Film “Flight 555”: Kisah Pembajakan Pesawat Yang Konyol

_

Pembajakan pesawat merupakan cerita menarik yang sering diangkat ke dalam film. Kisah ini menarik karena ada drama yang kuat di dalamnya. Ada ketegangan, ketakutan, upaya penyelamatan dengan negosiasi maupun kekerasan yang bisa berakhir dengan maut.

Namun sutradara Ramon Handaya melalui filmnya memilih genre komedi. Alih-alih menegangkan, yang muncul adalah kelucuan-kelucuan yang menyentuh syaraf tawa.

Film ini menampilkan tokoh utama bernama Putu (Tarra Budiman) yang ingin menengok ayahnya di Bali, yang dikabarkan sakit. Putu baru saja putus cinta dari kekasihnya berniat membuang seluruh foto koleksinya. Tetapi ikut terbuang di tempat sampah toilet pesawat itu, foto ayahnya.

Dengan susah payah ia mengambil foto yang terbuang. Namun tidak sengaja ia menemukan sebuah pistol. Diam diam ia menyimpan pistol itu dan membawanya.

Ketika ia kembali ke kursi, ternyata ada pembajak beraksi. Dua orang pembajak membawa panas — satu memakai koteka — memaksa pesawat diarahkan ke Jayapura.

Ternyata di pesawat itu tidak hanya ada dua pembajak, kemudian muncul lagi pembajak lain membawa bom di badannya, meminta agar pesawat dibawa menuju Kupang. Putu yang ingin menengok orangtuanya, lalu mengeluarkan pistol dan menodong pembajak terdahulu, dan menegaskan agar pesawat tetap ditujukan ke Bali.

Kejadian berikutnya adalah bagaimana negosiasi antarketiga pembajak, upaya penyelamatan yang dilakukan oleh penumpang yang berani maupu  pramugari. Diam-diam ketiga pramugari yang bertugas jatuh hati dengan penumpangnya.

Shantal (Mikha Tambayong) tertarik dengan Putu, Inta (Gisela Anastasia) jatuh hati dengan seorang dokter (Michael Zygwain) dan Inta (Meriza Febriani) ternyata kekasih dari Pembajak Serius (Rusmedie Agus).

Dengan begitu banyaknya pemain yang terlibat, dan masing-masing memiliki peran, Ramond Handaya yang menjadi sutradara dsn Penulis Skenario bersama Isman HS, cukup apik merangkai cerita.

Sepanjang film berlangsung, Raymond tetap mampu menjaga ritme adegan dan membuat racikan komedi yang menarik, meski pun ia tetap tak bisa menghindari jurus ampuh dalam memancing tawa penonton, yakni komedi slapstik.

Modal Raymond untuk menggelitik penonton lebih dari cukup. Mayoritas pemain film ini adalah para komika, dan di situ ada pula aktor komedi kawakan, Djadja Mihardja. Namun pemberian porsi dialog kepada seorang bocah terkesan over. Celetukan sang bocah yang berlebihan itu justru agak menagganggu.

Film produksi Citra Visual Sinema ini rencananya akan main di bioskop mulai 18 Januari 2018.

Share This: