Film “Bid’ah Cinta” Antara Cinta dan Stigma

_

Perbedaan sikap dalam meyakini ajaran agama di tengah masyarakat, merupakan fakta yang tak bisa dibantah. Tidak hanya di Indonesia, ini terjadi juga di seluruh dunia. Sebagian boleh menuding bahwa perbedaan itu tercipta karena persoalan ekonomi, kepentingan politik dan mungkin juga dari arah seberang disebut ajaran yang salah. Tetapi apa pun pendapat orang, fenomena itu akan terus terjadi. Bahwa kemudian itu menimbulkan konflik di tengah masyarakat, faktanya tidak bisa diabaikan begitu saja. Dan itu tidak hanya terjadi pada suatu agama saja, tetapi bisa terjadi di semua agama.

Di Indonesia, negara yang sangat beragam ini, perbedaan mahzab agama yang dipercaya masyarakat merupakan sesuatu yang lumrah terjadi. Bahwa kemudian, terutama akhir-akhir ini, perbedaan itu menimbulkan konflik yang berujung kekerasan, klaim kebenaran satu kelompok dengan menyalahkan pihak lain, itu juga fakta yang tak terbantahkan.

Fenomena itulah yang diangkat oleh Nurman Hakim bersama Ben Shohib dan Zaim Rofiki dalam film Bid’ah Cinta. Film produksi Kaninga Pictures itu disutradarai oleh Nurman Hakim sendiri.

Bid’ah Cinta mengisahkan masuknya kelompok Islam yang ingin menegakan Islam sesuai dengan ajaran aslinya, Islam yang khafah, di tengah masyarakat yang sudah terbiasa menjalankan ajaran Islam secara turun temurun. Oleh kelompok Islam yang ingin menegakan keaslian Islam seperti jaman Rasulullah, kelomok masyarakat yang menjalankan Islam seperti kebiasaan orang-orangtua mereka disebut Bid’ah, mempraktekan kegiatan agama yang tidak pernah dilakukan di masa Rasulullah.

Adalah Ustadz Jaiz, lelaki keturunan Arab yang ingin menegakkan Islam sesuai bentuk aslinya. Keinginan Ustad Jaiz mendapat sambutan dari sebagian warga, terutama oleh H Jamat, Kamal anaknya dan beberapa warga lain. Ustadz Jaiz adalah sepupu dari isteri H jamat.

Di sisi lain ada H Rohili, pemilik kontrakan yang tetap mempertahankan kebiasaan beribadah yang telah dilakukan turun temurun di kampungnya. Ustad Jaiz menyebut kebiasaan itu bid’ah. Dan ia ingin mengubah kampung yang disebutkan menjadi pusat bid’ah itu.

Ustad Jaiz bukan hanya ingin melakukan dawah sesuai keyakinannya, kedatangan dua sahabatnya yang pernah sama-sama belajar di pesantren, membuat sikapnya lebih keras memerangi bid’ah. Pengikut Ustd Jaiz bukan hanya berdakwah, tetapi kemudian memaksakan kehendak. Ustaz Jaiz menjadi Takmir Masjid Assalam, masjid milik warga kampung.

Sejak itu kebiasaan yang dianggapnya bid’ah, seperti qasidahan dan mengadakan pengajian pada malam Nifsu Syaaban, juga dilarang. Puncaknya adalah, ketika seorang transgender bernama Sandra dilarang shalat di Masjid. Sandra yang bertahan dengan niatnya diseret dan dipukuli, karena ingin shalat di barisan wanita.

Konflik antara dua kubu berbeda mahzab itu semakin kuat di perkampungan itu. Tidak hanya dalam bentuk sikap, tetapi sampai benturan fisik.

Film yang digarap oleh Nukman Hakim ini sangat relevan dengan situasi dan kondisi di Indonesia saat ini. Nukman nampaknya menangkap fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, di mana pertentangan antara orang-orang yang berbeda pemahaman, meski pun dalam agama yang sama: Islam, semakin kuat.

Benang merah cerita film ini adalah kisah cinta Khalida (diperankan oleh Ayu Shitha) anak H Rohili (Fuad Idris), dan Kamal (Dhimas Adhitya), anak H Jamat (Ronny Chandra). Sebagai anak keduanya tak bisa lepas dari pengaruh pemahaman orangtua terhadap agama, sehingga cinta mereka terombang-ambing. Kamal yang mulai bersikap keras mengikuti sikap orangtuanya terhadap orang-orang yang dianggap bid’ah, harus menghadapi kekerasan sikap Khalida, yang melihat agama dengan lebih cair.

Terus terang Khalida mengatakan cara Kamal beragama sangat ribet. Kamal yang mulai terpengaruh pemahaman Ustad Jaiz dan orangtuanya tidak sependapat dengan Khalida, sehingga hubungan mereka kerap terganggu.

Namun cinta lebih kuat dari apapun. Keteguhan Kamal mempertahankan keyakinannya luluh juga dengan cintanya terhadap Khalida. Ia bahkan berani menentang orangtuanya, sehingga H Jamat pun belakangan luluh. Sementara itu tudingan kakak kandung Khalida yang mengatakan Kamal bersama kelompoknya teroris, belakangan terbukti. Bukan Kamal yang teroris, tetapi dua sahabat Ustad Jaiz yang tinggal di pesantren miliknya belakangan ketahun bagian dari sel teroris. Salah seorang di antaranya ditembak ketika polisi mengrebek pesantren milik Ustad Jaiz.

Yang menarik dari film ini adalah bagaimana plot yang dibuat. Yang pertama adalah disodorkan permasalahan-permalasahan yang timbul di kampung, munculnya tokoh-tokoh yang stereotype penganut Islam garis keras: wajah dengan titik hitam di dahi, jenggot di dagu dan celana cingkrang.

Ustad Jaiz (Alex Abbad) dengan keteguhan sikapnya dalam mempraktekan Islam yang khafah, kerap mencampuradukan kalimatnya dengan bahasa Arab, dan hubungannya dengan donator dari Timur Tengah – digambarkan lewat telepon dengan donaturnya, akan menggiring penonton untuk menduga-duga bahwa dia adalah donatur yang mebiayai kelompok garis keras. Konstruksi semacam itu sudah melekat dalam benak sebagian orang. Apalagi kemudian datang teman-temannya yang mengaku satu pesantren dulu, dan mulai bersikap keras.

Namun penulis cerita ini ingin mengajak penonton – tentu juga masyarakat – untuk tidak menjatuhkan vonis terlebih dahulu, dengan hanya melihat penampilan dan cara berbicara seseorang (stigma). Ustad Jaiz memang kerap berbicara tegas tentang Islam yang khafah, cara bersikap dalam shalat, tetapi dia bukan tipe pemeluk Islam yang menghalalkan segala cara untuk menegakan agama yang diyakininya. Ketika terjadi serangan teroris di Paris, Ustad Jaiz yang melihat tayangan televisi berguman, “islam tidak pernah mengajarkan seperti itu.”. Ketika teman-temannya bersikap keras terhadap Sandra, dia juga menegur, walau ketika H Rohili protes, dia tetap berpegang teguh bahwa Sandra adalah lelaki, dan harus shalat satu shaft dengan kaum lelaki.

Tetapi melalui sosok Ketel dan Farouk, penulis seolah ingin mengatakan bahwa banyak orang yang baru mengenal Islam justru bersikap seorang lebih Islam dibandingkan orang lain.

Farouk dan Ketel digambarkan sebagai pemabuk di kampung itu. Keduanya kerap mabuk, tidur di pos ronda, dan berjoget ketika ada dangdut gerobak. Tetapi ketika mereka bekerja di pesantren Ustad Jaiz, kemudian mulai menjalankan shalat, keduanya, terutama Farouk, menjadi fanatik berlebihan. Farouk dan Ketel dengan beringas mengobrak-abrik dangdut gerobak yang dulu keduanya ikut berjoget, ketika masih menjadi pemabuk.

Ketel sendiri ternyata hanya Islam kulit ari. Di luarnya Islam, tetapi hatinya belum sepenuhnya menjalankan. Terbukti ia sesekali masih minum oplosan. Bahkan ketika ditangkap polisi, saking takutnya ia mengatakan bahwa ia hanya ikut-ikutan menjadi islam.

Bid’ah Cinta merupakan sebuah film yang mengangkat fenomena dengan cara bertutur yang menarik. Semua persoalan coba diselesaikan dengan baik, walau pada akhirnya keyakinan terhadap mahzab tidak bisa digoyahkan dengan mahzab yang berbeda. H Jamat bersama Ustad Jaiz akhirnya berdamai dengan H Rohili, dan berjanji untuk berjalan dengan keyakinan masing-masing.

Farouk, tetap teguh dengan keyakinan barunya. Meski pun menerima kehadiran H Rohili untuk mengadakan tahlilan pasca kematian ibunya, tetap tidak mengikuti ritual yang dijalankan H Rohili.

Kamal dan Khalida akhirnya menikah. Sandra yang telah pergi kembali lagi ke kampung itu. Berdamai dengan menghormati perbedaan, jauh lebih baik daripada memaksakan kehendak yang berujung pertikaian. Begitu pesan yang ingin disampaikan Nukman Hakim.

Kerja kamera cukup apik. Fotografi film ini cukup bagus dari segi pencahayaan maupun komposisi. Nukman Hakim juga matang dalam mendirect para pemain, sehingga setiap pemain bisa tampil maksimal dalam film ini. Lagu-lagu yang dijadikan soundtrack cukup menyentuh, walau pun lagu dangdut yang dibawakan oleh penyanyi dangdut gerobak diulang-ulang. Set yang sederhana dan konflik dari dua kelompok itu, tidak mengurangi kekuatan film ini. Nukman justru mampu mamaksimalkan hasil dari keterbatasan itu.

 

 

 

 

 

 

Share This: