Film “Cahaya Cinta Pesantren”: Dakwah Tanpa Menggurui

Yuki Kato dan Fachri Muhammad dalam film "Cahaya Cinta Pesantren" (Foto: FullFrame Pictures)
_

Dakwah tentang Islam merupakan tema yang berulangkali diangkat ke dalam film Indonesia. Berbagai cerita dibuat yang ujungnya adalah bagaimana dakwah bisa disampaikan melalui isi film. Cahaya Cinta Pesantren mencoba berdakwah dengan cara tidak menggurui. Isi dakwah nyaris tidak kentara karena cerita yang mengalir dan enak diikuti, tanpa menonjolkan ayat-ayat suci yang kerap menjadi ciri khas film dakwah.

Film ini mencoba fokus terhadap perjalanan hidup Marsila Silalahi, anak nelayan yang tinggal di pinggir Danau Toba. Sejak kecil Marsila digambarkan sebagai gadis tomboy yang senang bermain dengan anak-anak lelaki, dan memiliki hobi seperti anak lelaki. Marsila suka bermain bola, bahkan berani berkelahi dengan anak lelaki. Ia memegang teguh kata-kata bapaknya, bahwa dalam hidup ini tidak boleh ada yang ditakuti.

Marsila yang tegar ternyata down juga ketika ia tidak lulus dalam penerimaan murid baru di sebuah SMA Negeri, sedangkan kakaknya lulus. Ia bahkan sempat menghujat Tuhan dengan mengatakan Tuhan tidak adil. Marsilla ngambek tak mau makan, bahkan menolak ditemui ibunya ketika ia menangis di kamar. Toh kemarahan Marsila akhirnya cair ketika ia merasa lapar, dan diam-diam mengambil makanan di dapur. Ibunya yang memergoki lalu memberikan sepotong daging ayam.

Orangtuanya lalu memasukkan Marsila ke sebuah pesantren di Medan, meskipun Marsila menolak. Di pesantren Marsila bertemu dengan teman-teman barunya, yakni Manda gadis asal Malaysia, Icut yang berasal dari Aceh, dan Aisyah dari Padang. Mereka lalu bersahabat dan berjanji untuk membagi setiap persoalan yang dihadapi.

Seperti disebutkan di awal, “Cahaya Cinta Pesantren” merupakan sebuah film dakwah yang berbeda. Film ini tidak menggurui dan tidak mengguyur penonton dengan ayat-ayat suci sebagaimana film dakwah yang pernah ada selama ini. Melalui tokoh Marsila yang digambarkan tomboy, agak nakal dan berani, cerita film ini berjalan dengan menarik.

Tokoh Marsila yang diperankan dengan baik oleh Yuki Kato dibiarkan tampil apa adanya, walau pada akhirnya akan sampai juga ke muara di mana Marsila akhirnya berhasil menunjukkan sisi positifnya sebagai seorang gadis. Dia cerdas dan punya sikap. Marsila berhasil menjadi seorang penulis buku, setelah sebelumnya belajar jurnalistik di majalah pesantren.

Dalam film yang diangkat dari novel karya Ira Madan, sutradara Ramond Handaya berhasil menampilkan warna lain dari kehidupan di pesantren. Memang ada disiplin, aturan-aturan, tetapi semua digambarkan dengan lebih cair, ada penggambaran yang lebih jujur tentang konflik batin yang dialami oleh anak pesantren. Lihatlah bagaimana Marsila dan Manda sempat berusaha kabur dari pesantren karena sejak awal memang tidak tertarik belajar di pesantren.

Meski pun durasi film ini cukup panjang – lebih dari 120 menit – tetapi ceritanya enak untuk diiukuti. Dari tokoh Marsila dan rekan-rekannya kerap bisa digali adegan-adegan segar. Para pemain yang terdiri dari Yuki Kato, Febby Blink, Vebby Palwinta, Silvia Blink, Rizky Febian, Elma Theana, Tabah Penemuan, Zeezee Shahab, Fachri Muhammad serta Wirda Mansur, cocok dengan karekter yang diperankan. (mBento)

 

Share This: