Film “Galih dan Ratna”: Kisah Masa Kini, Rasa Tahun 80-an

Adegan film Galih dan Ratna (Foto: G Generation G)
_

Sutradara Lucky Kuswandi mencoba menghidupkan lagi tokoh Galih dan Ratna, melalui film yang diberi judul kedua nama tokoh itu Galih dan Ratna. Dua nama baru dipilih oleh Lucky untuk membintangi filmnya, yakni Reval Hady sebagai Galih, dan penyanyi berbakat Sheryl Sheinafia sebagai Ratna.

Nama Galih dan Ratna sangat terkenal di kalangan remaja tahun 80-an, termasuk kisah cinta mereka yang anggun tapi tidak happy ending. Galih dan Ratna adalah nama dua tokoh dalam film Gita Cinta Dari SMA yang diangkat dari novel laris karya Eddy D Iskandar. Film itu dibintangi oleh dua bintang muda idola remaja waktu itu, Rano Karno dan Yessy Gusman. Tidak heran jika kemudian Gita Cinta Dari SMA menjadi film laris ketiga waktu itu versi PT Perfin.

Dalam filmnya, Lucky menggambarkan kedua tokoh utamanya sebagai anak-anak yang tinggal dengan orangtua tinggal. Galih sudah ditinggal pergi untuk selamanya oleh ayahnya, sedangkan Ratna telah kehilangan ibunya.

Galih tinggal di Bogor bersama ibu dan seorang adiknya. Sebelum meninggal ayahnya adalah pemilik tokoh kaset. Tetapi seiring perkembangan jaman, kaset tidak lagi diminati bahkan sudah tidak diproduksi. Ibunya (Ayu Diah Pasha) menghidupi anak-anaknya dengan membuka usaha catering. Galih sering membantu ibunya untuk mengantar pesanan catering ke pelanggan.

Sementara karena ayahnya (Hengky Tarnado) pengusaha sangat sibuk, Ratna lalu dititipkan kepada tantenya (Marissa Anita) di Bogor. Semula Ratna keberatan tinggal bersma tantenya. Tetapi sikap tantenya yang periang, terbuka dan begitu menyayangi Ratna, akhirnya anak tunggal pengusaha itu kerasan tinggal di Bogor. Apalagi ia kemudian berkenalan dengan pelajar tampan yang pintar, Galih.

Setiap hari hubungan Ratna dan Galih semakin dekat. Ratna mulai menyukai apa yang disenangi oleh Galih, yakni mendengarkan rekaman musik dalam belum pita kaset. Kekaguman Galih kepada almarhum ayahnya membuat dia tetap ingin merawat peninggalan sang ayah, yakni sebuah toko kaset dengan kaset-kaset lagu lawas yang masih tersisa, termasuk sebuah ukulele berwarna hijau muda.

Galih berhasil merebut hati Ratna melalui sebuah mixtape (kaset berisi campuran lagu-lagu yang direkam sendiri) yang diberikan kepada Ratna. Belakangan Ratna mulai sering datang ke toko peninggalan orangtua Galih, dan memiliki ide bagaimana menghidupkan kembali kejayaan masa lampau yang sudah ditinggalkan masyarakat itu.

Berkaca pada pengalaman mereka berdua, Galih dan Ratna lalu mempromosikan pentingnya mixtape untuk menjadi alat menundukan hati orang yang dicintai, di antara teman-temannya. Promosi itu berhasil, dan wabah mixtape melanda sekolah, walau untuk mendengarkan musik mereka kesulitan menemukan alat pemutarnya.

Tidak hanya di sekolah, tokoh kaset peninggalan orangtua Galih pun ramai dikunjungi oleh anak-anak muda yang ingin mendengarkan musik-musik lama dalam bentuk pita kaset. Tetapi itu tidak berlangsung lama, karena pada kenyataannya, pita kaset merupakan media yang telah tergilas jaman.

Galih dan Ratna semakin dimabuk asmara, sehingga melupakan banyak hal. Yang paling parah terkena dampaknya adalah Galih. Prestasinya di sekolah menurun, pengajuan beasiswanya untuk masuk ke perguruan tinggi negeri dicabut.

Pada akhirnya Ratna juga harus menghadapi kenyataan pahit. Kedatangan Galih ke rumah tantenya dan bertemu dengan ayahnya untuk makan makan, menjadi antiklimaks hubungannya dengan Galih. Setelah melihat siapa Galih, di mana ia tinggal, apa pekerjaan orangtuanya dan mimpi-mimpi Galih tentang kaset rekaman, ayah Ratna menilai sebagai pemuda pemimpi, yang tidak punya harapan untuk dapat membahagiakan anaknya kelak.

Rano dan Yessy tampil, menjadi pembuka film ini. Digambarkan Galih yang kini telah tua (Rano Karno) sedang duduk di bangku stasiun. Tidak lama kemudian datang Ratna (Yessy Gusman) mendekati, menyapa, lalu keduanya pergi sambil berpegangan tangan.

Adegan itu dimaksudkan oleh Lucky sebagai kilah balik dari kisah tokoh yang diangkatnya dalam film Galih dan Ratna. Dalam akhir filmnya, Galih dan Ratna berpisah di stasiun karena Galih akan pergi kuliah ke Malang, sedangkan Ratna akan belajar musik di Amerika. Sedangkan dalam versi aslinya (film Gita Cinta Dari SMA), Ratna kuliah ke Yogya, setelah hubungannya dengan Galih tidak disetujui karena beda etnik. Akhir film digambarkan Galih menyusuri rel dengan berjalan kaki.

Dalam “Gita Cinta Dari SMA” digambarkan Galih (Rano Karno) dan Ratna (Yessi Gusman) adalah bintang kelas, baik dalam pelajaran, olah raga maupun sopan santun. Bisa dibilang keduanya adalah pelajar teladan.

Sayang cinta mereka tidak kesampaian karena ayah Ratna yang beretnis Jawa tidak menyetujui hubungan anaknya dengan Galih yang berasal dari Sunda. Ia telah menjodohkan Ratna dengan seorang mahasiswa yang sedang berkuliah di Universitas Gajah Mada. Mereka harus berpisah karena Ratna melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta.

Yang menarik dari Lucky dalam filmnya ini adalah keberanian untuk menampilkan idiom lama, yakni media rekam dalam bentuk pita kaset, yang bagi anak-anak muda sekarang ini jangankan mendengarkan isinya, melihat bentuknya saja pun mungkin belum pernah. Bukankan dengan masuknya era digital, segala jenis pita seluloid habis tergilas jaman?

Apa yang dilakukan Lucky jelas sebuah perjudian. Ia mencoba menghidupkan nuansa 80-an melalui film yang genrenya lebih cocok untuk remaja dan anak-anak muda. Sebagai konsekwensi munculnya kaset, maka lagu-lagu yang dijadikan soundtrack dalam film ini pun mengikuti era keemasan kaset. Lagu “Galih dan Ratna” yang pernah dipopulerkan oleh Chrisye muncul lagi di sini. Lalu ada beberapa lagu lain yang pernah jadi hit di tahun 80-an.

Lucky ingin menggambarkan betapa cinta anak muda itu tidak selalu diwarnai dengan aktivitas yang justru jauh dari kenyataan hidup sebenarnya. Ia memang tidak bisa melepaskan sepenuhnya gambaran stereotype tokoh anak orang kaya dalam diri Ratna, yang tidak menemui kesulitan materi dalam hidup. Tantenya, yang hidup sendiri – entah janda atau tidak pernah kawin – hidup di rumah mewah, segalanya serba ada. Begitu pula ayahnya, seorang pengusaha sukses yang tidak tahu apa usahanya. Penggambaran-penggambaran latar belakang itu diabaikan oleh Lucky, mungkin karena fokusnya bukan di situ.

Dengan ilustrasi musik yang dominan sendu, penggunaan gitar akustik, alunan musik yang menggambarkan suasana sunyi, membuat film ini terkesan jauh dari kehidupan anak-anak muda. Suasana yang digambarkan asing, apalagi dalam pengambilan gambar, kamera banyak menggunakan filter hijau muda, seperti gambar-gambar dalam iklan.

Kelemahan Lucky adalah tidak sabar merangkai proses, sehingga nilai dramatik yang seharusnya membuat perasaan penonton hanyut, kurang tergarap. Lihatlah bagaimana begitu mudahnya Ratna dan Galih jatuh cinta, semudah keduanya berpisah. Di satu sisi terkesan Lucky ingin bertutur secara puitis, tetapi di sisi lain penggambaran itu membuat penonton harus mengerahkan rasa lebih kuat untuk memahami dramaturgi yang ditampilkannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: