Film “Kafir – Bersekutu Dengan Setan” : Horor Dalam Sinematografi Apik

_

Film horor ternyata tidak semata-mata soal cerita yang seram, meneror penonton dengan ujud yang seram, kemunculannya yang misterius, atau efek kejut dari musik dan tata suara menggelebar yang mengagetkan penonton. Film horor juga bisa dibuat dengan artistik, menggunakan konsep sinematografi yang baik sehingga bisa dinikmati gambar-gambar dan alur ceritanya.

Produser film Ir. Chand Parwez Servia dan anaknya Fiaz Servia, sutradara Azhar Kinoy Lubis, penulis scenario Rafi Hidayat dan Upi Avianto bersama Penata Fotografi Yunus Pasolang, mewujudkan hal itu melalui film berjudul Kafir – Bersekutu Dengan Setan. Tentu saja penata artistik yang mampu menerjemahkan isi skenario, kemampuan sutradara serta para pemain yang cukup lentur memerankan tokoh-tokoh dalam film, sangat membantu, menjadikan sebuah ensamble yang melengkapi untuk mewujudkan sebuah karya sinematografi yang baik.

Korban santet.

Film ini mengisahkan sebuah keluarga dengan dua orang anak yang sudah kuliah. Mereka adalah Herman (Teddysyah) sang kepala, Sri (Puteri Ayudya) ibu dari anak-anak yang sudah besar itu, serta kedua anak mereka Andi (Rangga Azof) dan Dina (Nadya Arina).

Suatu ketika saat sedang makan malam, Herman tiba-tiba kesakitan, tersedak, mulutnya memuntahkan beling dan meninggal dengan cepat. Pasca kematian Herman, keluarga tersebut mulai terusik. Sang Ibu, Sri mendapat teror-teror gaib dan sikapnya mulai aneh dan seringkali ketakutan. Sri lalu mendatangi Jarwo (Sujiwo Tedjo), dukun yang telah dikenalnya. Jaro mengatakan Sri diguna-guna oleh seseorang yang benci kepadanya.

Jarwo lalu datang ke rumah Sri, menerawang mahluk gaib yang suka mengganggu Sri dan menangkapnya. Di rumah tempatnya membuka praktek, Jarwo menunjukkan kepada Sri kemampuannya memusnahkan mahluk gaib yang telah ditangkapnya. Namun Jarwo kalah kuat. Dia mati terbakar.

Melihat ibunya yang sering ketakutan, Andi dan Dina berusaha mencegah agar kejadian yang menimpa Bapak tidak menimpa Ibu. Mereka mencari penyebabnya demi menyelamatkan sang Ibu.

Apik

Film horor merupakan genre yang tak mendominasi perfilman Indonesia dalam lima tahun terakhir ini. Keberhasil film “Pengabdi Setan” menjadi film horor terlaris dengan 4,5 juta penonton, kemudian disusul dengan Danur dan beberapa film horor lainnya yang mencetak di atas 1 juta penonton, membuat produser film di Indonesia ramai-ramai mengangkat tema ini, kemudian melibatkan sutradara-sutradara terbaik di Indonesia. Hasilnya genre horor semakin menarik untuk ditonton, karena memiliki nilai artistik yang semakin bagus.

Kafir – Bersekutu Dengan Setan adalah sebuah film yang dirancang dengan cermat, tidak semata-mata mengandalkan visual maupun audio yang bisa meneror penonton, tetapi bisa memanjakan penonton dengan konsep gambar-gambarnya yang indah, tata cahaya artistic dan komposisi yang betul-betul diperhitungkan. Bagi penggemar fotografi, ini adalah film yang wajib ditonton. Gambar-gambar yang dihasilkan adalah hasil konsep yang matang. Bahkan untuk pengambilan gambar di luar ruangan (outdoor) komposisi dan tone dirancang dengan baik, menggunakan filter pada lensa yang membuat gambar memperkuat suasana pengadeganan.

Walau pun berusaha menghadirkan gambar-gambar menawan, sutradara Azhar Kinoy Lubis tetap mampu menjaga nilai dramatik, plot yang apik dan bisa diikuti. Tidak ada teror penonton melalui kehadiran hantu yang tiba-tiba dengan efek suara keras mengagetkan. Musik yang dikerjakan oleh Anggi Narottama dan Bemby Gusti dalam film ini tidak berlebihan dan dibuat-buat seperti film horor kebanyakan.

Kinoy Lubis lebih menggiring penonton untuk masuk ke dalam suasana adegan yang mencekam, melalui kondisi rumah tua, lampu-lampu temaram, suara-suara lirih dari lagu yang diputar dari piringan hitam maupun piano yang kadang berbunyi sendiri. Kalau pun ada suara gelegar, bukan dari musik yang disetel keras, melainkan bunyi halilintar saat hujan deras. Kilatan-kilatan cahaya halilintar justru menimbulkan kengerian tersendiri.

Kinoy juga mencoba memberikan sentuhan yang jarang muncul dalam film horor Indonesia, yakni gerakan-gerakan benda tanpa sentuhan tangan manusia, dan asap hitam yang masuk ke langit-langit. Efek visual itu cukup memberikan kesan misterus dan menambah tekanan kengerian bagi penonton.

Tata artistik dalam film ini sangat mendukung visualisasi. Gambar terasa penuh, benda-benda yang muncul dalam gambar memperkuat situasi yang ingin ditampilkan. Lihatlah suasana dalam ruang praktek dukun Jarwo yang sangat mistis dan mencekam.

Namun bila kita kembali pada adagium “tidak ada yang sempurna di dunia ini”, tentu saja ada kelemahan juga dalam film ini. Casting (pemilihan) pemain masih menjadi masalah klasik dalam film Indonesia. Para pembuat film masih diliputi sindrom tertentu, sehingga pemilihan pemain untuk memerankan tokoh tertentu sering mengabaikan logika. Dalam film ini, tokoh Herman dan Sri terkesan masih terlalu muda untuk menjadi orangtua bagi kedua anak yang sudah beranjak dewasa seperti Andi (mahasiswa) dan Dyna (pelajar SMA).

Pembuat film masih diliputi ketakutan-ketakutan yang tidak pernah dilawan, yakni memilih pemeran orangtua yang sesuai dengan usia anak-anaknya. Dalam sinetron televisi malah, banyak tokoh orangtua – terutama tokoh ibu – yang nyaris sebaya dengan usia anaknya, hanya diberi warna putih pada rambutnya. Secara fisik tak kalah segar dengan anaknya.

Apakah pemilihan pemain seperti itu kiat untuk berjualan semata atau hanya ketakutan-ketakutan tidak berdasar yang tak berani dilawan, fenomena itu terus berlangsung sampai saat ini. Sejauh ini penonton memang tidak mempersoalkan (atau memang suka) sehingga pembuat film melakukan kompromi yang sesungguhnya telah mengurangi nilai artistik sebuah film.

Dalam film ini untungnya sutradara Azhar Kinoy Lubis mampu mengeksploitir kemampuan pemain sehingga kelemahan penokohan tidak terlalu terasa. Para pemain dalam film ini memang telah mengerahkan segala kemampuannya, sehingga akting mereka terasa total dan sangat wajar dengan karakter yang diperankannya. Semua itu tentu tidak lepas dari kecermatan sutradara.

Kafir – Bersekutu Dengan Setan adalah sebuah film bergenre horor yang berbeda dengan film dengan genre serupa yang telah ada, meski pun ada sedikit yang “menyerupai” film Pengabdi Setan di sini, baik dalam tema maupun pengadegan yang dibuat. Namun itu tidak mempengaruhi keasyikan menikmati film ini.

Bagi penggemar film Indonesia fanatik yang belum menyaksikan film ini, mungkin berpikir ini adalah remix dari film berjudul Kafir (Satanic) karya sutradara Mardali Syarief (almarhum) tahun 2002. Kebetulan produsernya sama dan juga dibintangi oleh Sudjiwo Tedjo.

Dalam film arahan Mardali Syarief itu Sudjiwo Tedjo berperan sebagai Kuntet yang berprofesi sebagai dukun santet. Ia menjual jasa ke berbagai lapisan masyarakat. Hasil kerjanya membuat kehidupannya mewah, tetapi tidak memberi kebahagiaan istri dan anaknya yang dikucilkan dalam pergaulan masyarakat.

“Film ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan film Kafir terdahulu,” kata produser film Ir. Chand Parwez Servia sebelum pemutaran film Kafir – Bersekutu Dengan Setan di Bioskop XXI Epicentrum Jakarta, Kamis (26/7/2018). “Kebetulan saja judulnya sama dan pemainnya juga Sudjiwo Tedjo,” tambah Parwez.

Keduanya memang berbeda. Sutradanya berbeda, sebagian besar pemainnya berbeda dan hasilnya pun berbeda. Kafir – Bersekutu Dengan Setan akan beredar di bioskop pada 2 Agustus 2018. Mungkin saja pendapat penonton juga akan berbeda dengan isi tulisan ini.

 

 

 

 

 

 

Share This: