, pengembangan tenun dan songket Betawi dirasa perlu. Ini bukan hanya membuka peluang kerja bagi para penenun, namun juga membuat catatan sejarah baru bagi jenis kain yang akan diproduksi di Jakarta.

Namun untuk membuka peluang kerja, bagaimana menemukan pengrajin tenun di Jakarta? Anna dengan jeli mencoba melobi sejumlah pesantren di Jakarta maupun Bali. “Kami mendidik mereka yang sudah berusia 17 tahun dan sudah hatam Al-Quran. Ilmu menenun ini bisa jadi bekal mereka untuk mandiri. Jadi mereka tidak hanya paham ilmu agama,” kata Anna yang tengah mengusulkan adanya peringatan Hari Tenun, seperti Hari Batik

Anna juga langsung mensuport bahan baku dan peralatan yang dibutuhkan. Ia juga menampung dan membeli kembali hasil karya anak-anak tersebut. “Dengan begitu, mereka tidak sia-sia belajar sambil berkarya. Mereka dapat ilmu pengetahuan sekaligus dapat penghasilan. Kita sendiri juga akan diuntungkan, karena kita punya regenerasi baru di bidang tenun,” ungkap Ibu 4 orang anak dan isteri dari Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, S.H., M.S., M.S.C.***

Share This: