Era Digital Sebuah Keniscayaan, PWI Harus Siap Menghadapi

Diskusi publik "PWI 1 yang Tepat di Era Revolusi Digital. (Foto: HW)
_

Era digital merupakan sebuah keniscayaan yang harus dihadapi oleh semua orang dan setiap organisasi di dunia, tak terkecuali bagi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Sebagai organisasi wartawan tertua dan terbesar di Indonesia, PWI harus mempersiapkan anggotanya untuk hidup di era digital.

“Kita tidak tahu apakah pada tahun 2030 atau 2050 PWI masih ada dan masih dibutuhkan. Sekarang ini era anak-anak muda yang tidak lagi membaca suratkabar, sementara kita adalah orang-orang yang hidup dari era suratkabar. Nah, di era digital ini mau tidak mau kita harus bisa bertransformasi ke dunia digital,” kata Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat Sasonglo Tedjo dalam diskusi bertajuk “PWI 1 yang Tepat di Era Revolusi Digital” yang berlangsung di Kantor PWI Cabang Jakarta, Jl. Suryopranoto Jakarta, Rabu (9/1/2017) siang.

Diskusi menghadirkan pembicara Sekjen PWI Pusat Henry Ch Bangun, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PWI Pusay Teguh Satosa,  dan  Ketua Komisi Pendidikan PWI Pusat Hendro Bassuki.

Menurut Hendro persoalan yang dihadapi oleh organisasi profesi seperti PWI adalah, kurangnya minat wartawan muda untuk bergabung. Padahal merekalah yang akan mengisi dunia kewartawanan di masa depan.

Hendro menambahkan, PWI harus memiliki lembaga pendidikan dan penelitian, terutama untuk mendidik wartawan agar memiliki kualifikasi yang cukup dalam menjalankan profesinya.

“Sekarang ini di era digital kita sulit membedakan mana hasil kerja jurnalistik atau bukan. Semua orang bisa menulis di media sosial,” tambah Hendro.

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Teguh Santosa yang juga Ketua Serikat Media Siber Indonesia mengatakan, di era digital ini anak-anak muda sudah tidak lagi membaca suratkabar atau media cetak. Anak muda hanya membaca tulisan yang dibutuhkan saja.

“Biasanya itu sudah diframing oleh media sosial dan ditimeline, berita-berita yang bisa dikonsumsi oleh anak-anak muda. Maka ke depan banyak kemungkinan yang akan terjadi. Apakah PWI akan semakin rimbun dan semakin kuat akarnya seperti pohon trembesi, atau PWI tidak ada lagi,” kata Teguh.

Ketua Komisi Pendidikan PWI Pusat Hendro Bassuki menegaskan perlunya PWI membuat perguruan tinggi jurnalisme, sekaligus mempersiapkan wartawan multi tasking yang memguasai IT.

“Karena kita punya doktor dan ahli-ahli ko unikasi yang cukup.
Kita tinggal melakukan kerjasama dengan Kemenristek untuk mendirikan perguruan tinggi jurnalisme. Kita juga perlu membina kemitraan strategis dengan kementerian dan lembaga pers di luar negeri,” kata Basuki.

Terkait penggunaan teknologi informasi untuk membuat sistem administrasi yang baik, Sekjen PWI Pusat Henry Ch Bangun menegaskan PWI sudah melakukannya. PWI juga sudah memiliki database anggota. Namun diakui, website PWI yang berguna untuk menyampaikan berbagai informasi mengenai orgasinasi, masih belum tertangani.

Sekretaris Dewan Kehormatan PWI Wina Armada, SH, mengungkapkan masih banyak wartawan yang memiliki kehidupan ekonomi di bawah standar. Karena itu perlu dicari jalan untuk memperbaiki kehidupan wartawan.

Share This: