Film “Iqro”: Mengaji Dulu Baru Belajar Ilmu Pengetahuan

Sutradara film 'Iqro - Petualangan Meraih Bintang", Iqbal Alfajri (berdiri) dan produser Ir. Budiyati Abiyoga dengan latar belakanga poster film "Iqro" (Foto: HW)
_

Ilmu pengetahuan dianggap sebagai bagian yang sangat penting dalam peradaban manusia, karena ilmu pengetahuan sangat mempengaruhi kehidupan. Bangsa (orang) yang tidak mengenal ilmu pengetahuan akan hidup dalam kegelapan.

Tetapi ada yang lebih penting daripada ilmu pengetahuan (science) bagi seorang muslim, yaitu bisa membaca Al Qur’an terlebih dahulu. Setelah itu barulah berusaha dengan keras mempelajari ilmu pengetahuan. Setidaknya itulah yang ditekankan oleh Opa Wibowo (Cok Simbara) kepada cucunya, Aqilla (Aisha Nura Datau) dalam film Iqro – Petualangan Meraih Bintang.

Aqilla yang tinggal bersama kakek dan neneknya di Bandung, sejak kecil tertarik dengan ilmu pengetahuan. Ia ingin sekali melihat benda-benda angkasa. Apalagi opanya bekerja di Peneropongan Bintan Bosscha (Observatorium Bosscha). Akan tetapi sang kakek belum mengijinkan Aqilla ikut meneropong bintang, kecuali ia bisa membaca Al Qur’an.

Terdorong untuk melihat benda-benda langit melalui Peneropongan Bintang Bosscha, Aqilla belajar mengaji. Setelah bisa mengaji, apalagi mengikuti lomba mambaca Al Qur’an, opanya mengijinkan Aqilla untuk melihat benda langit di Bosscha, di mana dari tempat itu planet terjauh Pluto pun bisa terlihat jelas.

Iqro – Petualangan Meraih Bintang, adalah sebuah film produksi bersama PT Bumi Prasidi Bi-Epsi, PT Chanex Ridhali Pictures dan Keluarga Alumni Masjid Salman ITB (Kalam Salman). Film yang dibintangi oleh Cok Simbara, Neno Warisman, Meriem Bellina, Mike Lucock, Adhitya Putri, Raihan Khan, Naura Datau ini disutradarai oleh Iqbal Alfajri, yang juga menuliskan ceritanya bersama Ius Kadarusman. Iqbal adalah alumni ITB.

Film ini mencoba menggabungkan unsur dakwah dan ilmu pengetahuan, dengan bungkus drama sebagai pengantar. Untuk membuat sebuah tontonan menarik, Iqbal mencoba memasukkan unsur drama yang dibumbui dengan konflik-konflik di dalamnya. Ada beberapa tokoh antagonis yang dimunculkan. Mulai dari pengusaha hotel yang memerintahkan Kang Codet (Mike Lukock) untuk menghabisi Opa, lalu ada bocah Bengal yang diperankan oleh Raihan Khan.

Pesan yang ingin disampaikan melalui film ini sebenarnya bagus: bahwa bisa memahami kebesaran Allah melalui kitab yang diturunkannya (Al Qur’an) adalah pintu masuk untuk memahami ilmu pengetahuan. “Segala ilmu pengetahuan terdapat dalam Al Qur’an,” kata Opa kepada Aqilla.

Pesan menarik lainnya adalah tentang keberadaan Peneropongan Bintang Bosscha yang makin terancam dengan pembangunan fisik di sekitarnya. Padahal untuk meneropong dengan bintang, udara di sekitarnya harus bersih dan tidak telalu banyak cahaya.  Realitasnya, di kawasan Lembang, Bandung Utara yang sejuk,  saat ini tumbuh bangunan-bangunan perumahan maupun villa yang tidak terkendali. Dan itu mengancam keberadaan Bosscha. Dalam film ini digambarkan akan dibangun sebuah hotel di dekat Bosscha.

Sayangnya Iqbal Alfajri sebagai sutradara kurang terampil mengemas cerita ke dalam cara bertutur film. Berbagai informasi yang ingin disampaikan, konflik-konflik yang ditampilkan, dan nilai dramatik yang dibangun, tidak memiliki kedalaman.

Film ini terasa sangat verbal dan miskin bahasa gambar. Skenarionya padat dengan dialog. Iqbal nampaknya ingin mengikuti jejak Riri Riza ketika membuat Petualangan Sherina, baik dalam setting maupun karakter yang ditampilkan, tetapi ia kurang berhasil. Ketidaktrampilan Iqbal membuat film layar lebar, masih perlu diasah lagi. (*)

 

 

 

 

 

Share This: