Film “Boven Digoel”, Diangkat Dari Kisah Nyata Seorang Dokter di Papua.

Para pendukung film "Boven Digoel" dari kiri ke kanan: Iponk Wijaya (sutradara berdiri), John Manangsang, Joshua Matullesy, Christine Hakim, Edo Kondologit, dalam jumpa pers usai pemutaran film di Epicentrum XXI Kuningan, Senin (6/2) - Foto: HW
_

Boven Digoel merupakan sebuah nama tempat yang sangat terkenal di Papua, sejak jaman pra kemerdekaan. Di sanalah para pejuang nasional Indonesia yang dikenal pula sebagai Bapak Bangsa – Hatta dan Sjahrir, dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda, untuk meredam gejolak semangat perjuangan mereka.

Namun ada yang tak kalah menariknya dibandingkan catatan sejarah tentang pembuangan Bapak Bangsa ke Boven Digoel, yakni kisah seorang dokter bernama John Manangsang, yang dengan segala keterbatasannya berusaha menjaga kesehatan masyarakat, membantu pengobatan bahkan mengambil tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawa seorang ibu, walau dengan peralatan seadanya.

Kisah dokter John Manangsang ini telah diangkat ke dalam film berjudul Boven Digoel yang disutradarai oleh FX Purnomo alias Ipong Wijaya, dengan para pemain terdiri dari Christine Hakim, Joshua Matullesy, Puteri Papuan tahun 2013 Maria Fransisca, penyanyi Edo Kondologit, Ira Dimara dan beberapa pemain asal Papua sendiri.

Boven Digoel mengisahkan tentang kehidupan John yang tinggal bersama Mamanya seorang janda dengan beberapa saudaranya. Meski pun hidup mereka miskin, sana mama tidak ingin anaknya putus sekolah. John yang gagal masuk sekolah pilot akhirnya memutuskan untuk sekolah kedokteran, setelah melihat seorang wanita yang meninggal dunia karena sulitnya mendapatkan pengobatan di Papua.

John akhirnya lulus dari Universitas Indonesia dan kembali ke kampung untuk mengabdikan diri kepada masyarakat di daerahnya. John bertugas ke Puskesmas untuk melayani masyarakat, tetapi dia juga berusaha untuk mendatangi masyarakat yang perlu pengobatan di tempat-tempat terpencil.

Dengan transportasi yang sulit, medan yang berat, dan masih adanya kepercayaan akan dukun di kalangan masyarakat, John tidak menyerah untuk membantu masyarakat. Sampai suatu ketika ia harus mengambil keputusan untuk melalukan operasi Caesar terhadap seorang wanita yang hamil tua, tapi sulit melahirkan. Dengan alat seadanya – bahkan menggunakan silet – sebagai ganti pisau bedah, ia melakukan operasi Caesar.

Meskipun ini hanya film yang diproduksi perusahaan daerah, tetapi penggagas film ini nampaknya tidak mau main-main. Nama-nama yang sudah membuktikan kualitasnya seperti Judi Datau (Director of Photography), Jujur Prananto (Penulis skenario) dan Thoersy Agheswara (Pemnata Musik), terlibat dalam film ini.

Di tangan Judi Datau, gambar-gambar yang dihasilkan, pada bagian awal, memang cukup memanjakan mata. Bukit-bukit dengan pada savanna yang berdiri di pinggir pantai, adalah salah satu pemandangan menarik yang dihadirkan Judi dalam film ini. Sayang eksplorasi Judi terhadap landscape Papua kurang maksimal. Setidaknya masuk pertengahan film, gambar-gambar kembali menjadi biasa.

Jujur Prananto sendiri nampaknya sudah mencoba menyelipkan plot-plot dramatik untuk memperkuat cerita film ini, tetapi ketika muncul dalam bentuk bahasa gambar, kekuatan itu melemah. Sutradara terkesan kurang sabar untuk mencari angle-angle menarik dan pengambilan gambar yang lebih dramatis. Dari aspek cerita pun terasa begitu banyak yang kurang digambarkan lebih detil. Sehingga banyak proses tidak digambarkan.

Boven Digoel akan beredar di seluruh bioskop di tanah air mulai 9 Februari 2017.Jaringan Bioskop 21 hanya memberikan jatah 15 layar untuk film ini.***

 

 

Share This: