Film “Istirahatlah Kata Kata”, Napak Tilas Kehidupan Wiji Thukul

balai-kita-photo-yosep-anggi
Yosep Anggi Noen, sutradara film "Istirahatlah Kata Kata"
_
Yosep Anggi Noen, sutradara film “Istirahatlah Kata Kata” (Foto: HW)

Widji Thukul, adalah seorang tukang becak di Solo, juga dikenal sebagai aktivis dan penyair yang hilang di akhir kekuasaan Orde Baru. Diduga Widji sengaja dihilangkan karena terlalu vocal mengkritisi pemerintah waktu itu.

Namun dalam bentuk yang berbeda, sosok lelaki kelahiran Surakarta, Jawa Tengah 26 Agustus 1963 itu kembali hadir. Sosok Wijdi Thukul kini hadir dalam film Istirahatlah Kata Kata karya sutradara Yosep Anggi Noen. Film ini kini mulai hadir di beberapa bioskop di Indonesia.

“Film ini dibuat untuk menapaki sejarah Widji Thukul. Kami ingin menemukan kejelasan. Kami butuh berbagai kejelasan supaya kami tidak tersesat menjalani hidupnya sebagai bangsa. Apabila kita tidak mempunyai kejelasan, sama juga perlahan-lahan menuju kegelapan yang baru,” kata Yosep Anggi kepada wartawan di Jakarta, Senin (17/01/2017).

Film ini dibuat dibuat karena terinspirasi oleh puisi Widji Thukul. Dibintangi oleh Gunawan Maryanto, Marissa Anita, Melanie Subono, Edward Manalu, Arswendi Nasution, Dhafi Yunan dan Joned Suryoatmoko.

“Pembuatan film ini adalah sebagai sikap kami sebagai anak muda, terhadap sejarah yang perlu diungkapkan. Anak muda aja bisa bersikap untuk mengingat, masak negara tidak punya sikap untuk bersikap. Harusnya ada yang tergerak ada yang punya bahasan tentang banyak hal yang masih bisa kita ungkap. Tentang Wiji Thukul masih ada dan tidak ada. Wiji ada tapi dilibas kegelapan,” tambah Yosep.

Pembuatan film ini memakan waktu yang panjang. Tiga tahun untuk melakukan riset, dan satu tahun untuk penulisan skenario. Yosep Anggi Noen harus melakukan napak tilas perjalanan termasuk pelarian Widji Thukul ke kota Pontianak, Kalimantan Barat, karena Widji pernah melarikan diri ke kota itu ketika dikejar-kejar aparat.

Istirahatlah Kata Kata telah diputar di berbagai festival dunia seperti Locarno, Vladivostok, Hamburg, Manila, Busan, dan terakhir Nantes. Di Indonesia sendiri film ini menjadi pemenang kategori Film Panjang Non-Bioskop Terbaik di ajang Apresiasi Film Indonesia 2016 dan nominasi Festival Film Indonesia 2016 untuk Sutradara Terbaik dan Penulis Skenario Asli Terbaik, juga mendapat Hanoman Golden Award dari Yogya Netpac Film Festival.

 

 

Foto: Yosep Anggie Noen (HW).

 

 

 

 

 

 

 

Share This: