Erna Witoelar Menduniakan Pancasila

eBook Erna Witoelar Membangun Jembatan
Tampilan eBook Erna Witoelar "Membangun Jembatan" di witoelar.com/erna
_
haris jauhari
Haris Jauhari

Oleh: Haris Jauhari

Erna Witoelar, saya panggil Mbak Erna, adalah orang yang memberi pengaruh positif dalam perjalanan hidup saya. Sebagaimana Pak Emil Salim dan keluarga, Pak Fuad Hasan, Teguh Esha, Teguh Karya, WS Rendra, GKR Hemas.

Saya kenal Mbak Erna di masa mulai kuliah, awal tahun 1980-an. Saat itu, Mbak Erna sudah terkenal sebagai aktivis. Ia baru saja menjadi direktur eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi, 1981). Kami bertemu satu dua kali dalam workshop di luar kampus.

Sejak pertengahan 1980-an, ketika saya sudah menjadi jurnalis, pertemuan kami makin sering. Makin hari, kami makin akrab. Saya merasa lebih sebagai sahabat daripada jurnalis dan sumber berita.

Masa itu, gerakan di bidang lingkungan baru saja dimulai. Zaman belum seriuh sekarang. Internet tak terbayangkan. Arus informasi berjalan lambat dan terbatas. Industri mulai bertumbuhan. Arus modal dari luar mulai masuk. Pabrik- pabrik besar dibangun. Penduduk tumbuh pesat. Kota-kota berkembang. Orang mulai merasakan dampak dari pembangunan. Maka, gerakan yang relatif baru, menjaga dan melestarikan lingkungan, mendapat perhatian yang besar.

Para pemuda dan mahasiswa, ketika itu, punya kecenderungan kuat pada kegiatan pecinta alam. Kelompok-kelompok pendaki gunung bertebaran di mana-mana. Petualangan masuk ke luar hutan terdengar sebagai kegiatan yang gagah dan heroik. Maka, pembukaan hutan untuk industri menjadi musuh nomor satu mereka.

Di perkotaan dan pemukiman, orang mulai mengeluhkan pencemaran akibat limbah pabrik. Pemerintah baru saja, untuk pertama kalinya, menyisipkan Menteri Negara Urusan Kependukukan dan Lingkungan Hidup dalam kabinet (Kabinet Pembangunan III, 1978-1983), yang dijabat oleh Emil Salim. Mantan menteri perhubungan di kabinet sebelumnya.

Maka, kemunculan Mbak Erna di pentas nasional sebagai pemimpin gerakan lingkungan hidup sungguh sangat menarik perhatian. Bukan saja karena orang merasa memerlukan gerakan ini, tapi juga karena sosok Mbak Erna sebagai perempuan yang cerdas, berpendidikan, mantan aktivis kampus yang terkenal, galak, boleh dibilang tak ada duanya. Ia bagaikan pendekar wanita super sakti dunia kang-ouw yang didominasi para pendekar pria yang kebanyakan takluk oleh kesaktiannya. Masa itu, orang memang masih gemar membaca cerita silat semacam karangan Asmaraman S. Kho Ping Hoo yang legendaris itu.

Namun, sebagaimana juga cerita silat, Mbak Erna sesungguhnya berhadapan dengan “faksi-faksi” yang muncul di kalangan penggerak dan aktivis lembaga swadaya masyarakat atau organisasi non-pemerintah, yang juga baru saja bermunculan dengan suburnya. Di sisi lain, orang belum benar-benar paham mengenai gerakan lingkungan hidup. Yang berkembang baru pengertian awal. Maka, banyak soal yang harus dihadapi.

Di satu sisi, gerakan lingkungan hidup masih dalam proses perumusan. Di sisi lain, sikap-sikap heroisme yang melekat pada gerakan LSM sedang berkembang pesat. Pemerintah pun baru pada tahap mulai membangun pengertian mengenai pembatasan pertumbuhan penduduk dan pemisahan pengertian pengelolaan lingkungan alam dan lingkungan binaan. Wilayah ini menjadi riuh rendah. Dan, Erna Witoelar berada di pusatnya.

Pusat riuh rendah ini mempunyai dua kutub. Satu kutub gerakan pemberdayaan masyarakat yang di puncaknya ada Erna Witoelar, satu kutub lain usaha pemerintah mengamankan gerakan pembangunan dengan mengontrol kerusakan lingkungan melalui kementerian negaranya yang baru, yang dipimpin Emil Salim. Di kutub Mbak Erna ada gerakan-gerakan “garis keras”, yang pokoknya Pemerintah harus salah. Sedangkan Pendekar Perempuan itu, yang cenderung memilih berada di tengah dan selalu bersikap konstruktif, memang harus pintar menari dalam situasi Orde Baru yang sedang gagah-gagahnya. Dan, Erna Witoelar di masa remaja memang dikenal pandai menari. Selain juga pemain band, menjadi penabuh drum. Pemegang gendang.

Maka, ada banyak saat, saya menyaksikan dari dekat bagaimana Mbak Erna menyelesaikan masalah dengan melibatkan semua pihak dalam satu koridor yang mempunyai ruang masing-masing. Tiap pihak diberi ruang yang cukup untuk menjalankan “permainan”-nya dan kemudian kembali ke koridor yang telah ditetapkannya untuk bergerak maju. Menyepakati sesuatu dan meninggalkan ketidaksepakatan tetap di tempatnya. Tentu usaha ini tidak selalu berhasil. Sering terjadi benturan yang keras. Untuk urusan kekerasan, kadang Mbak Erna terkesan tak ragu juga bertangan besi. Namun, yang menarik ialah, ia punya kepiawaian mengatur irama kapan mesti melunak, kapan agak keras sampai keras sekali, dan kapan berdamai kembali. Lengkap dengan dosisnya masing- masing. Orang mungkin hanya melihat satu kesan yang kuat dari semua proses ini; ia sangat lentur dalam menyelesaikan tiap masalah yang dapat diterima semua pihak. Ia terus maju.

Tahun-tahun pun berlalu. Mbak Erna dan Walhi-nya menjadi magnet dalam publikasi dan sosialisasi gerakan pelestarian lingkungan hidup. Yang belakangan berkembang dalam format gerakan pembangunan berkelanjutan. Ia memberi banyak sumbangan dalam membangun fondasi dan kemajuan kebijakan lingkungan hidup yang kita alami sekarang. Ia juga telah menjelma menjadi tokoh nasional yang berpengaruh dalam berbagai kegiatan internasional. Tapi, pengaruh internasional Mbak Erna sesungguhnya baru sangat terasa ketika ia terpilih menjadi Presiden Organisasi Lembaga Konsumen Dunia (International Organization of Consumer’s Union – IOCU) dalam kongresnya di Hong Kong pada tahun 1991. Saya berada di sana sebagai jurnalis harian “Pikiran Rakyat”, Bandung.

Saya menyaksikan Mbak Erna di panggung menerima mandat organisasi- organisasi konsumen dari seluruh dunia dengan wajah yang cerah. Secerah wajah para pemberi mandat yang baru saja “bertempur” memperebutkan kedudukan tertinggi organisasi yang kini bernama Consumers International (CI), berkedudukan di London, Inggris, itu. Berdiri sejak 1960, organisasi ini beranggotakan lembaga-lembaga konsumen di 120 negara. Sebuah langkah yang besar untuk Mbak Erna, juga Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang diwakilinya (Ketua Pengurus Harian YLKI 1986-1989).

Juga untuk Indonesia. Juga untuk Selatan. Ketika itu, industri dan arus barang belum semajemuk sekarang. Dunia seolah terbagi dua, negara maju adalah negara industri, negara produsen seperti Amerika, Kanada, dan negara-negara Eropa. Mereka disebut Utara. Jepang, China, Korea belum seagresif sekarang. Di sisi lain, ada Selatan. Asia, Afrika, dan negara-negara di Pasifik, negara konsumen.

Dalam gerakan organisasi konsumen dunia, Selatan dan Utara adalah dua kutub dengan agenda yang berbeda. Selatan lebih egaliter dalam usaha melindungi konsumen di negaranya masing-masing dari derasnya arus barang bermutu rendah yang membanjiri pasar mereka dari Utara dan dari dalam negerinya sendiri. Pada saat bersamaan, mereka juga harus melindungi industrinya yang mulai tumbuh. Sebaliknya, Utara fokus hanya melindungi konsumennya yang memacu peningkatan kualitas produk dalam negeri, namun abai pada produk ekspor negaranya yang membanjiri pasar sangat besar di Selatan.

Ketika dua kutub ini bertemu untuk memilih pemimpin, tentu persaingan menjadi sangat sengit. Presiden IOCU adalah pengaruh dan gengsi dunia. Apalagi, sejak berdiri, Presiden selalu dari Utara. Sedangkan masa itu, adalah masa reformasi dunia yang, antara lain, ditandai oleh program glasnost (keterbukaan politik) dan perestroika (restrukturisasi ekonomi) Mikhail Gorbachev di Uni Soviet, yang berakhir dengan keruntuhan negara itu di penghujung tahun 1991. Maka, semangat Selatan untuk maju sangat kuat, semangat Utara bertahan pun tak kendur. Tapi, ketika akhirnya yang terpilih adalah Erna Witoelar, saya merasa harus bertanya secara khusus setelah ia turun dari panggung yang memberinya ucapan selamat sangat meriah itu. Mengapa ia bisa terpilih?

“Karena saya menerapkan prinsip-prinsip Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Mereka yang lain tidak punya itu,” katanya ketika itu.

Mbak Erna sama sekali tidak bercanda. Karena saya cukup hafal kapan dia bercanda, marah, atau sedang-sedang saja. Sama seperti semua orang, mestinya, tidak terlalu sulit menebak Mbak Erna karena ekpresinya mudah ditebak. Ia bukan orang yang terselubung, juga tak piawai berbasa-basi.

Ia mengatakan bahwa Utara keberatan dengan calon dari Selatan dan Selatan keberatan dengan calon dari Utara. Tapi, tak ada yang keberatan dengan Erna Witoelar. Maka, ia pun terpilih. Karena dia dari Indonsia, negeri yang punya falsafah Pancasila dan beragam suku bangsa, budaya, agama, yang bersatu dan damai. “Kita sudah terbiasa dengan perbedaan dan tahu bagaimana meramunya menjadi sebuah kekuatan,” katanya.

Tampaknya, itulah kekuatan Mbak Erna. Ia memahami perbedaan dan beragam aspirasi, ia dapat menerimanya dengan baik, mampu meramu dan memanfaatkannya menjadi kekuatan pergerakan yang dapat diterima semua pihak, dan membawa mereka melangkah maju. Ia seorang pemimpin.

Kepemimpinan dengan falsafah Pancasila itu, rupanya, terbukti ampuh. Mbak Erna terpilih lagi menjadi Presiden IOCU pada periode berikutnya, yang berakhir 1997. “Saya sudah menularkan prinsip-prinsip kita,” katanya ketika itu. Saya pikir, ia telah menduniakan Pancasila.

Tahun 2003, Mbak Erna ditunjuk menjadi Duta Besar Khusus PBB untuk Millennium Development Goals (MDGs) di Asia-Pasifik. Ia terus memainkan peranan yang penting di dunia dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Sampai sekarang, ia telah dan sedang terlibat dalam komisi-komisi penting PBB dan masih terlibat dalam dewan pengurus di banyak lembaga swadaya masyarakat di dalam negeri.

Dan, bila kita kembali ke sekitar tahun 1980-an, kita akan tahu bahwa Mbak Erna adalah seorang dirijen dari sebuah orkestra yang sangat besar. Yang kemampuan utamanya terletak pada bagaimana ia memahami musik, alat musik, pemain musik, irama, lagu, dan bagaimana meramunya menjadi sebuah harmoni. Bila ia terus menjadi pemusik, ia tentu pemusik yang hebat dan populer saat ini.

 

 

* Kolom ini merupakan tulisan yang terdapat dalam buku “Erna Witoelar, Membangun Jembatan” yang diluncurkan Jumat malam (10/02-2017) di Jakarta, sehubungan ulangtahunnya yang ke-70 (Danau Tempe, 6 Februari 1947). eBook dapat diunduh gratis di witoelar.com/erna

Share This: