Film “Pai Kau”, Drama Suspense Rasa Hong Kong

Ketua Setara Institut Hendardi. (Foto: HW)
_

Jelang Imlek, Kaninga Pictures dan Archipelagi Pictures meluncurkan film dengan mengambil tema berlatar belakang cerita keluarga, sosial dan budaya etnis Tionghoa. Sutradara Sidi Saleh menawarkan suatu rasa baru, yang berbeda dalam perfilman Indonesia saat ini.

Film Pai Kau terinspirasi dari sebuah permainan domino yang populer di Tiongkok bernama Pai Gow, sehingga film ini menyuguhkan sajian yang penuh teka teki.

“Pai Kau : A Deadly Message on a Wedding Day” menyuguhkan kisah cinta segitiga dengan dibumbui alur yang mengejutkan, ada romansa, sensualitas, dan action yang merupakan bagian dari genre drama suspense. Dengan gaya film Hong Kong yang kental, film ini dibumbui dengan adegan sensual dan konflik percintaan yang menantang dan kisruhnya kisah cinta yang rumit, sehingga dari suguhan visualnya membuat penonton ikut masuk ke dalam alur cerita yang ada.
Tidak hanya menyuguhkan sensualitas saja, Pai Kau juga memiliki unsur kekerasan khas ala mafia Hong Kong dengan kostum setelan jas rapi dengan kacamata hitam ditambah senjata api.

Dari awal penayangan, film ini sudah menggiring penonton dengan rasa keingintahuan ada apa di scene selanjutnya. Film diawali dengan kisah sekumpulan perempuan yang tinggal bersama dalam satu atap (nge-kost) yang bercakap-cakap tentang kehidupan mereka saat ini. Cerita mengalir sederhana, hingga kemudian hadirlah sosok Lucy (Irina Chiu), putri dari konglomerat sekalian mafia yang disegani bernama Koh Liem (Tjie Jan Tan). Lucy yang sedang mempersiapkan pernikahannya dengan pria yang dicintainya bernama Edy (Anthony Xie), adalah sosok wanita cantik yang selalu dijaga oleh ayahnya.

Edy merupakan pria yang mempunyai karakter Don Juan, yang kerap mempermainkan perempuan tanpa perasaan. Di masa lalunya Edy sempat menjalin kasih dengan Siska (Ineke Valentina), yang sampai jelang hari pernikahan Edy masih memendam rasa cintanya terhadap Edy. Jelang pernikahannya Edy dihadapkan dengan pengalaman yang membuatnya berfikir seribu kali untuk mengkhianati anak seorang mafia. Dia dihadapkan dengan calon mertua yang tak segan membunuh rekan sejawatnya tanpa kompromi di depan matanya sendiri.

Hari pernikahan antara Edy dan Lucy pun semakin dekat, Edy akhirnya harus mencoba berdamai dengan cinta, rahasia dan skandal masa lalunya. Siska yang masih memendam rasa cinta terhadap Edy, merencanakan sebuah cara untuk mengacaukan pernikahan mereka berdua. Yang akhirnya membuat malapetaka tepat di hari pernikahan ke duanya.

Siska muncul di tengah pesta pernikahan dan mengaku sebagai sepupu Edy yang baru datang dari luar kota. Kedatangan Siska ingin menuntut sebuah janji kepada Edy yang diam-diam menyelinap masuk dan berencana menghancurkan resepsi pernikahan yang sedang berlangsung. Dan akhirnya bisa di tebak, sebuah pernikahan yang bahagia dan telah disusun sempurna akhirnya menjadi sebuah pernikahan yang tragis. Yang akhirnya Edy harus memilih diantara Lucy dan wanita dari masa lalunya.

Budaya Tionghoa

Kisah yang diangkat dalam Pai Kau oleh sutradara Sidi Saleh yang juga berperan serta dalam penulisan naskah cerita film ini yang dibantu oleh seorang professional yang bernama Mohamad Ariansah, memang menjadi suatu bentuk kontribusinya terhadap keragaman film Indonesia.

Film yang menceritakan tentang kultur dan budaya China, tak banyak yang tahu bagaimana tata cara tradisi Tea Pai dalam salah satu rangkaian acara dalam pernikahan adat Tionghoa untuk menghormati orang yang lebih tua. Di film ini dengan detail disajikan, meskipun terkesan ‘tidak penting’ namun cukup menarik.

Ketiga karakter utama dalam film Pai Kau yang berdarah Tionghoa pun cukup mewakili bahwa film ini mempunyai rasa yang berbeda dari film-film Indonesia lainnya. Ditambah dengan beberapa tokoh watak lainnya seperti Verdi Solaiman, Tjie Jan Tan, Natasha Gott, dan masih banyak yang lain cocoklah kalau film ini mempunyai gaya film Hong Kong.

Bagi pecinta film suspense (ketegangan) bernuansa Tiongkok atau mafia, kalian akan menemukannya dalam versi Indonesia di film Pai Kau.

Adegan action dalam film inipun terkesan natural, seperti adegan tokoh-tokoh mafia dalam film luar yang menghabisi lawannya secara sadis khas mafia ditampilkan dengan sangat apik tanpa kesan dibuat-buat.

Dalam dunia mafia, apapun yang dirasakan mengancam bisnis dan juga keselamatan kelurga dengan mudahnya menghilangkan nyawa seseorang, sehingga membuat penonton sedikit mengernyitkan kening semudah itu menghabisi nyawa manusia tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Film ini akan mengajak kita melihat sisi manusiawi kisah yang dialami oleh para tokohnya, ambisi, dan perlu berfikir dua kali dalam bertindak. Karena apa yang terjadi hari ini, tak lepas dari apa yang terjadi pada masa lalu. Seperti apa konflik dan intrik di dalamnya, film ini cukup layak di nikmati dan tayang jelang Imlek tanggal 8 Februari 2018. (Dewi)

Share This: