Faisal Basri: Keberhasilan Pariwisata Jangan Dinilai Dari Kuantitasnya

_

Ekonom Faisal Basri menegaskan, keberhasilan pariwisata jangan hanya dinilai dari angka-angka semata, atau kuantitasnya, tetapi harus dicermati pula kualitasnya.

Secara kuantitas, pariwisata menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, seperti jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan devisa yang dihasilkan. Tetapi wisatawan yang datang ke Indonesia bukan tergolong wisatawan yang royal dan tinggal lama di Indonesia.

Faisal juga mengungkapkan, devisa yang dihasilkan hanya hanya lebih sedikit dibandingkan dengan uang yang dikeluarkan orang Indonesia ke luar negeri.

Faisal Basri menyampaikan hal itu ketika tampil sebagai pembicara dalam Seminar Outlook Tourism Indonesia 2019 di Hotel Burubudur Jakarta yang diadakan oleh Forum Wartawan Pariwisata (Forwarpar).

Selain Faisal Basri, sesi kedua yang dipandu oleh Kepala Biro Puskomlik Kemenpar Guntur Sakti ini juga manampilah Country Director Grab Indonesia, Rizky Kramadibrata dan Duta Google Indonesia, Daniel Oscar Baskoro.

Sebelumnya, ketika memberi sambutan dalam pembukaan seminar, Menteri Pariwisata Arief Yahya menyampaikan data-data keberhasilan pariwisata Indonesia.

Menurut menteri, pariwisata Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang terus meningkat, pariwisata Indonesia diprediksi akan menjadi penghasil devisa terbesar bagi Indonesia.

Tahun 2017 devisa yang dihasilkan mencapai 15,20 milyar dolar, masih di bawah devisa dari CPO (crude palm oil / minyak sawit) yang mencapai 16 milyar dolar. Tahun 2018 yang masih berjalan ini devisa dari pariwisata telah menyentuh angka 16 milyar dolar, tahun 2019 diharapkan mencapai 20 milyar dolar.

“Tagetnya 17 milyar dolar, memang tidak tercapai. Tetapi kemungkinan sampai akhir tahun 2018 ini bisa melewati angka 16 milyar dolar, melewati devisa CPO!” kata Arief Yahya.

Berbeda dengan Menpar, Faisal Basri justru mengingatkan agar keberhasilan pariwisata tidak dilihat dari angka-angka yang muncul, tetapi harus dicermati juga persoalan-persoalan di dalamnya.

Menurut Faisal, jika melihat data yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan, “keuntungan” bersih yang diraih pariwisata Indonesia hanya sedikit, yakni 4 milar dolar. Angka itu muncul setelah devisa yang dihasilkan, dikurangi oleh pengeluaran wisatawan Indonesia yang ke luar negeri (outbound traveller).

Tahun 2018 devisa yang dihasilkan 10,714 milyar dolar, sedangkan uang yang dibelanjakan turis Indonesia di luar negeri mencapai 9,674 milyar dolar.

“Ada kelebihan, tapi sangat kecil. Tidak seperti yang digambarkan oleh Pak Menteri. Jadi kalau kita bicara target, harusnya nett income, bukan angka yang masuk saja. Keberhasilan pariwisata itu kalau orang makin tertarik berwisata di dalam negeri,” kata Faisal.

Hal yang patut dicermati adalah data wisatawan asing yang masuk. Wisatawan terbanyak yang berkunjung ke Indonesia umumnya bukan wisatawan yang tinggal lama, atau royal membelanjakan uangnya.

Wisman yang dimaksud antara lain berasal dari Malaysia, China, Singapura dan India. Semua memiliki karakter masing-masing.

Wisman Malaysia, menurut Faisal, paling hanya belanja di Thamrin City, lalu pulang; wisman Singapura hanya datang ke Bintan dan Batam untuk main golf; wisatawan China hanya membeli barang sedikit yang sudah ada di negerinya. Sementara wisman India lebih suka menggunakan hotel-hotel murah, meski pun memilih penerbangan mahal.

“Yang perlu kita cermati adalah, mengapa wisatawan yang royal dalam membelanjakan uangnya seperti dari Jepang, Korea dan Taiwan justru menurun,” kata Faisal.

Faisal Basri juga mengkritik kebijakan bebas visa kepada begitu banyak negara, yang bisa berdampak negatif kepada negara.

“Seharusnya pemberian visa itu berdasarkan asas resiprokal, timbal balik. Kita memberi bebas visa kalau kita juga mendapatkanya, bukan hanya diobral seperti sekarang. Kita kan tidak tahu apakah yang datang maling, bandar narkoba dan lain sebagainya,” tegas Faisal.

Mengenai klaim pemerintah yang menyebutkan devisa dari pariwisata berada di urutan kedua setelah ekapor cpo, menurut Faisal tidak bisa dibandingkan begitu saja.

“Pariwisata itu masuknya besar, tapi belanjanya juga besar. Selain itu, yang dijual juga banyak, ada destinasi, kuliner hotel dan sebagainya. Sedangkan cpo uangnya utuh, kita tidak membeli cpo dari negara lain, dan yang dijual cuma satu item,” kata Faisal.

Namun di tengah gambaran masa depan perekonomian yang tidak terlalu cerah, menurut Faisal, pariwisata masih memiliki prospek menggembirakan.

 

Share This: