Film “Hujan di Bulan Juni” Yang Tak Seindah Puisinya

_

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya

kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni

dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni

dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

Itulah sebuah puisi karya Sapardi Djoko Damono, seorang penyair kelahiran Surakarta, 20 Maret 1940.

Sapardi adalah seorang pujangga Indonesia terkemuka. Ia dikenal dari berbagai puisi-puisi yang menggunakan kata-kata sederhana, namun menyentuh. Terkesan romantis, tetapi tidak lebay. Sajak-sajaknya selalu aktual ditilik dari persepsktif anak muda.

Kekuatan puisi Sapardi coba dijabarkan ke dalam sebuah karya visual yang memiliki alur, dramatik dan karakter-karakter yang lebih hidup, yakni sebuah film cerita panjang berdurasi hampir 90 menit.

Film ini mengisahkan tentang Sarwono (Adipati Dolken) yang merupakan orang asli Jawa jatuh cinta dengan Pingkan (Velove Vexia), seorang gadis berdarah Manado bermarga Dodokambey. Pingkan merupakan dosen muda Sastra Jepang di Universitas Indonesia.

Pingkan sungguh mencintai Sarwono, walau keduanya memiliki agama berbeda. Pinkan Kristen dan Sarwono seorang muslim. Selain Sarwono, ada dua pemuda lain yang juga jatuh hati kepada Pinkan, yakni Katsuo (Kautaro Kakimoto), mahasiswa Jepang yang kuliah di Universitas Indonesia, dan satu lagi Benny, sepupu Pinkan di Manado.

Suatu ketika Sarwono ditugaskan untuk presentasi ke Universitas Sam Ratulangi di Manado dan ia membawa Pingkan sebagai guide nya disana. Sarwono bertemu keluarga besar Pingkan yang mulai dipojokkan pertanyaan-pertanyaan tentang hubungan mereka.

Di mata keluarga Pingkan, mereka berdua memiliki perbedaan yang besar, tentu saja mereka berdua menyadari perbedaan tersebut. Pinkan kemudian mendapat beasiswa ke Jepang, dan bertemu dengan Kaito, lelaki yang mencintainya.

Seperti judulnya,  Hujan di Bulan Juni, film ini mencoba menerjemahkan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dalam bentuk gambar. Sebagai sebuah film, tentu saja dimensinya menjadi lebih luas.

Penulis naskah Titin Wattimena maupun sutradara Reni Nurcahyo Hestu Saputra mencoba mempresentasikan hasil intepretasi mereka terhadap beberapa puisi Sapardi. Hasilnya adalah kisah cinta Pinkan dan Sarwono, lalu Benny dan Katsuo yang mencoba masuk dalam kehidupan Pinkan.

Titin Wattimena maupun Reni Hestu seolah ingin menegaskan bahwa Hujan di Bulan Juni bukanlah sebuah film drama percintaan biasa, melainkan sebuah visualisasi puisi dari seorang penyair terkenal.

Bahwa kemudian lahir sebuah cerita cinta, karena puisi Sapardi memang tak jauh dari tema-tema cinta, walau pun tidak menggunakan kata-kata yang melambung sebagaimana kata-kata orang sedang jatuh cinta. Maka tidak heran bila lirik-lirik dari beberapa puisi Sapardi juga menjadi bagian dari dialog para tokohnya.

Pemakaian teks di tengah gambar yang bersamaan dengan pengucapan bunyi adalah bentuk ketegasan itu, walau pun pada gilirannya ini terasa berlebihan dan agak mengganggu konsentrasi menonton. Apalagi vocal Velove Vexia terasa kurang greget, membuat puisi Sapardi menjadi hambar.

Titin Wattimena gagal melahirkan sebuah cerita yang kuat. Skenario film ini nyaris kehilangan kekuatan dramaturginya. Cerita mengalir sangat datar, konflik-konfliknya ringan, tidak menggugah emosi.

Bahkan dalam 20 menit pertama, film ini seperti tidak menjanjikan sebuah tontonan yang menarik. Cerita memang coba diberikan sentuhan yang kuat dengan masuknya tokoh Hendry dan keluarganya yang mengusik hubungan Pinkan dan Sarwono, tetapi itu pun, lagi-lagi, tidak berhasil menggugah, karena karakter Pinkan maupun Sarwono yang tidak meletup-letup.

Sebetulnya ada peluang untuk menaikkan tensi dramatik, yakni ketika Tante dari Pinkan (Ira Wibowo) dan suaminya mulai mengusik hubungan Pinkan dan Sarwono yang memiliki keyakinan berbeda.

Mungkin karena itu dianggap sensitif, penulis maupun sutradara memilih jalan aman, dan tidak menjadikan peluang itu sebagai moment untuk memperkuat dramaturgi.

Film ini lebih memilih untuk memperlihatkan keindahan toleransi. Ada tiga agama yang disinggung, yakni Islam, Kristen dan Shinto. Penulis maupun sutradara tidak mau masuk terlalu jauh, dan hanya menjadikan agama sebagai ornament belaka.

Tidak ada perdebatan yang mencerdaskan soal perbedaan keyakinan itu, mungkin karena ini hal yang sensitif. Penulis akhirnya memilih “menyingkirkan” tokoh Sarwono,  dengan mengakhiri perannya di dunia. Tidak ada jawaban dari kisah cinta dua manusia berbeda keyakinan itu.

Menyaksikan Hujan di Bulan Juni tidak seindah menikmati puisi-puisi Sapardi Djoko Damono yang ringan tapi bermakna. Meski pun Sapardi menggunakan kata-kata sederhana, tetapi kekuatannya terasa.

Sedangkan film ini mengalir tanpa greget, meski pun sutradara mencoba menggiring penonton untuk mengikuti perjalanan hidup Pinkan yang penuh cinta terhadap Sarwono atau godaan lelaki-lelaki lain, rasanya terlalu hambar.

Upaya sutradara untuk membuat gambar-gambar puitik juga kurang berhasil. Keindahan gambat yang dibuat terasa artifisial, tidak natural. Lihatlah pada adegan ketika suatu malam Pinkan bersama Sarwono di tepi laut, bentuk bulan yang terlalu besar hingga terlihat detailnya seperti melihat wajah bulan dari planetarium, malah terkesan kurang riil.

Dalam membuat konsep pengadegan dan menjahitnya ke dalam suatu rangkaian cerita, masih terasa sutradara belum begitu terampil. Kelemahan sutradara juga dalam mendirect pemain, sehingga permainan Velove Vexia, Adipati Dolken dan Kautaro Kakimoto terasa datar.

Yang terasa lumayan penampilannya dalam film ini adalah Baim Wong. Dia mampu mengeksploitasi karakter Benny yang egaliter. Masuknya tokoh Oom Tumbelaka (Surya Saputra) yang tengil, juga tidak berhasil memberi sentuhan komedi dalam film ini.

Tokoh Oom Tumbelaka justru terasa teatrikal, dan sama sekali tidak membantu. Menampilkan Sapardi Djoko Damono dalam film ini sebagai tokoh ayah Sarwono atau Yayang C Noer, malah miscasting. Sarwono yang diperankan Adipati Dolken terasa jomplang dengan kedua pemain itu.

Pemilihan pemain (casting) memang persoalan yang tidak pernah selesai dalam film Indonesia. Pemilihan pemain kerapkali dipaksanakan, meski pun tidak pas.

Sajak Hujan Bulan Juni pertama kali dimuat di sebuah Koran, dan dalam waktu beberapa tahun sajak itu berubah ujudnya menjadi lagu, komik, dan buku mewarnai yang disusun oleh seniman lain. Pada tahun 2015 terbit novel Hujan Bulan Juni ditulis sendiri oleh Sapardi, dan mendapat sambutan yang sangat baik dari pembaca.

Setahun kemudian novel itu mulai diproses menjadi film, dan setelah persiapan selesai pembuatan film pun dimulai. Menurut Sapardi, film yang intinya adalah sajak tersebut merupakan hasil alih wahana, yakni pemindahan kisah dari satu jenis seni ke jenis lain yang dikerjakan oleh seniman-seniman film itu sama sekali bebas dari campur tangan saya, sesuai dengan prinsip dasar alih wahana.

“Demikianlah maka film Hujan di Bulan Juni sepenuhnya menjadi milik para seniman yang dengan kreatif telah menghasilkan film tersebut. Sebagai penulis puisi dan novel saya tentu saja merasa bersyukur dan bangga, bahwa ada seniman bidang lain yang menurut pandangan saya telah membantu berlangsungnya proses tradisi kesenian, yang maknanya sangat penting bagi pemeliharaan kebudayaan suatu bangsa,” kata Sapardi. (02)

 

Share This: