Film “11:11 – Apa Yang Kau Lihat?”, Horor yang Memanjakan Mata

_

Cerita horor tidak selalu harus dibangun dengan elemen-elemen klasik seperti rumah tua yang besar di lingkungan sepi, hantu yang muncul tiba-tiba di kamar, kuburan-kuburan angker atau tempat-tempat keramat. Cerita horor juga bisa hadir dari tempat indah yang memanjakan mata.

“11:11 Apa Yang Kau Lihat?” produksi Layar Production dan Cinema Delapan, yang akan tayang di bioskop seluruh Indonesia, mulai 21 Febuari 2019 ini, adalah sebuah film horor yang bukan saja mencoba menakut-nakuti penonton, tetapi juga menghibur melalui tata fotografi yang berkelas.

Foto-foto: Layar Production.

Konsep baru ini setidaknya telah memberikan tesis baru bahwa film horor akan bertambah menarik jika banyak menampilkan adegan outdoor yang memanjakan mata. Setidaknya jika penonton bosan dengan film Indonesia yang adegannya berputar-putar dalam konsep klasik, film ini menjadi suatu sajian yang tak boleh dilewatkan.

Film ini mengisahkan tentang 4 pemuda, yakni Galih, Ozan, Vania, dan Martin yang melakukan perjalanan ke sebuah pulau terpencil bernama Tanjung Biru atas ajakan Martin.

Galih yang berprofesi sebagai fotografer bawah laut dan instruktur selam, setuju dengan tawaran itu. Berangkatlah dia bersama Martin dan Ozan, teman di sekolah selam mereka serta Vania, salah seorang siswa selam yang hobi ngevlog.

Di Tanjung Biru mereka melakukan eksplorasi menyelam termasuk ke sebuah kapal karam yang terlarang didatangi. Namun bukan hanya menyelam, Ozan juga mengambil sebuah arca kecil dari dalam kapal. Dari situlah mereka mulai menerima teror dari mahluk halus menyeramkan penunggu Karang Hiu, di mana kapan karam itu terdapat.

Fotografi indah

Dibintangi oleh pasangan suami isteri Randy Kejaenet dan Lady Nayoan, Twindy Rarasati, “11:11 – Apa Yang Kau Lihat”, sejak awal sudah menampilkan gambar-gambar yang memanjakan mata. Bukan karena lokasi yang dipilih meruapakan spot-spot wisata menarik, tetapi tata fotografi film ini memang sangat terjaga.

Perjalanan Galih cs sampai mereka di Lampung, adalah sebuah display gambar menyegarkan, membuat mata tak bosa untuk melihatnya. Apalagi kemudian adegan yang dibuat di bawah laut seperti memberikan pengalaman baru bagi penonton, untuk melihat panorama bawah laut yang jarang ditemukan dalam film Indonesia.

Pemilihan cerita dan lokasi terkait merupakan sebuah langkah jitu, karena ini bisa mengalihkan perhatian penonton pada sisi lemah film ini, yakni para pemain yang bukan bintang-bintang nomor wahid, serta cerita yang tidak terlalu memberi banyak kejutan.

Mengaitkan tokoh Galih dengan arwah ibunya yang ternyata ketika hidup merupakan kuncen di Pulau Hiu tidak memberi nilai tambah yang terlalu signifikan, kecuali jika kemudian itu bisa membangun cerita yang lebih dramatik antara Galih dan Vania.

Horor yang sudah dimunculkan di dalam kapal karam sebenarnya sangat menarik dan bisa lebih mencekam, andaikata bagian ini bisa lebih dieksplorasi. Karena suasana di dalam laut sendiri sudah bisa menekan psikologi penonton. Tetapi mungkin karena persoalan teknis, penulis cerita / sutradara justru memilih memindahkan sang hantu ke daratan, sehingga daya tekannya melemah. Apalagi sutradara memilih porsi actionnya bukan teror non fisik yang sebenarnya bisa lebih menakutkan.

Statenen Executive Producer Layar Production Fitrin Hapsari yang mengatakan pihaknya tak hanya menjual kisah horor dalam film ini tetapi juga memanjakan mata penonton dengan panorama alam Indonesia, khususnya yang ada di Lampung dan Bali, patut diamini. Pilihan itu menjadi langkah bagus yang patut diapreaiasi.

Bagi penggemar film Indonesia, ini adalah kesempatan untuk menyaksikan sajian yang berbeda.

 

 

 

Share This: