Film “Nini Thowok”, Masih Seputar Hantu Penasaran

_

Kisah tentang hantu masih menjadi dagangan yang paling depan yang ditawarkan pembuat film kepada penonton. Meskipun ini merupakan genre lama, potensi penontonnya sangat besar. Keberhasilan Pengabdi Setan  dan Danur – I Can See Ghost yang telah meraup jutaan penonton, membuat produser dan sineas tak malu lagi menggarap film horor.

Mengerjakan proyek yang didanai oleh TBS Film, sutradara Erwin Arnada menawarkan sebuah film horor menampilkan hantu yang menjadi bagian dari mitos lokal: Nini Thowok. Sama seperti Jailangkung, Nini Thowok adalah boneka buatan yang dipercaya sebagai media untuk memanggil hantu.

Film garapan Erwin Arnada ini bercerita tentang gadis bernama Nadine (Natasha Wilona) yang baru saja mendapatkan sebuah warisan berupa berupa guest house atau losmen di daerah Solo,  yang bernama Mekar Jiwo. Warisan tersebut ia terima dari sang nenek Eyang Marni (Jajang C.Noer), yang meninggal dunia mendadak.

Bersama adiknya yang benama Naya (Nicole Rossi), Nadine akhirnya memutuskan untuk pindah ke Solo. Karena sang nenek pernah berpesan kepadanya supaya losmen yang merupakan hasil warisan tidak boleh di tutup maupun di jual ke orang lain. Orangtua dari Nadine telah meninggal.

Ada satu hal yang aneh di dalam losmen tersebut yaitu memiliki satu kamar kosong yang tidak boleh dibuka oleh siapaun. Bahkan yang mengejutkannya yaitu tidak ada yang tahu tentang keberadaan dimana kunci pintunya disimpan.

Nadine yang tidak percaya tahayul, melakukan tindakan yang berakibat fatal bagi diri dan adiknya. Ia menemui kejadian-kejadian aneh menyeramkan di hotel warisan sang nenek yang ditinggalinya. Dari peristiwa aneh yang dialaminya itulah kemudian terungkap misteri di balik hotel tua yang ditinggalinya.

Konsep lama

Nini Thowok adalah film horor tentang hantu penasaran. Hantu yang meneror Nadine, di masa lalu adalah sebuah keluarga Tionghoa pemilik rumah yang kemudian jadi hotel Mekar Jiwo. Wanita pemilik rumah kehilangan anak perempuan satu-satunya yang mati ketika terjatuh dari ayunan, dan dikuburkan diam-diam oleh teman mainnya.

Erwin membuka filmnya dengan menarik. Konsep gambar dengan tata cahaya yang apik, musik yang lirih dan suara kuda meringkik, seperti menjanjikan sebuah cerita yang akan membawa penonton pada suasana menyeramkan.

Dari sana ia membawa sang nenek / Eyang Marni (diperankan okeh Jajang C. Noer) masuk ke dalam adegan mencekam. Eyang Marni lalu berhadapan dengan teror mahluk halus, sampai akhirnya tewas dicekik.

Pada scene-scene berikutnya Erwin menambah bobot kengerian melalui apa yang dialami oleh Nadine: Teror mahluk halus sampai hilangnya sang adik, Naya, secara misterius. Dalam pencarian itulah Nadine harus menemui penglihatan-penglihatan mengerikan hingga ia mengalami sendiri teror hantu terhadap dirinya.

Erwin Arnada berusaha keras mengeluarkan jurus agar bisa melahirkan adegan-adegan seram yang menakutkan bagi penonton. Sayang usahanya tidak terlalu berhasil, karena ia hanya bermain pada konsep lama, yakni melalui elemen artistik rumah tua, hantu yang muncul tiba-tiba baik dalam wujud anak kecil maupun hantu berwajah seram, sembari diberi musik menggelegar yang mengagetkan penonton.

Konsep semacam itu sudah banyak ditemui di hampir semua film horor dalam negeri. Tidak banyak kejutan yang ditemui penonton, apalagi Erwin memberikan sentuhan lebih pada aspek drama yang membuat temponya terasa lambat.

Terhadap pemain, Erwin kurang menanganinya dengan cermat. Pemain seperti dibiarkan sendiri mengeluarkan kemampuan aktingnya. Akibatnya Natasha Wilona yang harus bermain dalam scene-scene panjang menjadi kedodoran. Tokoh Nadine yang diperankannya tidak menunjukkan ketakutan luar biasa meski pun berulangkali berhadapan dengan hantu berbeda-beda. Ekspresi Natasha Wilona sangat datar.

Jika tokoh di dalam cerita saja kurang memperlihatkan rasa takut, apalagi penonton.

Ketidakcermatan Erwin juga terjadi dalam menangani pemain lain. Tokoh Pak Rahmat yang diawal kemunculannya terlihat aneh, karena kepalanya miring ke kiri dan tangan seperti penderita stroke, dalam beberapa scene berikut malah seperti orang normal, atau tingkat kemirimgan kepalanya berkurang.

Pemeran Pak Rahmat adalah Slamet Ambari, pemain teater yang bermain luar biasa dalam film Turah. Di sini Erwin gagal memgeksplorasi kemampuan Slamet Ambari. Padahal untuk seorang aktor teater seperti Slamet Ambari, Erwin cukup meminta dan memberinya motivasi, dia pasti mampu menunjukkan kemampuannya.

Lepas dari kelemahan yang ada, Erwin  cukup perduli dengan fotografi dan artistik, sehingga sinematografi yang dihasilkan cukup memikat. Latar belakang Erwin sebagai jurnalis foto membuatnya memiliki selera yang baik dalam kedua aspek itu. Kelebihan itu telah memberi nilai tambah terhadap film ini, sehingga dalam peredarannya 1 Maret 2018 mendatang, diharapkan akan mampu mengangkat film ini. Terlebih genre horor memiliki urat keberuntungan yang bagus.

 

 

Share This: