Film “Horas Amang”, Kemelut Dalam Keluarga Batak Kota

_

Film yang diadaptasi dari naskah drama dengan judul yang sama karya Ibas Aragi ini mengisahkan tentang Amang Sagala (Cok Simbara) yang hidup menduda dengan tiga anak dewasa, yakni Maruli (Tanta Ginting), Tarida (Novita Dewi) dan Pardamean / Dame (Dendi Tambunan), yang hidup di sebuah rumah Kampung Toba, sebuah perkampungan orang Batak di tengah kota Jakarta.

Bersama Amang tinggal pula adik iparnya, yang biasa dipanggil Namboru (Efi Sofiana) dan anaknya Nauli (Rizma Simbolon), yang merawat anak-anak Amang setelah kematian isterinya, hingga anak-anak itu dewasa.

Ketika anak-anak Amang memiliki dunia sendiri-sendiri. Maruli sukses menjadi dokter spesialis, Tarida sibuk dengan pekerjaannya di kantor, Dame menjadi koki di rumah makan tetapi terlibat perdagangan narkoba.

Masalah timbul ketika suatu hari ada seorang gadis dari kampung, Arta (Vanessa) yang menyusul Dame ke rumahnya. Ketika kecil dulu Arta pernah menolong Dame yang hampir tenggelam di Danau Toba, dan kemudian berjanji akan menikahi Arta duabelas tahun kemudian.

Sementara Maruli diminta untuk menikahi Debora (Manda Cello), anak dari Williams (Piet Pagau) pemilik rumah sakit tempat Maruli bekerja. William bersedia memberikan uang ratusan juta untuk Amang, jika merelakan Maruli menikah dengan anaknya, dengan tatacara dan undangan yang diatur oleh William.

Film ini dibuka dengan kesenian Batak berupa Tari Tortor dan Gondang Batak di halaman rumah Amang Sagala di Kampung Toba. Pan-up kamera yang memperlihatkan sebuah perkampungan padat dengan latar belakang gedung-gedung tinggi menggambarkan Kampung Toba berada di pusat Kota Jakarta.

Belakangan diceritakan bahwa Kampung Toba memang didirikan oleh para perantau Batak awal yang ingin menjadikan Kampung Toba sebagai tempat singgah untuk para perantau Batak yang tidak punya tujuan di Jakarta.

Film ini memang bukan tentang Batak secara utuh, tetapi sebuah film hiburan yang ingin menyampaikan pesan moral dan etika yang mulai luntur di kalangan generasi muda, sehingga mereka lupa asal-usul dan adat istiadatnya. Karakter setiap tokohnya terasa segar, menghibur, dan sesekali membawa ke dalam situasi mengharukan.

Film ini juga mengajak penonton untuk melihat lebih dekat kawasan Danau Toba yang indah, perkebunan jeruk Medan di Brastagi, dan tampilan bentor (becak motor) menggunakan motor tua yang sudah langka di Pematang Siantar.

Share This: