Film “Jaga Pocong”: Meminjam Tubuh Untuk Arwah Orang Mati

_

Jaga Pocong karya sutradara Hadrah Daeng Ratu, adalah sebuah film bergenre horor yang mencoba mengumpulkan remah-remah penonton film Indonesia. Dalam tulisan ini sengaja menggunakan istilah remah-remah, karena jumlah penonton film Indonesia dalam beberapa bulan terakhir ini mulai menurun.

Secara artistik tidak banyak yang ditawarkan, tetapi secara tematik, karya Hadrah Daeng Ratu ini agak berbeda dengan film-film horor Indonesia kebanyakan.

Jaga Pocong dibuka dengan adegan di rumah sakit, di mana suster  Mila (Acha Septriasa), berinteraksi dengan pasien bocah yang lemah. Setelah pergantian tugas, ia menyerahkan penanganan pasien bocah itu kepada dua rekannya.

Namun kondisi kesehatan sang pasien memburuk, hingga meninggal dunia. Mila masih sempat melihat dari jendela, jenazah pasien bocah itu ditutupi dengan selimut oleh kedua suster rekannya.

Baru saja hendak meninggalkan rumah sakit, suster kepala memintanya untuk pergi ke rumah pasien yang butuh perawatan khusus. Walau pun berat hati, Mila akhirnya berangkat menggunakan mobil tuanya.

Sampai juga akhirnya Mila di rumah yang dituju. Ternyata pasien yang ingin ditolongnya, sudah meninggal dunia. Oleh Radit (Jack Lee) anak dari pasien yang telah meninggal dunia itu, Mila dimintai tolong untuk memandikan dan memakaikan kain kafan jenazah Sulastri (Jajang C. Noer) ibunya.

Tidak sampai di situ, Mila juga diminta menunggui mayat, sementara Radit pergi ke rumah Pak RT untuk mengurus surat-surat dan rencana prosesi pemakaman. Di situlah dia mulai terjebak dalam situasi menakutkan.

Sejak scene awal dimulai hingga kedatangan Mila ke rumah keluarga Radit, Hadrah seperti menjanjikan sesuatu yang berbeda. Informasi awal mengenai bunyi burung kedasih, yang selama ini dipercaya masyarakat sebagai petanda kematian.

Sinematografi menawan selama Mila dalam perjalanan, musik yang tidak terlalu berisik, seakan membawa penonton untuk masuk ke suatu situasi yang mencekam, sehingga Mila sampai di sebuah rumah tua di yang dikelilingi pohon-pohon besar, tanpa tetangga di kiri-kanan, bangunan besar dengan tanaman rambat di tembok. Semua itu secara psikologis mulai masuk ke dalam fantasi penonton akan sesuatu yang bakal menakutkan di depan.

Sampai di sini belum terjadi apa-apa. Bahkan ketika Radit mengatakan orangtuanya telah meninggal, dan Mila siap-siap meninggalkan rumah besar menyeramkan itu. Tetapi ketika mobil tuanya susah distarter, lalu Radit yang muncul tiba-tiba di balik kaca, hampir saja penonton menebak, sesuatu bakal terjadi pada diri Mila.

Ternyata Radit hanya bermaksud menolong agar mobil Mila hidup. Dan itu terjadi.  Setelah mobil hidup atas bantuan Radit, bukan berarti persoalan selesai. Justru disitulah persoalan dimulai. Karena kemudian Radit meminta Mila memandikan jenazah ibunya, lalu  meninggalkan Mila di rumah besar itu dengan alasan Radit ingin mengurus surat kematian dan rencana pemakaman ibunya.

Di rumah itu, selain Radit yang masih hidup, ada Novi (Aqilla Herby) adik Radit yang masih kecil, yang menggunakan kruk karena kakinya kanannya cacat.

Sepeninggal Radit, mulai teror psikologis dialami oleh Mila – ini juga ditujukan untuk penonton tentunya. Dimulai dari kapas penutup hidung jenazah Sulastri yang copot sendiri, Novi yang berteriak-teriak ketakutan karena melihat bayangan menyeramkan, sampai kemudian muncul pula sosok pocong di rumah tersebut.

Konsentrasi Mila akhirnya terganggu antara melawan ketakutan terhadap munculnya sosok pocong yang meneror dirinya dengan naluri untuk menjaga Novi yang cacat. Dengan kecacatannya Novi ternyata bisa bergerak lincah, sampai akhirnya sang bocah berubah ujud menjadi bocah menyeramkan, dan mengaku sebagai arwah penunggu rumah besar itu.

Kembalinya Radit ke rumah besar itu ternyata tidak menyelesaikan persoalan yang dihadapi Mila, melainkan menambah persoalan baru. Radit akhirnya mengaku bahwa dirinya adalah roh pemilik rumah yang masih bisa berada di dunia karena meminjam tubuh seorang lelaki muda.

Kini ia butuh tubuh wanita hidup untuk menampung roh Sulastri, agak sama-sama bisa hidup lebih lama di dunia. Tubuh yang dibutuhkan itu kini sudah ada: Mila!

Jaga Pocong adalah film layar lebar pertama buat Hadrah Daeng Ratu. Ia mendapat kesempatan setelah Maxima Pictures yang bekerjasama dengan ….Buat Acha Septriasa dan Jack Lee, ini juga film horor pertama mereka.

Sebagai pendatang baru dalam film bergenre horor, Hadrah ingin memberikan sesuatu yang berbeda di tengah begitu maraknya produksi film horor di Indonesia, sehingga orang tidak tahu lagi film horor seperti apa yang ingin dibuat.

Apa yang membedakan karya Hadrah dengan film-film horor kebanyakan? Dalam filmnya ini dia tidak ingin meneror penonton dengan gambar-gambar seram yang muncul tiba-tiba dengan suara musik yang menggelegar, guna menimbulkan efek kejut. Terasa benar betapa Hadrah menghindari itu semua.

Ilustrasi musik dalam film ini terdengar lirih, beberapa bagian terdengar lamat-lamat, sehingga penonton bisa lebih konsentrasi mengikuti alur yang dibangun dan masuk dalam situasi yang mencekam. Konsep tersebut cukup berhasil. Ternyata musik yang lirih lebih mampu menggiring batin penonton untuk masuk ke dalam situasi adegan.

Sayangnya di tengah situasi yang sudah dibangun itu Hadrah terjebak untuk memasukan adegan murahan, yakni munculnya sosok pocong tiba-tiba dengan darah di mulutnya, sampai suatu ketika sang ia benar-benar berada di samping sang pocong yang ujudnya nyata secara fisik. Adegan seperti itu sudah muncul ratusan kali dalam film Indonesia, sehingga jadi kontraproduktif.

Acha Septriasa memperlihatkan kemampuan akting luar biasa. Acha berhasil menghidupkan adegan  panjang yang dimainkannya. Jack Lee, dengan karakternya yang dingin juga berkontribusi penting dalam film ini.

Yang menarik dari film ini adalah bagian akhir yang menjadi jawaban dari seluruh plot yang dibangun. Sejak kedatangannya ke rumah tua itu Mila sebenarnya sudah terjebak ke dalam dunia roh. Baik Radit, Novie maupun Sulastri memang sudah mati sejak lama. Roh mereka menggunakan tubuh orang-orang yang masih hidup.

Pada akhirnya Mila harus menyerah. Dia tak mampu melawan keinginan suami Sulatri, yang menginginkan tubuhnya untuk ditempati roh Sulastri. Roh penghuni tubuh Novi juga bukan anak kecil.

Dalam adegan makan keluarga, di mana tubuh Mila sudah ditempati oleh roh Sulastri, roh penghuni tubuh Novi protes karena harus menempati tubuh anak kecil. Dia minta digantikan dengan tubuh yang sesuai.

Film ini kemudian ditutup dengan kedatangan suster lain sahabat Mila, yang dikirim oleh Suster Kepala. Tanpa perlu menggambarkan detilnya, penonton bisa menebak ke mana cerita film ini akan bergulir.

Share This: