Film “Moonrise Over Egypt” Kisah Misi Diplomatik H. Agus Salim di Mesir

H. Agus Salim (Pritt Timothy) dalam film "Moonrise Over Egypt. (Foto: TVS Film Indonesia)
_

Di kalangan diplomatik H. Agus Salim dikenal dengan julukan The Grand Old Man, Lelaki Tua yang Hebat. Julukan itu sebagai bentuk pengakuan atas prestasinya di bidang diplomasi. Politisi sederhana dalam sikap dan keseharian ini dikenal memiliki kemampuan diplomasi yang hebat. Karena kemampuannya H. Agus Salim dikirim ke Mesir untuk mencari dukungan luar negeri atas kemerdekaan Indonesia.

Kepiawaian H. Agus Salim sudah diketahui oleh Duta Besar Belanda untuk Mesir. Maka ketika Agus Salim datang ke Mesir, berbagai upaya dilakukan untuk menggagalkan missi diplomatik itu. Salah satu caranya adalah menggunakan mahasiswa Indonesia untuk membocorkan strategi yang akan dipakai oleh Agus Salim bersama AR Baswedan, M. Rasjidi dan Nazir Datuk Pamuntjak.

Kisah perjuangan H. Agus Salim dan kawan-kawan mencari dukungan ke Mesir diangkat dalam film Moonrise Over Egypt oleh PT Tiga Menara Selaras dengan sutradara Pandu Adiputra.

Moonrise Over Egypt (MOE) menceritakan kisah perjuangan H. Agus Salim (Pritt Timothy) yang pada April 1947 bersama 3 utusan diplomatik asal Indonesia pergi ke Kairo. Mereka adalah Abdurrachman Baswedan, Mohammad Rasjidi dan Nazir Datuk Sutan Pamuntjak. Mereka pergi ke Kairo agar mendapat pengakuan De Jure untuk kedaulatan Indonesia dari pemerintah Mesir.

Dalam film Moonrise Over Egypt juga diceritakan mengenai peranan mahasiswa Indonesia di Mesir dalam membantu terwujudnya pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Mesir. Film tersebut sekaligus menjadi potret dari catatan sejarah mengenai besarnya peranan para pelajar Indonesia di Negeri Seribu Menara dalam perjuangan kemerdekaan RI di Timur Tengah.

Tetapi Duta Besar Belanda yaitu Willem Van Recteren Limpurg berusaha menggagalkannya dengan mengancam Mesir bahwa Belanda akan mencabut dukungan kepentingan luar negeri apabila Mesir mengakui kedaulatan Indonesia.

Perjuangan H. Agus Salim bersama diplomat lainnya berhasil. Pada 1 Juni 1947, Perdana Menteri Mahmoud Fahmi Nokrasyi mengeluarkan keputusan Pemerintah Mesir atas kemerdekaan Republik Indonesia, dan pada 10 Juni 1947 perjanjian persahabatan kedua negara ditandatangani oleh Wamenlu RI Haji Agus Salim dan Perdana Menteri Mahmoud Fahmi Nokrasyi.

Dengan demikian, Mesir menjadi negara pertama yang secara resmi mengakui kemerdekaan dan menandatangani perjanjian persahabatan dengan Indonesia.

Persoalan eksekusi

Di tengah bergesernya selera penonton film Indonesia ke arah film-film horor, komedi dan drama remaja, keberanian produser mengangkat film dengan latar belakang sejarah, patut diapresiasi. Ini akan menjadi pertaruhan besar dari aspek bisnis.

Film berlatarbelakang sejarah bangsa akan menjadi sumbangan penting bagi dunia pendidikan, karena melalui film mereka yang ingin mempelajari sejarah kebangsaan, terutama para pelajar dan generasi muda pada umumnya, mendapatkan gambaran yang lebih mendekati sosok dan karakter pelaku sejarah itu sendiri, termasuk kiprahnya bagi negara.

Namun persoalannya adalah, tidak mudah mengangkat kisah nyata yang menjadi bagian sejarah masa lalu ke dalam film. Persoalan terbesar adalah menghadirkan otentitas tempat-tempat yang terkait peristiwa masa lalu ke dalam film. Jaman berubah, segala sesuatu bisa jadi telah berubah.

Persoalan itulah yang dihadapi oleh tim produksi MOE. Tim produksi memang berangkat ke Mesir, khususnya ke Kairo. Tetapi Kairo saat ini sudah banyak berubah dibandingkan ketika H. Agus Salim, AR Baswedan, Nazir Dt. Pamuntjak, M. Rasjidi dan sejumlah mahasiswa Indonesia yang terlibat dalam missi diplomatik di Mesir.

Untuk menggambarkan perjalanan bersejarah H. Agus Salim dan kawan-kawan di Mesir, adegan hanya bisa dilakukan di dalam ruangan. Landscape (outdoor) / adegan luar ruangan, dibuat sangat terbatas dengan sudut pengambilan gambar (angle) yang sempit, sehingga suasana Mesir (Kairo) tidak terasa.

Latar Kairo hanya dimunculkan sesekali dalam beberapa detik, untuk kepentingan transisi adegan. Itu pun kamera diarahkan ke atas sehingga kehidupan Kota Kairo dan hiruk pikuknya tidak muncul. Kalau pun dibuat, mungkin akan janggal karena situasi dan kondisi kota maupun masyarakatnya yang telah jauh berbeda.

Memang ada adegan di atas kapal di atas Sungai Nil, adegan tari perut atau sebuah adegan dengan latar belakang piramid, akan tetapi suasananya terasa sepi, sangat eksklusif, tidak mewakili gambaran Mesir yang lebih utuh

Untuk menyiasati persoalan semacam itu pembuat film biasanya membuat set khusus yang meniru kondisi aslinya, atau melalui CGI. Akan tetapi biaya yang dibutuhkan tentu sangat besar. Dan mayoritas pembuat film di Indonesia tidak mampu melakukannya.

Karena persoalan itulah, pengadegan film MOE menjadi sangat terbatas. Adegan berpindah dari satu lokasi indoor ke lokasi indoor lainnya. Tata artistik yang lemah dalam mendukung pengadegan, membuat adegan-adegan dalam film ini seperti suasana dalam sebuah panggung teater.

Cerita juga mencoba menyelipkan aspek dramatik melalui adegan pertempuran singkat, romans antara mahasiswa Indonesia dan mahasiswi Malaysia, serta adegan pembunuhan agen asing oleh mahasiswa Indonesia yang sempat berkhianat. Tetapi karena pengambilan gambar-gambar yang padat dan set terbatas, bumbu-bumbu itu kurang terasa.

Para pemain sudah berusaha keras menghidupkan karakter dalam film ini. Agak menolong, meski pun mereka tidak terlalu bebas mengekspresikan kemampuan mereka, karena sempitnya ruang yang diberikan untuk melakukan blocking.

Satu hal, lidah H. Agus Salim dalam film ini terdengar sangat Jawa. Apakah memang seperti itu logat H. Agus Salim, karena lelaki yang menguasai tujuh bahasa asing ini cukup lama tinggal di Jawa, atau karena pemerannya, Pritt Timothy, memang orang Jawa.

 

 

 

 

Share This: