Film “Ave Maryam”: Pergulatan Iman Seorang Romo dan Suster

Maudy Koesnaedi sebagai suster (biarawati) dalam film Ave Maryam (Summerland)
_

Romo (pastor) dan biarawati juga manusia, yang memiliki cinta dan nafsu. Dalam situasi tertentu kedua aspek itu bisa meluluhkan iman mereka.

Itulah yang terjadi pada Ave Maryam, seorang biarawati yang bertugas mengurus biarawati-biarawati tua di sebuah gereja.

Menjelang ulang tahunnya yang ke-40, Suster Maryam berusaha untuk semakin memurnikan diri. Namun kedatangan Romo Yosef yang muda, ganteng, pandai bermusik, membuatnya tak mampu menjaga keimanan seorang biarawati.

Ave Maryam dan Romo Yosef akhirnya terlibat cinta terlarang, eros, cinta yang disertai nafsu. Sangat manusiasi, tetapi itu dosa besar dan sangat terlarang bagi manusia yang memutuskan diri untuk menyerahkan diri untuk melayani Tuhan dalam hidupnya.

Diperankan oleh aktor dan aktris berpengalaman seperti Maudy Koesnaedi (Ave Maryam), Chico Jerikho (Romo Yosef), Joko Anwar (Romo Martin), Olga Lydia (Suster Mila ) dan Tutie Kirana (Suster Monic), Ave Maryam mecoba mengangkat sisi lain dari kehidupan pastor dan biarawati yang selama ini hanya berada di ranah pergunjingan.

Cukup berani, mengingat, walau pun Indonesia menganut sistem demokrasi, tetapi wacana yang menyangkut agama, sangat sensitif. Namun karena yang diangkat mengenai keimanan gembala sidang umat Katolik, minoritas di negeri ini, dan cukup dewasa menerima kritik atau gambaran sisi negatif pemeluknya, penulis maupun sutradara film ini percaya diri untuk memfilmkannya.

Ave Maryam adalah sebuah film sederhana, tetapi sarat makna. Minim dialog, tetapi hampir semua dialog yang diucapkan para tokohnya mengandung makna yang dalam, perlu kecermatan untuk mencerna.

Misalnya ketika Suster Monic menegur Romo Yosef yang diketahui menjalin hubungan cinta dengan Suster Ave Maryam, tidak banyak petatah-petitih yang disampaikan. Dia hanya mengingatkan bahwa dalam diri manusia ada sesuatu yang tak kelihatan, dan perlu dikendalikan: nafsu.

Suster Monic yang telah berumur dan memiliki pengalaman hidup yang jauh, tidak ingin menasihati atau memvonis Romo Yosef secara berlebihan, karena dia sadar bahwa manusia tidak bisa menghakimi manusia lainnya.

“Ketika surga belum pasti menjadi bagianku, tidak mungkin aku mengurus nerakamu,” kata Suster Monic ketika berbicara kepada Romo Yosef.

Dalam film ini Romo Yosef digambarkan sebagai gembala umat yang belum mampu mengendalikan diri. Ia masih hanyut dengan jiwa mudanya yang bergelora, jatuh ke dalam gaya hidup hedonistik: modis, merokok dan menutupi rasa galau dengan minum bir.

Ketika suster-suster senior “menyidangnya” karena hubungannya dengan Ave Maryam, Romo Yosef yang diminta untuk melakukan introspeksi dan mempertanyakan keimanannya, dia seolah melawan dan membenarkan diri atas tindakannya selama ini.

“Ketikan Tuhan hanya hadiri di dalam pertanyaan, mengapa kita tidak boleh mempertanyakan apa yang ada di dalam diri kita!” katanya di hadapan suster-suster senior.

Namun penulis sekaligus sutradara film ini, Ertanto Robby Soediskam, tak ingin mempertentangkan lebih jauh tentang sistem dan praktek keimanan Katolik yang sudah dibangun sejak ribuan tahun lalu, di mana orang berdosa tidak bisa memiliki argumennya untuk mempertahankan kenikmatan dunia. Semua harus diselesaikan dalam bilik pengakuan dosa.

Pengakuan dosa Suster Ave Maryam di bilik pengakuan dosa (Sakramen Tobat) dengan Romo Yosef yang mendengar dari bilik sebelahnya, menjadi penyelesaian dari konflik batin kedua manusia yang awalnya bertekad untuk mengabdikan diri untuk melayani Tuhan.

Dalam bilik pengakuan dosa itu, bukan hanya Ave Maryam yang mengakui dosa-dosanya dan menyesal, pada saat yang sama Romo Yosef juga dilanda penyesalan yang amat sangat, sehingga ia tak mampu menahan emosinya.

Sakramen Tobat hanyalah penyelesaian dari konflik batin Romo Yosef dan Suster Ave Maryam. Kepergian Ave Maryam meninggalkan asrama gereja menjadi jalan untuk menyelesaikan masalah di lingkungan gereja. Kepergian itu menjadi satu pesan penting bahwa lingkungan gereja harus dibebaskan dari perbuatan orang-orang berdosa, meski pun di sini seolah-olah hanya perempuan yang harus menanggungnya.

Toleransi.

Film Ave Maryam tidak semata ingin menggambarkan kehidupan di dalam asrama Katolik dan pergulatan iman di dalamnya. Film ini juga menyelipkan pesan tentang toleransi. Lihatlah bagaimana seorang gadis cilik pengantar susu yang mengenakan hijab, bolak-balik ke asrama. Tidak ada masalah sedikitpun. Dalam satu kesempatan Suster Ave Maryam mengucapkan kata “Alhamdulillah” di depan gadis cilik tersebut.

Sebuah adegan yang memperlihatkan Suster Maryam tengah berjalan lalu berpapasan dengan sejumlah pelajar berhijab, merupakan pengkayaan dari pesan toleransi yang ingin disampaikan. Melalui adegan itu seolah penulis cerita ingin menegaskan bahwa perbedaan keyakinan bukan persoalan besar di Indonesia. Begitu pula dengan tutup kepala. Bukankah para pelajar muslim dan suster Katolik itu sama-sama menggunakan kerudung?

Yang paling menarik dari pesan toleransi dalam film ini adalah dari pemerannya itu sendiri, yakni Joko Anwar sebagai Romo (pastor) dan Maudy Koesnaedi sebagai Suster (biarawati), yang di dalam film harus bermain sesuai porsi tokoh yang mereka perankan.

Semua pemeran dalam film ini — meskipun tidak dibayar — memperlihatkan totalitas yang luar biasa. Artis senior Tuti Kirana menunjukkan bahwa usia dan pengalaman memang sebanding dengan kemampuan. Tuti Kirana berhasil menghidupkan karakter tokoh Suster Monic yang ringkih secara fisik, tetapi kuat secara mental dan spiritual.

Ave Maryam merupakan film karya sutradara dan penulis Robby Ertanto. Film ini berada dalam naungan studio produksi Summerland. Film ini akan beredar di bioskop mulai 11 April 2019.

Sebelum rilis di bioskop-bioskop Indonesia, Ave Maryam telah tayang pada Hanoi International Film Festival 2018, Hong Kong Asian Film Festival 2018, Seleksi resmi The Cape Town International Film Market and Festival 2018, Jogja-Netpac Asia Film Festival ke-13 dan Netpac-Geber Awards.

 

 

 

Share This: