Film Eropa Belum Berani Masuk Bioskop Indonesia

Konperensi Persi Eropa on Screen di Hotel Pullman Jakarta, Selasa (25/4) siang. (Foto: HW)
_

Jumlah bioskop di Indonesia masih sedikit, sedangkan film-film yang ingin main sangat banyak, yakni film-film Indonesia dan film Amerika. Itulah sebabnya film-film asal Eropa memilih untuk diputar di pusat-pusat kebudayaan beberapa negara Eropa di Indonesia, agar film-film Eropa dapat disaksikan oleh pencinta film di Indonesia.

Orlow Seunke, Direktur Festival Eropa on Screen (EOS) 2017 mengatakan hal itu dalam konperensi pers di Hotel Pullman Jakarta, Selasa (25/4/2017) siang.

“Jumlah layar di Indonesia masih sedikit, baru seribu layar lebih. Dan itu harus diperebutkan antara film-film Amerika dan Indonesia, jadi sangat sulit untuk bersaing di bioskop Indonesia bagi film-film kami (Eropa). Dan membutuhkan dana besar bagi film yang ingin main di bioskop, terutama untuk biaya promosi. Oleh karena itu kami memilih untuk memutar dulu di pusat-pusat kebudayaan,” kata Seunke.

Menjawab pertanyaan mengapa Uni Eropa tidak masuk ke bisnis bioskop seperti yang dilakukan Korea, Seunke mengatakan bahwa kemungkinan itu ada, karena jumlah penduduk Indonesia merupakan pasar yang besar. Tetapi pertumbuhan kelas menengah yang bisa datang ke bioskop masih terbatas, dan Eropa menunggu tumbuhnya kelas menengah itu.”

Film-film Eropa memang sudah lama menghilang dari layar bioskop di Indonesia. Meski pun Eropa dikenal dengan film-film artnya, tetapi secara komersial kalah dibandingkan film-film Amerika.

Cerita yang terlalu berat, terlalu banyak dialog dan lamban dituding sebagai kelemahana film Eropa yang menyebabkannya kurang disukai penonton. EOS 2017 merupakan salah satu upaya negara-negara Eropa untuk mengubah imej tersebut.

Festival Film Eropa ke-17 akan berlangsung tanggal 5 – 14 Mei 2107 di enam kota di Indonesia, yakni di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Denpasar dan Yogyakarta. 74 film karya sutrdara ternama Eropa akan diputar dalam festival ini.

Pembukaan Festival akan diramaikan dengan pemutaran film A Perfect Day, sebuah drama komedi asal Spanyol karya sutradara Fernando Legri de Alanoa. Sedangkan malam penutupan akan diisi dengan pemutaran film Here is Harold, film drama komedi dari Norwegia karya sutradara Gunnar Vikene.

EOS 2017 juga akan menampilkan segmen khusus pemutaran enam film retrospektif, masing-masing tiga film karya Alfred Hitchcock dan tiga karya Alfred Bunuel, dan 11 film yang akan diputar dalam layar tancap. Semua film yang diputar di layar tancap diberi teks bahasa Indonesia.

Festiva film Eropa merupakan inisiatif bersama Pusat Kebudayaan dan Kedutaan Besar negara-negara Eropa di Indonesia. Festival ini pertama kali diselenggarakan tahun 1990.

Share This: