Film “Anak Hoki”: Sebuah Fantasi Berbeda Tentang Ahok

_

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) merupakan nama yang fenomenal dalam jagat politik di Indonesia. Jabatannya yang singkat di pemerintahan daerah, sejak menjabat sebagai Wakil Gubernur hingga menjadi Gubernur DKI Jakarta, membuat Ahok menjadi tokoh yang banyak dibicarakan di tingkat nasional.

Sikapnya yang meledak-ledak, namun dinilai jujur dan berhasil membawa inovasi dalam memerintah Jakarta, menjadikan ia sosok yang sulit dilupakan.

Sikap dan ucapan yang meledak-ledak dan sering hilang kontrol itulah yang membawanya masuk penjara. Namun demikian, popularitas Ahok tidak surut. Ia tetap memiliki pendukung fanatik hingga saat ini. Ahok menjadi idola sekaligus musuh banyak orang, terutama di Jakarta.

Fenomema Ahok mendorong sineas tertarik mengangkat kehidupannya ke dalam film. Yang pertama “A Man Called Ahok” karya Putrama Tuta, mengangkat sebagian kehidupan Ahok sejak kecil hingga lulus kuliah.

Film kedua, “Anak Hoki” menggambarkan kehidupan Ahok (diperankan oleh Kenny Austin) sejak SMA hingga kuliah. Sejak SMA hingga kuliah dia bersahabat dengan Daniel Simarmata (Lolox), pemuda Batak yang disuruh menjadi pendeta oleh ibunya (Tamara Geraldine), tetapi malah sekolah masak.

Satu lagi teman Ahok adalah Bayu (Christ Laurent) yang sempat cemburu dengan Ahok karena cewek yang ditaksirnya, Eva (Nadine Waworuntu) sempat mendekati Ahok.

Film karya sutradara Ginanti Rona ini juga dibintangi oleh Maia Estianti, Tina Toon, Fero Walandouw dan adik kandung Ahok, Harry Tjahaja Purnama.

Bukan biopic Ahok

Pulau Belitung, etnis Cina, kacamata adalah unsur-unsur yang diketahui masyarakat dalam kehidupan Ahok. Unsur-unsur itulah yang muncul dalam film ini.

Digambarkan, sejak menjadi pelajar SMA Ahok sudah berkacamata. Ia memiliki orangtua dan saudara yang tinggal di Belitung. Ayahnya adalah seorang pengusaha pertambangan timah yang dikenal dermawan kepada masyarakat Lampung.

Sampai di situ unsur-unsur yang ditampilkan memiliki kemiripan dengan Ahok asli. Kemudian yang juga sama adalah dalam bidang pendidikan. Basuki Tjahaja Purnama dan tokoh Ahok sama-sama kuliah di Fakultas Geologi, setelah meninggalkan tempat kuliah pertamanya di Fakultas Kedokteran.

Akan tetapi di luar itu, cerita film ini sama sekali berbeda dengan kisah hidup Ahok asli. Penulis cerita nampaknya tak ingin berbenturan dengan film yang mengambil biografi Ahok, yakni A Man Called Ahok, walau kabarnya film ini lebih dulu digarap dibandingkan karya Putrama Tuta.

“Anak Hoki” memilih bentuk fiksi meski pun tokohnya bernama Ahok dan memiliki kemiripan dengan tokoh Ahok asli. Jadi banyak hal dalam film ini yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kehidupan Ahok.

“Anak Hoki” menggambarkan kehidupan anak muda yang mencari jatidiri, sehingga mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan keinginan orangtua. Dalam pendidikan misalnya, Ahok memutuskan meninggalkan Fakultas Kedokteran lalu masuk Fakultas Geologi dengan alasan ingin membantu orangtuanya di pertambangan. Daniel sekolah koki meski ibunya berharap dia jadi pendeta, dan Eva menyukai musik meski orangtuanya ingin dia konsentrasi kuliah.

Film ini kemudian diwarnai dengan konflik dan percintaan yang memang tidak jauh dari kehidupan anak-anak muda. Untuk memberi penekanan pada aspek drama, diselipkanlah kisah kecelakaan kereta apa, yang membuat konflik menjadi rumit, karena Ahok dan Bayu diminta bertanggungjawab oleh ayah Eva, bila terjadi sesuatu dengan Eva. Tetapi dalam kecelakaan kereta api itulah Ahok secara tidak sengaja bertemu dengan ibu kandung Daniel yang sempat mengalami luka-luka.

Kecelakaan kereta api juga menggugah Amora (Maia Estianti), seorang penyanyi terkenal untuk menemui Eva, anak yang sempat tidak diakuinya di hadapan wartawan, karena merasa malu. Amora telah lama bercerai dengan ayah Eva (Leroy Osmani).

Penggemar fanatik Ahok jangan terlalu berharap ingin menemui karakter utuh idolanya dalam film ini. ‘Anak Hoki” hanya sebuah fiksi tentang kehidupan tokoh bernama Ahok, yang banyak memiliki kemiripan dengan tokoh Ahok yang sebenarnya. Namun demikian film ini masih bisa mengobati kerinduan pendukung fanatik Ahok, sekaligus sebagai hiburan segar melihat karakter Daniel dan ibunya yang berlogat Batak lucu.

Tamara Geraldine, walau pun jarang muncul di dunia entertainment setelah menikah, masih memiliki kemampuan akting yang prima. Sedangakan Kenny Austin  malah terlalu lembut memerankan sosok Ahok.

 

 

 

 

.

Share This: