Film “AAC2”: Menabur Kasih, Menuai Cinta

_

MD Picture akan meilis sequel film Ayat Ayat Cinta yang diberi judul “Ayat Ayat Cinta 2” (AAC2). Ada beberapa elemen penting yang berubah, antara AAC pertama dengan AAC2. Jika film terdahulu disutradarai oleh Hanung Bramantyo, AAC2 ditangani oleh Guntur Suharyanto.

Komposisi pemain juga berubah. Ryanti Cartwrigh dan Carissa Putri, Zaskia Mecca dan Melania Putria menghilang, kini muncul Sandra Dewi, Tatjana Saphira dan Chelsea Islan.

Begitu pula dengan Oka Antara, Denis Adhiswara dan Surya Saputra yang digantikan pososinya oleh Arie Untung dan Panji Pragiwaksono. Lalu ada pula Dewi Irawan dan Mathias Muchus.

Tokoh sentral dalam AAC2 tetap Fahri Abdullah (Ferdi Nuril), lelaki Indonesia yang telah menikah dengan Aisha Greimas, wanita keturunan Jerman – Turki.

Namun kali ini harus kehilangan Aisha, wanita yang sangat dicintainya. Fachri yang kini menjadi dosen di Edinburg, Inggris terpaksa hidup seperti lelaki lajang, bersama temannya asal Turki, Hulusi (Panji Pragiwaksono).

Di tengah kesendiriannya itu datanglah sepupunya, Hulya (Tatjana Saphira). Diam-diam Hulya mencintai Fahri dan berusaha memilikinya.

Karena kemurahan hatinya, Fachri juga menampung seorang wanita pengemis bercadar di rumahnya, yang dijadikan pembantu rumah tangga. Sehingga rumah Fahri yang besar dan mewah kini penuh oleh dua orang teman, Hulusi dan Misbach (Arie Untung) dan wanita pengemis itu. Sesekali Hulya juga menginap.
Penuh Kasih

Dalam AAC2 Fahri digambarkan sebagai lelaki sukses, dermawan dan penuh kasih. Ia tidak melawan kebencian dengan kebencian. Bahkan tetangganya yang begitu membenci Fahri, tetap dikasihinya.

Keira (Chelsea Islan) bersama ibu dan adiknya yang membenci Fahri sebagai seorang muslim karena dinilai identik dengan teroris. Ayah Keira terbunuh oleh ledakan bom teroris.

Mengetahui Keira kesulitan uang untuk membiayai kursus biola, diam-diam dibantu oleh Fahri, dengan memanggil guru profesional dan membayarnya, hingga Keira berhasil. Keira sendiri sempat marah ketika tahu Fahri membantunya.

Fahri sendiri selalu membantu tanpa mengharap imbalan apa-apa. Iya juga tidak melihat latar belakang orang yang dibantunya, baik agama maupun status sosial.

Film ini nampaknya ingin menampilkan wajah Islam yang penuh kasih, bertolak belakang dengan gambaran Islam yang diperlihatkan oleh kelompok-kelompok Islam garis keras. Fahri menjadi kendaraan untuk membawa pesan itu.

Saking tulusnya jiwa Fahri, ia bahkan tidak pernan tahu bahwa pengemis yang ditolongnya adalah Aisha, isterinya sendiri yang telah tujuh tahun menghilang.

Sebetulnya Aisha bukan menghilang. Ia sengaja menyembunyikan jatidirinya setelah wajahnya rusak akibat terkena ledakan bom Israel di Gaza, ketika menjadi relawan di sana.

Ada tiga persoalan yang diangkat dalam film ini, yakni tentang stigma keras dalam wajah Islam yang ingin dipatahkan, cinta dengan sesama dan cinta lawan jenis. Dalam diri Fahri, ketiganya bermuara.

Fahri yang kerap menebar kasih dan mencintai sesama manusia, akhirnya berhasil menunjukkan wajah cinta yang rahmatan lil alamin. Pada gilirannya ia mendapatkan cinta dari orang-orang yang ditolongnya.

Sayang film yang sarat pesan ini digarap kurang teliti dan terkesan menggampangkan persoalan. Fahri digambarkan menjadi lelaki yang sangat sempurna: pintar, kaya rasa, dan penuh belas kasih dengan sesama.

Anehnya Fahri tidak mengetahui sama sekali penyamaran Aisha. Mungkinkah seorang suami yang sudah lama hidup dengan wanita yang sudah menjadi isterinya, bisa tidak tahu sama sekali penyamaran sang isteri. Tidakkah dia bisa melihat dari gesture, dari suara atau setidaknya menanyakan asal-usul wanita tersebut?

Penulis cerita maupun sutradara nampaknya sengaja membuat sebuah misteri, walau pun misteri yang dibuat, melawan akal sehat.

Share This: