“Film Indonesia, Boringlah…”

_

Indonesia dan Malaysia boleh memiliki banyak kesamaan sebagai negara serumpun, terutama dalam bahasa. Tetapi kesamaan itu tidak serta-merta memberi keuntungan kepada kedua negara di sektor produksi yang mengutamakan bahasa dalam penyampaiannya, yakni film bioskop.

Sampai hari ini film untuk bioskop produksi Indonesia maupun Malaysia, masih belum mampu menembus layar bioskop di kedua negara. Kedua belah pihak sudah mencoba, tetapi sampai sekarang masih jauh panggang dari api.

Ketika berada di Kuala Lumpur, Malaysia, balaikita datang ke sebuah bioskop yang terdapat di mal Nu Sentral untuk melihat film-film yang diputar, dengan harapan menemukan film Indonesia. Ternyata tidak ada satu judul pun film Indonesia yang diputar.

“Di sini tak ade film Indonesia. Cube tengok di tempat lain,” kata petugas perempuan di depan pintu masuk.

Sebenarnya bukan tidak ada film Indonesia yang masuk ke Malaysia, tetapi jumlahnya sangat sedikit dan itu sudah cukup lama. Beberapa film Indonesia yang pernah main di Malaysia antara lain Ayat Ayat Cinta, Ada Apa Dengan Cinta, Surga yang Tak Dirindukan, Kalam Kalam Langit dan beberapa lainnya.

Ayat Ayat Cinta itu cetak duit di sini. Surga yang Tak Dirindukan bolehlah,” tapi setelah itu tak tahu lagi apa film Indonesia yang diputar di sini, rasenya tak ade lagi,” kata Dato’ Hjh. Rosnaini Jamil alias Mak Nani (82 tahun), sutradara senior Malaysia berdarah Padang.

Menurut sineas yang menikah dengan tokoh perfilman Malaysia, Jamil Sulong (alm.) itu, minat anak-anak muda di Malaysia untuk menonton film Melayu memang menurun belakangan ini. Yang dimaksud film Melayu adalah film Indonesia dan Malaysia. Teknik yang tidak berkembang dalam pembuatan film, menurutnya, yang membuat film-film Melayu ditinggalkan.

“Tak usahlah membandingkan dengan film Amerika, dengan film film Korea dan China saja sudah ketinggalan. Manalah mau anak-anak yang pakai kereta (mobil) itu mau tengok film Melayu?” katanya.

Apa yang dikatakan Mak Nani mungkin benar. Ketika balaikita melihat ke pawagam (bioskop) di Nu Central, kebanyakan yang diputar film Amerika, yakni Spiderman Homecoming, Gueat in London, Transformer the Last Knight, Wat For the Planet of the Apes, The Mummy Wish Upon, Babby Driver, Despicanle Me 3, Mom dan The Mummy. Selain itu ada 2 judul film India, Jagga Jasoo dan Pandigai.

Dibandingkan film Melayu, film-film India memang lebih punya pasar di Malaysia, karena 7 % dari 31 juta penduduk India merupakan keturunan India. Banyak pula pekerja-pekerja asal India atau Banglades yang bekerja di Malaysia.

“Orang-orang India di Malaysia selalu nonton film India, orang-orang Cina juga nonton film berbahasa Mandarin. Tapi kalau anak-anak Malaysia, mana mau nonton film Melayu, karena tekniknya ketinggalan, dan ceritanya tidak lojik! Masa di tempat tidur saja isteri bersama suaminya harus pakai tudung? (jilbab). Itu kan tidak lojik. Memang di masalah agama itu harus diutamakan, tapi di mana tempatnya?” kata Mak Nani yang ditemui di apartemen tempat tinggalnya di kawasan Damansara, pinggiran Kuala Lumpur, Sabtu (15/7/2017)

Dato’ Hjh. Rosnaini Jamil alias Mak Nani (Foto: HW)

Beberaapa anak muda yang ditemui balaikita mengaku sudah lama tidak menonton film Indonesia. Nuraina bt Suhaimi, mahasiswi Universitas Malaka, salah satunya, mengaku terakhir kali menonton film Indonesia berjudul Surga Yang Tak Dirindukan 2 yang dibintangi oleh Laudya Cynthia Bella dan Ralin Shah. Setelah itu ia tak pernah nonton film Indonesia.

“Film Indonesia boringlah . Ceritanya begitu-begitu saje. Tak ade kemajuan,” katanya.

Nur Amirah Adlina, mahasiawi yang sedang cuti dari kuliahnya di Australia berpendapat cerita film Indonesia mudah ditebak, dan hanya menggambarkan kesedihan. “Paling ada perempuan dikhianati, atau cerite-cerite tentang agame. Semua seperti itu,” ujar Adlina ketika ditemui di mal NU Sentral, Minggu (16/7/2017).

Nuraina dan Nur Amirah, dua mahasiswi Malaysia (Foto: HW)

Berbeda dengan film bioskop, sinetron Indonesia justru mendapatkan tempat di hati penonton. Sinetron Indonesia yang pernah atau sedang main di televisi Malaysia antara lain Yusra dan Yuma, Benci Jadi Rindu, Dia Jantung Hatiku, Pesantren Rock n Roll, dan Anak Jalanan. Ke depan mungkin akan makin banyak lagi sinetron Indonesia di televisi Malaysia. Bagaimana dengan film bioskop?

,

Share This: