Film “Musik Untuk Cinta”: Bagai Mengangkat Batang Terendam

Cecep (Ian Kasela) bersama kekasihnya Dewi (Arumi Bachsin) dalam film "Musik Untuk Cinta" karya sutradara Enison Sinaro. (Foto: Ist)
_

Banyak yang mengatakan, menunggu film jadi, seperti menunggu kelahiran anak: mendebarkan, penuh harapan, tetapi juga diliputi kecemasan. Pendapat itu tidak berlebihan, mengingat tidak semua film berjalan mulus, baik saat produksi berlangsung, maupun ketika masuk dalam peredaran.  Setiap produser tentunya berharap filmnya akan mulus, mulai dari tahap produksi hingga masuk peredaran.

Seperti itulah harapan produser film Musik Untuk Cinta (MUC) produksi PT. Prima Binamedia Film yang disutradarai oleh Enison Sinaro, dengan para pemain terdiri dari Arumi Bachsin, Ian Kasela, Ferry Ardiansyah, Didi Petet, Nini L Karim dan lain-lain. Film itu selesai diproduksi tahun 2011, tetapi baru akan masuk bioskop pada Maret 2017 ini. Saking lamanya tertahan, dua pemain dalam film itu, Didi Petet dan Krisno Bossa, tak sempat menyaksikan hasilnya, karena harus menghadap Yang Kuasa.

“Tadinya film ini hampir tidak diedarkan. Tetapi setelah saya lihat lagi, ternyata ceritanya cukup menarik, sehingga masih mungkin diedarkan,” kata produser MUC, Iman Taufik usai pemutaran film tersebut untuk wartawan, di bioskop Pondok Indah Mal 2 Jakarta Selatan, Senin (6/3) malam.

Film yang menghabiskan biaya sebesar  Rp. 5 milyar itu mengisahkan  tentang seorang gadis bernama Dewi (Arumi Bachin) yang dicintai oleh tiga orang pemuda, yakni Aa Jimmy, seorang pemuda berpenampilan mirip dai kondang, Cecep, petani asal Desa Cilimus, Kuningan, dan Adjis (Ferry Ardiansyah).

Ketiganya bersaing dengan cara masing-masing. Aa Jimmy menebar pesona relijiusnya di hadapan ayah Dewi, Adjis yang anak pedagang  besi tua selalu memamerkan kekayaannya di hadapan ibu kandung Dewi, sedangkan Cecep dengan segala keluguannya berani mendekati Dewi dengan modal nekat. Selama ini Cecep yang petani selalu ditolak cintanya oleh para gadis.

Ternyata gaya Cecep yang lugu, apa adanya, justru menarik hati Dewi. Apalagi Tantenya (Soimah) sangat mendukung pilihan Dewi. Terjadilah persaingan dalam memperebutkan hati Dewi, sampai muncul persaingan tidak sehat antara Adjis dan Cecep, karena sikap Adjis yang arogan didukung oleh ibunya Dewi.

Cecep lalu merantau ke Jakarta hingga berhasil. Adjis mengirim orangnya untuk membuntuti Cecep, termasuk ketika Cecep masuk ke tempat hiburan malam dan berkencan dengan wanita. Tujuannya adalah untuk mencari kesalahan Cecep.

Taktik itu berhasil. Dewi kecewa dengan Cecep, lalumengalihkan perhatiannya kepada Azis. Tetapi Cecep berhasil membuktikan niat busuk Adjis di depan Dewi.

*****

Film ini sebenarnya memiliki modal yang cukup kuat untuk menjadi film menarik. Deretan pemainnya sudah memiliki nama di dunia film dan hiburan tanah air. Sebut saja ada aktor kawakan Didi Petet (almarhum), Nini L Karim, Arumi Bachsin, Ferry Ardiansyah dan Ian Kasela. Meski pun bukan seorang aktor, Ian Kasela merupakan musisi terkenal ketika Radja masih menjadi grup musik idola masyarakat. Aa Jimmy, entertainer muda yang kerap bergaya mirip Dai kondang Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), juga cukup punya nama.

Enison Sinero juga dikenal sebagai sutradara yang memiliki karya yang baik. Namanya melambung ketika membuat sinetron serial Menghitung Matahari yang diangkat dari kisah wartawan Arswendo Atmowiloto ketika ditahan di LP Cipinang. Enison didukung oleh Cinematographer (Director of Photography) kawakan Rudy Kurwet.

Dibuka dengan parade kesenian di Cirebon, film ini sudah memberikan informasi tentang para tokohnya yang akan muncul kemudian. Bagian awal ini cukup menjanjikan bahwa pada menit-menit berikut penonton akan disuguhi film yang berbeda dengan film-film Indonesia kebanyakan. Cerita film ini pun cukup menarik. jika konflik-konflik di dalamnya dikelola dengan lebih subtil. Sutradara tidak terjebak untuk menyodorkan warna komedi, atau terburu-buru untuk mengedepankan konflik antara Cecep dengan Adjis.

Karena ketergesa-gesaan itu cerita menjadi terkesan “gampangan”, tidak membiarkan  penonton untuk menerka-nerka ke mana arahnya. Melihat kapasitas Enison, seharusnya dia mampu membuat film yang jauh lebih baik dari film ini.

Selain itu, antara judul film dan isi cerita pun kurang selaras. Lagu-lagu yang ditampilkan di film, nyaris tidak ada hubungannya dengan cerita. Semua terkesan berdiri sendiri. Sebelumnya sempat ada dugaan tokoh Cecep yang diperankan oleh Ian Kasela akan berubah menjadi penyanyi terkenal, karena sebelumnya penonton sudah diberi informasi, Cecep suka menyanyi dan bermain gitar. Berikutnya bahkan ia bekerja di studio rekaman.

Ternyata dalam cerita, di studio rekaman dia hanya menjadi karyawan, yang memulai tugasnya sebagai office boy (OB) dan kemudian karena prestasinya diangkat sebagai manajer. Tidak sedikit pun digambarkan tokoh Cecep bersentuhan dengan musik.

Memang ada satu scene yang menggambarkan Cecep (Ian Kasela) bersama Grup Radja-nya bernyanyi di atas mobil — lengkap dengan kacamata hitam yang selalu dipakai Ian Kasela di luar film — ternyata itu hanya visualisasi dari khayalan Cecep.

Jika melihat tahun pembuatannya, 2011, dan baru akan diedarkan tahun 2017 ini, sebenarnya rentang waktunya tidak terlalu jauh. Tetapi roh yang ada dalam film itu memang terkesan out of date, mulai dari plot, adegan-adegan yang dibuat maupun pilihan atas lagu-lagu yang ditampilkan. Ian Kasela sendiri sudah berlalu masa keemasannya, sehingga dikhawatirkan akan sulit diterima oleh anak-anak muda, yang umumnya menjadi penonton film drama percintaan.

Mengedarkan film ini setelah sekian lama tertahan memang ibarat mengangkat batang yang terendam. Mungkin batang itu masih utuh. Tetapi proses alam selama di air, membuat batang itu terlihat kurang menarik, selain, sulit untuk diangkat ke permukaan.  Mudahan pepatah itu tidak berlaku buat film ini, sehingga adagium “setiap film memiliki rejekinya sendiri”, akan menghasilkan sesuatu yang berbeda.

Share This: