Film “22 Menit”: Kisah Polisi dan Terorisme

_

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang berulangkali harus menghadapi aksi teroisme. Korban-korban berjatuhan, sudah puluhan teroris ditangkap, ditembak mati, diproses secara hukum hingga menjalani hukuman mati. Namun terorisme tak benar-benar habis. 

22 Menit adalah film yang mencoba mengangkat fenomena terorisme di Indonesia, dan bagaimana pihak kepolisian yang bertanggungjawab atas keamanan masyarakat mengatasi aksi terorisme.

Pihak kepolisian nampaknya mendukung penuh pembuatan film ini. Peralatan milik kepolisian yang selama ini tidak pernah terlihat di film, dalam film ini menjadi properti penting. Mulai dari pistol maupun senapan, kendaraan taktis baracuda, motor-motor besar maupun kendaraan operasional polantas, hingga helikopter.

Masyarakat juga bisa mendapat gambaran yang lebih jelas bagaimana polisi melakukan koordinasi dalam bekerja, termasuk tim elite kepolisian. 

Film karya sutradara Eugene Panji dan Myrna Paramita ini merupakan sebuah film yang menggambarkan aksi terorisme secara lebih gamblang. Eugene ingin lebih detil menggambarkan bagaimana teroris beraksi, dan kemudian bagaimana polisi bertindak mengatasinya.

Film ini nampaknya didukung penuh pihak kepolisian. Bukan hanya peralatan milik kepolisian maupun personelnya dilibatkan, bahkan Kapolri Jend. Tito Karnavian dan Brigjen Pol. Krisna Mukti yang memimpin anggota kepolisian dalam menghadapi peristiwa bom Thamrin, ikut main walau hanya menjadi figuran.

Kapolri bermain sebagai pengendara motor yang ditilang karena tidak memakai helm, sedangkan Brigjen Krisna Murti berperan sebagai tukang sate.

Dalam peristiwa bom Thamrin, pada Januari 2016 lampau, ada sosok tukang sate yang menjadi viral, karena dia tetap tenang berjualan, meski pun masyarakat sedang panik karena ada bom meledak dan teroris mengacung-acungkan senjata.

Kemewahan fasilitas itu ternyata menjadi bumerang buat sang sutradara, karena sutradara lebih mengutamakan pendekatan action ketimbang merangkai sisi dramanya. Eugene juga kerap mengulang-ulang peristiwa yang ditandai dengan angka digital penunjuk waktu kejadian. Alih-alih menegangkan, pengulangan adegan itu malah terasa menjemukan.

Film ini sebenarnya akan lebih menarik kalau aspek dramanya digarap. Sedangkan kecanggihan kinerja dan peralatan kepolisian harusnya hanya menjadi pelengkap untuk memberi nilai tambah bagi daya tarik film ini.

Sayang itu tidak digarap dengan baik. Terlalu banyak yang ingin disampailan, namun Eugene terlalu terburu-buru untuk menyelesaikannya sehingga tidak mampu mempermainkan emosi penonton. Padahal masih banyak waktu yang tersedia, ketimban megurangi durasi film menjadi hanya  75 menit.

“Kami mendramatisir beberapa bagian dari peristiwa bom Thamrin untuk keperluan bercerita lewat medium film Kami berniat menyuguhkan sajian teknologi canggih ke layar lebar,” kilah Eugene kepada wartawan..

Film ini dibintangi oleh Ario Bayu yang berperan sebagai Ardi, anggota pasukan anti terorisme kepolisian yang mempertaruhkan nyawanya demi mengamankan ibukota dari ledakan bom tersebut Berkat kesigapan tim dan juga bantuan dari seorang polisi lalu lintas bemama Firman (Ade Firman Hakim), pelaku serangan bom bisa diamankan dalam waktu 22 menit

Selain cerita tentang Ardi dan Firman, “22 Menit” juga menghadirkan sudut pandang mereka yang ikut terjebak di dalam situasi mencekam Beberapa di antaranya adalah office boy bemama Anas (Ence Bagus), dua karyawati bemama Dessy (Ardina Rasti) dan Mitha (Hana Malasan), serta Shinta (Taskya Namya) yang mempakan kekasih Firman

 

Share This: