Film Anti Pembajakan: Memukul Kecoa di Sarang Tikus

Pemusnahan CD / VCD bajakan. (Foto: beritajateng.net)
_

Pembajakan terhadap karya kreatif seperti lagu dan film nampaknya tidak pernah berakhir. Sejak era teknologi seluloid, kemudian pita-pita digital maupun cakram digital, hingga memasuki teknologi internet, pembajakan tidak pernah hilang. Bahkan semakin maju teknologi informasi berkembang, semakin canggih pula pembajak dalam melakukan aksinya.

Saat ini pembajak tidak perlu menggandakan secara fisik hasil pekerjaan haram mereka, tetapi cukup memanfaatkan teknologi internet, baik melalu website yang dibuat khusus maupun dengan memanfaatkan media sosial yang ada. Dari situ pembajak bisa meraih keuntungan, baik secara materi maupun keuntungan lain yang bersifat non materi.

Yang berusaha meraih keuntungan materi dari perbuatan haramnya itu akan membuat website khusus, lalu mencari viewers sebanyak-banyaknya, dan dari sana akan masuk pemasang iklan. Pembajak jenis ini memang sangat profesional, dan sangat merugikan bagi para kreatof maupun perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang perekaman maupun peredaran produk karya kreatif seperti musik maupun film.

Yang tidak mencari kuntungan materi biasanya merekam hanya untuk mendapatkan apresiasi berupa pujian-pujian atau popularitas belaka. Yang seperti ini memang tidak menghancurkan industri kreatif secara telak, karena hasil bajakan mereka, khususnya film, juga cenderung apa adanya, kadang tidak lengkap, karena hanya merekam dengan gadget yang dimilki dari layar bioskop.

“Perbuatan mereka juga merugikan karena akan mengurangi nilai dari sebuah film yang sedang main di bioskop,” kata sutradara Angga Dwimas Sasongko dalam peluncuran film Anti Pembajakan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Dengan semakin canggihnya gadget yang diproduksi dan kemudahan untuk memiliki gadget-gadget canggih itu, fenomena rekam merekam semakin marak di tengah masyarakat. Pemilik telepon genggam bisa merekam kejadian apa saja yang ada di sekitarnya hanya dengan telepon genggam, lalu menyebarluaskan (menshare) melalui media sosial.

Banyak peristiwa-peristiwa penting yang bisa disaksikan di medsos beberapa detik setelah berlangsung atau bahkan masih berlangsung, karena direkam oleh pemilik telepon gengggam. Rekaman peristiwa pada saat peristiwa itu berlangsung memiliki nilai yang sangat tinggi, meski pun secara kualitas kadang kurang memadai. Bahkan banyak hasil rekaman peristiwa penting yang direkam dengan telepon genggam disiarkan oleh televisi.

Sayangnya tidak semua anggota masyarakat mengetahui mana peristiwa yang boleh atau tidak boleh direkam dan disiarkan melalui media sosial. Saat ini ada undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) yang mengatur rambu-rambu terhadap apa yang boleh dan tidak boleh disiarkan. Yang terkait dengan hak cipta, seperti karya kreatif, ada UU Hak Cipta yang mengaturnya.

Fenomena yang muncul akhir-akhir ini – seperti kata Angga Dwimas Sasongko – adalah kebiasaan merekam film yang sedang diputar di bioskop, lalu menyebarluaskan melalui media sosial. Perbuatan itu tidak bermotif kepentingan ekonomi, melainkan hanya untuk mendapatkan popularitas belaka. Konon sudah ada yang ditangkap karena perbuatan itu.

Film pendek yang dibuat Angga, dengan bintang Chicko Jerikho dan Tio Pakusadewo bertujuan untuk mengingatkan para pengguna telepon genggam – khususnya kalangan muda – untuk tidak sembarangan mereka film yang sedang dipertunjukkan di bioskop, karena sangat merugikan pemilik film, dan melanggar UU Hak Cipta.

Angga menyimpulkan perbuatan itu telah mengurangi nilai sebuah film. Bahasa sederhananya mungkin, masyarakat yang semula penasaran ingin menonton film tertentu, berkurang niatnya atau bahkan membatalkan keinginannya untuk menonton, karena potongan-potongan film itu sudah muncul terlebih dulu di internet (spoiler).

Pertanyaannya, semudah itukan pemilik telepon genggam merekam film-film yang sedang main di bioskop?

Jika mencerna penjelasan dari pemilik jaringan bioskop – XXI, CGV Cinemas dan Cinemaxxx – yang hadir dalam konperensi pers peluncuran film Anti Pembajakan karya Angga Dwimas Sasongko yang diproduksi APROFI itu, rasanya sulit kegiatan itu bisa terjadi. Apalagi sampai merekam secara utuh sebuah film.

Perwakilan tiga jaringan bioskop itu menjelaskan, pengawasan terhadap penonton dilakukan secara ketat. Ada petugas yang secara khusus bolak-balik dalam tempo 15 – 30 menit untuk mengawasi penonton; dan setiap gedung bioskop dilengkapi CCTV yang sangat peka hingga mampu melihat dalam suasana bioskop yang gelap. Bahkan proyeksionis (petugas pemutar film) yang berada di bagian belakang atas penonton juga ikut mengawasi.
Tetapi seperti ungkapan, “Maling selangkah lebih cepat dibandingkan polisi”, maka film-film bajakan, walau cuma spoiler, tetap saja bisa beredar secara luas. Yang aneh memang bukan Cuma rekaman berupa cuplikan semata yang beredar, tetapi film-film dengan durasi yang utuh. Film-film yang sudah direkam dan diperbanyak dalam bentu DVD atau melalui internet, bisa dengan mudah diperoleh.

Tidak percaya? Aneh dong kalau tidak percaya, berarti kurang gaul. Tidak usah ditunjukkan di mana tempat mencari barang-barang itu, semua pencinta film bajakan pasti mengetahuinya.

Tentu kita akan bertanya lagi, dari mana sumbernya sumber film-film yang utuh itu diperoleh? Nah ini yang susah. Seperti kentut: ada baunya, tidak ada bentuknya. Kalau ada sekumpulan orang mencium bau kentut, masing-masing pasti akan saling tunjuk. Jarang sekali ada yang mengaku kentut itu ke luar dari duburnya.

Penulis sangat tidak yakin bahwa film-film yang utuh itu hasil rekaman anak muda iseng yang mengarahkan telepon genggam miliknya ke arah layar bioskop, lalu memencet tombok rekam, kemudian mengedarkan dalam bentuk rekaman atau disebarkan melalui internet, dengan tujuan komersil. Bukankah di dalam bioskop ada CCTV yang sangat peka? Ada petugas yang wara-wiris mengawasi dalam tempo 15 – 30 menit, atau proyeksionis yang melongok ke bawah.

Jadi siapa dong yang melakukan itu?

Nah, inilah yang justru harus ditelusuri dan diberantas. Tetapi sejak jaman kuda gigit besi hingga menjelang lebaran kuda, siapa dalang dari semua itu tidak pernah terungkap. Modusnya terlalu canggih, tikusnya terlalu banyak, sehingga perangkap dan racun tikus dosis tertinggi pun tak mampu membasmi mereka.

Sudah sejak puluhan tahun lalu gerakan anti pembajakan dibuat, tetapi hasilnya tidak signifikan. Indonesia bahan pernah dituding sebagai negara surga pembajak. Tahun 1985, pemusik asal Inggris Bob Geldof bahkan akan memboikot kunjungan turis ke Indonesia, karena konser Live Aid (konser musisi Inggris – Amerika untuk mencari bantuan buat rakyat Afrika yang kelaparan) dibajak di Indonesia.

Beberapa puluh tahun lalu juga beredar gossip bahwa yang terlibat dalam rekaman ilegal justru produser rekaman sendiri; film-film bajakan bisa muncul karena pembajak bisa bekerja sama dengan pihak-pihak yang menguasai / menangani penayangan film secara utuh. Coba kira-kira siapa saja yang bisa menguasai film secara utuh.

Jadi si mana posisi anak-anak muda bergadget canggih itu dalam produk haram itu? Mereka sebenarnya hanya kecoa, yang cuma bisa mengambil sangat sedikit porsi makanan di dapur. Aksi mereka tidak sebanding dengan gerombolan tikus yang bisa mengambil sepotong ayam goreng, atau bahkan menghabiskan seluruh makanan di dapur.

Walau pun kita paham kecoa juga berbahaya bagi kesehatan, karena habitat mereka di tempat-tempat kotor, tetapi kerugian yang ditimbulkan tidak sebanding dengan perbuatan tikus. Jadi kalau cuma menggebuk kecoa, kerugian besar akan tetap terjadi. Menurut penulis, film anti pembajakan produksi APROFI yang disutradarai Angga Dwimas Sasongko, hanya seperti menggebuk kecoa di sarang tikus. Entah kalau suatu saat kecoa itu bisa berubah jadi tikus. Untuk menghilangkan rekaman bajakan di Indonesia, harus tikus-tikusnya dibasmi. Bisa enggak?

Share This: