Farhat Abbas Berharap KPK Tetapkan Tersangka Lain

_

Farhat Abbas, Kuasa Hukum dari Pengacara Elza Syarief, berharap KPK menetapka tersangka lain yang terlibat dalam kasus e-KTP. Farhat menegaskan hal itu ketika mendampingi kliennya, di KPK. Elza merupakan saksi untuk tersangka Kasus e-KTP, Andi Agustinus alias Andi Narogong.

“Sebagai anggota tim pengacara kami minta KPK lebih tegas. Sudah tiga kali  Bu Elsa diperiksa bolak balik. Kami minta agar nama yang telah disebutkan terlibat dengan e-KTP segera ditetapkan sebagai tersangka. Jangan sampai makin lama dan bertel-telenya kasus ini, membuat mereka menghilangkan barang bukti, mempengaruhi pihak lain saksi dan sebagainya,” kata Farhat Abbas di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (10/5/2017).

Farhat juga mempertanyakan beberapa nama anggota Dewan yang tercantum di surat dakwaan, yang diduga terlibat di dalam kasus e-KTP, belum dinaikkan statusnya sebagai tersangka.

Sedangkan Miryam S. Haryani yang hanya menerima uang dalam jumlah kecil, yakni USD 23.000,  sudah ditetapkan tersangka, bahkan sempat dimasukkan kedalam Daftar Pencarian Orang (DPO) sebelum ditangkap.

“Jangan sampai proses ini hanya sampai pencitraan, iklan, seolah-olah serius berantas e-KTP tapi ternyata baru tiga nama yang jadi tersangka,” kata Farhat.

Farhat menegaskan, pemanggilan yang sudah terjadi sebanyak tiga kali menggangu pekerjaannya, karena dirinya harus bolak-balik ke KPK untuk dimintai keterangan.

“Jadi kesannya yang diperiksa itu adalah Bu Elza. Padahal Bu Elza adalah orang yang mewakili M. Nazaruddin, yang pertama membongkar perkara ini. Jadi Nazar tidak bisa menganulir kata-katanya, karena dulu diwakili.  Bagan skema tentang proses ini disampaikan langsung oleh Bu Elza di depan media maupun di depan persidangan, yang melibatkan beberapa terdakwa,” bebernya.

Elza Syarief sendiri mengungkapkan, pemeriksaan dirinya sebagai saksi Andi Narogong berkaitan dengan dirinya yang merupakan pengacara Nazar, mengingat dirinya sendiri tidak mengenal baik Andi Narogong.

“Secara ril saya gak pernah kenal dengan Andi. Tetapi mungkin berkaitan dengan sebagai kuasa hukum Nazar, whistle blower terhadap kasus e-KTP. Pada tahun 2013 dan saya sebagai kuasa hukumnya Nazar. Menndengar apa yang disampaikan Nazar, dan juga menjelaskan apa yang Nazar sampaikan kepada KPK, dan kemudian dengan dasar itu saya pernah mengungkapkan kasus ini dan dilakukan konpers di Gedung DPR tahun 2013,” tegasnya.

Sebelumnya pada (3/4) lalu di dalam persidangan, Nazar membenarkan adanya bagi-bagi dana kepada sejumlah anggota DPR terkait dengan pembahasan proyek e-KTP dengan nilai Rp 5,9 triliun. Nazaruddin mengungkap aliran dana ke Ketua Banggar hingga Ketua Komisi II DPR. Berikut daftar nama penerima yang dibeberkan Nazar yang menerima uang e-KTP.

Penerima pertama mantan Ketua Banggar DPR Melchias Marcus Mekeng sebesar 1,4 juta dolar. Menurut Erza mengutip Nazaruddin, pemberian kepada Mekeng dilakukan di ruang pimpinan Banggar dan ruang Mustokoweni (alm). Nazaruddin hanya menyaksikan pemberian uang USD 400 ribu.

Penerima lainnya adalah Mantan Wakil Ketua Banggar Olly Dondokambey sebesar 1,2 juta, mantan Wakil Ketua Banggar Tamsil Linrung 1,2 juta, mantan Wakil Ketua Banggar Mirwan Amir USD 1,2 juta, mantan Wakil Ketua Komisi II Ganjar Pranowo 500 ribu, mantan Anggota Komisi II Arif Wibowo 100 ribu. Masing-masing dalam bentuk dolar. Terakhir mantan Ketua Komisi II Chairuman Harahap, masing-masing 550 ribu dolar dan Rp 24 miliar.

Seperti diketahui, Andi merupakan tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi proyek e-KTP. Dalam surat dakwaan Irman dan Sugiharto, Andi disebut berperan penting dalam proses penganggaran dan pengadaan proyek tersebut.

Share This: